Tren Pasar

Target Laba WIFI 2026 Tembus Rp1,45 T, Ini Penyokongnya

  • Laba bersih WIFI diproyeksikan meroket 178% di 2026. Kinerja nyata Q3-2025 sudah tembus Rp1 triliun, validasi potensi saham milik Hashim Djojohadikusumo.
1765708830-693e941eabd60.jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID – Emiten telekomunikasi, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) milik Hashim Djojohadikusumo diproyeksikan mencetak laba meroket pada tahun 2026 mendatang. Optimisme ini didasari oleh realisasi kinerja kuartal III-2025 yang sangat solid, di mana pendapatan perseroan tercatat telah menembus angka psikologis satu triliun rupiah.

Phintraco Sekuritas memperkirakan laba bersih bakal tumbuh ratusan persen berkat ekspansi agresif yang didukung oleh pencapaian fundamental terkini tersebut. Kinerja impresif per September 2025 menjadi bukti nyata keberhasilan transformasi bisnis digital yang sedang dijalankan manajemen perseroan secara masif.

Prospek cerah ini mendorong analis mempertahankan rekomendasi beli saham WIFI dengan target harga Rp4.700 per lembar saham. Target valuasi tersebut mengindikasikan adanya potensi keuntungan modal yang sangat lebar bagi investor jika dibandingkan dengan harga pasar saat ini yang sedang terkoreksi.

1. Laba Tembus Rp1,45 T

Dampak positif dari skala ekonomi dan normalisasi biaya operasional diprediksi akan mengerek laba bersih perseroan secara signifikan dalam tahun buku ini. "WIFI mampu membukukan laba bersih sebesar Rp1,45 triliun pada 2026, tumbuh 178,1% secara tahunan," tulis analis Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga dalam risetnya, pada Kamis, 22 Januari 2026.

Pertumbuhan laba yang pesat tersebut juga diikuti oleh perbaikan rasio profitabilitas yang sangat mengesankan bagi para pemegang saham perseroan. "Mencapai level 41,4%, mencerminkan efisiensi operasional yang semakin membaik seiring ekspansi jaringan," tambah laporan tersebut mengenai proyeksi margin laba bersih perseroan.

2. Pendapatan Naik 164%

Transformasi bisnis terlihat jelas dari komposisi pendapatan perseroan ke depan yang semakin solid dan didominasi oleh segmen telekomunikasi daripada periklanan. "Pendapatan perseroan diproyeksikan melonjak 164,5% secara tahunan mencapai Rp3,51 triliun pada tahun fiskal 2026," tulis riset tersebut dalam laporannya.

Segmen telekomunikasi diperkirakan akan menyumbang 80% dari total pendapatan, menggeser dominasi bisnis periklanan digital yang sebelumnya menjadi penopang utama kinerja. Hal ini didorong oleh peluncuran produk internet murah yang sukses mendisrupsi pasar dan menjaring jutaan pelanggan baru di pulau Jawa.

3. Valuasi Masih Murah

Target harga Rp4.700 yang ditetapkan didasarkan pada metode valuasi arus kas terdiskon yang mencerminkan potensi pertumbuhan perseroan di masa depan. "Target ini mencerminkan valuasi EV/EBITDA yang atraktif sebesar 8,6 kali untuk tahun 2026, sejalan dengan potensi pertumbuhan perseroan," jelas riset tersebut.

Valuasi ini dinilai masih cukup murah mengingat potensi pertumbuhan laba bersih yang eksponensial dalam beberapa tahun mendatang pasca masuknya investor strategis. Investor memiliki kesempatan mengakumulasi saham di harga bawah sebelum kinerja keuangan terefleksi penuh pada harga pasar di kemudian hari.

4. Risiko Perang Tarif

Meskipun prospeknya cerah, investor tetap diingatkan untuk mencermati risiko investasi seperti tantangan eksekusi di lapangan serta potensi perang tarif operator. "Potensi keterlambatan implementasi jaringan serta risiko perang tarif yang mungkin dilancarkan oleh operator petahana menjadi faktor utama," ungkap riset Phintraco.

Sensitivitas terhadap tingkat adopsi pelanggan juga menjadi aspek yang sangat krusial bagi perhitungan valuasi wajar saham ini ke depannya. "Dalam skenario bear case di mana adopsi lebih rendah 10%, target harga bisa terkoreksi ke level Rp3.500," pungkas Aditya mengingatkan risiko.

5. Realisasi Kinerja Q3-2025

Optimisme terhadap target masa depan ini didukung fakta bahwa pendapatan usaha bersih perseroan telah melonjak 100,99% menjadi Rp1,01 triliun per Kuartal III-2025. Segmen telekomunikasi menjadi kontributor utama dengan porsi mencapai 72,77% dari total pendapatan konsolidasi perusahaan pada periode tersebut.

Sejalan dengan itu, laba neto periode berjalan juga berhasil tumbuh 108,13% menjadi Rp330,18 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Demikian juga dengan aset perseroan bahkan tercatat meroket 331,32% tembus Rp12,54 triliun, mencerminkan struktur permodalan yang semakin kuat dan sangat ekspansif.