Tren Ekbis

Tersengat Kontroversi Newport, Intip Gurita Bisnis Orang Tua Group

  • Boikot Newport menyeret nama Orang Tua Group. Simak profil bisnis, portofolio produk, kinerja korporasi, kekayaan pemilik, hingga rencana IPO perusahaan.
ot.jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID – Nama Orang Tua Group (OT Group) tengah menjadi sorotan setelah merek minuman beralkohol Newport diterpa kontroversi yang memicu gelombang kecaman dan seruan boikot terhadap seluruh produk perusahaan.

Kontroversi tersebut bermula dari viralnya sebuah video di festival musik The Sounds Project di Ancol, Jakarta, pada 7–9 Agustus 2026. Dalam video itu terlihat adanya tantangan menghafal Surah Ad-Dhuha dengan hadiah minuman beralkohol Newport. 

Aktivitas tersebut memicu kritik luas karena dianggap mencampurkan simbol agama dengan promosi minuman keras. Kasus tersebut tidak hanya memunculkan kecaman dari masyarakat dan tokoh agama, tetapi juga mendorong laporan ke kepolisian serta desakan agar pemerintah mengevaluasi izin edar Newport. 

Di media sosial, seruan boikot kemudian meluas dan tidak hanya menyasar Newport, tetapi juga seluruh produk yang berada di bawah naungan Orang Tua Group.

Sebenarnya, seberapa besar sebenarnya Orang Tua Group, bagaimana kondisi bisnisnya, dan apakah kontroversi ini berpotensi mengganggu ekspansi maupun rencana perusahaan untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI)?

Baca Juga : Attention Economy, Ketika Perhatian Jadi Komoditas Mahal di Era Digital

Raksasa FMCG Hampir Delapan Dekade

Orang Tua Group merupakan salah satu perusahaan Fast Moving Consumer Goods (FMCG) terbesar di Indonesia.

Perusahaan ini berawal dari industri minuman herbal yang didirikan pada 1948 di Medan oleh Chandra Djojonegoro. Dari bisnis keluarga berskala kecil tersebut, perusahaan berkembang menjadi konglomerasi consumer goods yang kini memiliki puluhan fasilitas produksi dan ribuan karyawan.

Bisnis tersebut kemudian diteruskan oleh generasi kedua keluarga Djojonegoro, yakni Hamid Djojonegoro, Husain Djojonegoro, dan Pudjiono Djojonegoro.

Selama hampir delapan dekade, strategi utama OT Group adalah membangun produk konsumsi sehari-hari dengan harga terjangkau namun memiliki volume penjualan tinggi. Pendekatan tersebut membuat berbagai merek milik perusahaan mampu menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Portofolio Produk Sangat Beragam

Berbeda dengan anggapan sebagian masyarakat yang hanya mengenal Tango atau Teh Gelas, sebenarnya portofolio bisnis Orang Tua Group jauh lebih luas.

Produk-produknya tersebar pada berbagai kategori, antara lain:

  • Makanan ringan: Tango, MintZ, Blaster, Oops, biskuit, dan berbagai produk permen.
  • Minuman: Teh Gelas, Crystalin, Top Coffee, Torabika, You C1000, dan Kiranti.
  • Perawatan diri: Formula untuk pasta gigi dan sikat gigi.
  • Minuman tradisional dan beralkohol: Anggur Merah Cap Orang Tua dan Newport.

Diversifikasi tersebut membuat OT Group tidak bergantung pada satu kategori bisnis saja. Ketika salah satu segmen mengalami perlambatan, lini usaha lain masih dapat menopang pertumbuhan perusahaan.

Baca juga : Peta Persaingan Kedai Kopi 2026, Kopi Kenangan Masih Memimpin

Skala Bisnis yang Sangat Besar

Meski berstatus perusahaan tertutup (private company), sejumlah indikator menunjukkan besarnya skala usaha Orang Tua Group. Beberapa indikator tersebut meliputi,

  • Berdiri sejak 1948, sehingga telah beroperasi hampir delapan dekade.
  • Memiliki lebih dari 5.300 karyawan.
  • Mengoperasikan lebih dari 30 pabrik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
  • Memasarkan produk ke lebih dari 34 negara melalui jaringan ekspor.
  • Memiliki jaringan distribusi yang menjangkau jutaan titik penjualan, mulai dari supermarket modern hingga warung tradisional.

Produk-produk OT Group tidak hanya tersedia di supermarket modern, tetapi juga menjangkau warung tradisional hingga pelosok daerah. Model distribusi inilah yang menjadi salah satu kekuatan utama perusahaan dibanding banyak kompetitor.

Dalam industri FMCG, kemampuan mendistribusikan produk secara masif sering kali menjadi faktor penentu keberhasilan, bahkan lebih penting dibanding besarnya kapasitas produksi.

Berapa Nilai Bisnis Orang Tua Group?

Karena belum menjadi perusahaan publik, OT Group tidak wajib membuka laporan keuangan secara rinci. Meski demikian, sejumlah indikator dapat memberikan gambaran mengenai ukuran bisnis perusahaan. Beberapa indaktornya meliputi sebaga berikut,

Kekayaan Pemilik Terus Bertambah

Keluarga Djojonegoro yang mengendalikan Orang Tua Group termasuk dalam daftar orang terkaya Indonesia. Perkembangan kekayaannya menunjukkan tren meningkat, yakni,

  • 2022: sekitar US$1,08 miliar.
  • 2023: sekitar US$1,25 miliar.
  • 2024: meningkat menjadi US$1,33 miliar atau sekitar Rp21,5 triliun.

Kenaikan kekayaan tersebut mengindikasikan bahwa nilai bisnis perusahaan juga mengalami pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara itu, sejumlah lembaga riset memperkirakan pendapatan tahunan perusahaan berada pada kisaran US$100 juta hingga hampir US$1 miliar, bahkan terdapat estimasi yang menempatkan pendapatan mendekati US$582,8 juta pada 2026. Namun angka tersebut merupakan estimasi karena perusahaan tidak mempublikasikan laporan keuangannya secara resmi.

Formula Dominasi Pasar, Tango dan Teh Gelas Jadi Ikon

Keberhasilan OT Group tidak hanya berasal dari banyaknya produk, tetapi juga posisi pasar sejumlah mereknya. Beberapa pencapaiannya antara lain,

  • Formula diperkirakan menguasai sekitar 60% pangsa pasar sikat gigi nasional.
  • Tango menjadi salah satu merek wafer paling populer di Indonesia.
  • Teh Gelas berkembang menjadi pemain utama pada kategori teh siap minum dengan harga ekonomis.
  • Top Coffee menjadi salah satu pemain penting di pasar kopi instan nasional.

Mayoritas produk tersebut mengandalkan strategi volume tinggi, harga terjangkau, serta distribusi yang sangat luas.

Ekspansi Hingga Puluhan Negara

Selain pasar domestik, OT Group juga aktif memperluas pasar internasional. Beberapa langkah ekspansi perusahaan meliputi,

  • Produk telah diekspor ke lebih dari 34 negara.
  • Memperluas penetrasi pasar Asia, termasuk Taiwan.
  • Menjalin kerja sama strategis dengan DH Group asal Korea Selatan pada akhir 2025.
  • Menargetkan pengembangan pasar Korea Selatan melalui distribusi produk seperti BlackJack Cola.

Ekspansi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan OT Group tidak hanya mengandalkan pasar domestik, tetapi juga mulai memperbesar kontribusi ekspor.

Rencana IPO

Rumor mengenai rencana IPO Orang Tua Group sebenarnya telah beredar sejak 2025. Manajemen perusahaan telah mengonfirmasi bahwa perusahaan memang tengah melakukan konsolidasi internal sebagai bagian dari persiapan menuju pasar modal.

Hingga saat ini, kondisi persiapannya meliputim

  • Masih dalam tahap konsolidasi internal.
  • Belum menunjuk underwriter.
  • Belum menunjuk konsultan IPO.
  • Belum menetapkan jadwal resmi pencatatan saham.
  • Masih mempersiapkan struktur keuangan, tata kelola perusahaan, serta valuasi bisnis.

Apabila IPO benar-benar terlaksana, publik untuk pertama kalinya akan melihat secara transparan laporan keuangan Orang Tua Group, termasuk pendapatan, laba bersih, margin keuntungan, hingga struktur utangnya.

Baca juga : 7 Film Indonesia Tayang di Netflix Agustus 2026, Ada Para Perasuk

Kontroversi Newport

Di tengah persiapan IPO, munculnya kontroversi Newport menjadi tantangan baru bagi perusahaan. Dalam industri FMCG, reputasi merupakan salah satu aset terpenting karena berkaitan langsung dengan kepercayaan konsumen.

Gelombang boikot yang muncul di media sosial memang belum dapat dipastikan dampaknya terhadap penjualan. Namun apabila berlangsung dalam waktu lama dan meluas ke berbagai daerah, tekanan terhadap pendapatan dapat mulai terasa, terutama pada produk-produk yang menyasar pasar domestik.

Selain itu, kontroversi juga berpotensi meningkatkan perhatian regulator terhadap promosi minuman beralkohol di Indonesia.

Bagi perusahaan yang sedang mempertimbangkan langkah menuju pasar modal, isu tata kelola perusahaan (corporate governance), manajemen risiko, hingga pengelolaan reputasi biasanya menjadi aspek yang diperhatikan investor institusi.

Menanggapi polemik tersebut, pihak Newport menyampaikan bahwa aktivitas menghafal Surah Ad-Dhuha bukan merupakan program resmi perusahaan.

Penyelenggara menyatakan bahwa,

  • Aktivitas tersebut merupakan tindakan spontan dari pengunjung.
  • Kegiatan tersebut tidak berada dalam pengawasan petugas booth.
  • Newport menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.
  • Perusahaan akan mengevaluasi prosedur pengawasan kegiatan promosi di masa mendatang.

"Kami sebagai penyelenggara acara turut merasa marah, kecewa, dan mengecam perilaku tersebut. Kami tidak pernah dan tidak akan pernah, membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan challenge atau promosi produk dalam bentuk apa pun," ungkap pernyataan yang diunggah di akun @thesoundsproject, Selasa, 11 Agustus 2026.

"Kami tegaskan bahwa kejadian tersebut sepenuhnya di luar arahan, persetujuan, dan kendali kami sebagai penyelenggara acara," tambah tulisan tersebut.