Tren Pasar

Target IHSG 10.500, Mirae Asset Jagokan AMMN hingga BRMS

  • Mirae Asset Sekuritas targetkan IHSG ke 10.500 di 2026. Ekonomi diprediksi tumbuh 5,3%. Cek saham pilihan: AMMN, BUMI, BYAN, hingga BRMS di sini.
amman-mineral-amnt (1).jpg
Kegiatan produksi di tambang PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). (Dok/AMMN)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Kamis, 15 Januari 2026, ditutup menguat 0,47% atau naik 43,01 poin ke level 9.075,41. Penguatan ini sejalan dengan indeks LQ45 yang melesat 0,83% ke level 889,43 pada penutupan sesi sore.

TrenAsia.id memantau pergerakan dari total emiten di Bursa Efek Indonesia, di mana saham BBNI memimpin top gainers saham LQ45 pada perdagangang hari ini dengan kenaikan 4,13% ke level Rp4.540. Selain itu, saham CTRA naik 3,87% dan JPFA turut menguat 3,45%.

Kenaikan ini semakin memperkuat optimisme Mirae Asset Sekuritas yang mempertahankan target IHSG di level 10.500 untuk tahun ini. Perusahaan sekuritas tersebut memandang tren pasar saham domestik tetap konstruktif di tengah ekspektasi pertumbuhan ekonomi nasional yang diproyeksikan mencapai 5,3%.

1. Dominasi Saham Tambang dan Emas

Penguatan IHSG yang kini menembus level 9.075 didominasi oleh performa gemilang emiten komoditas seperti AMMN, BUMI, BYAN, dan BRMS. Kenaikan harga komoditas global, khususnya emas, memberikan margin keuntungan yang lebih tebal bagi emiten tersebut di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi dunia.

Saham-saham ini menjadi incaran investor karena sifatnya yang defensif sekaligus agresif dalam mencetak laba saat harga mineral melonjak. Mirae Asset memandang tren kenaikan ini masih akan berlanjut, didorong oleh kebutuhan lindung nilai aset investor global pada instrumen berbasis emas.

Sentimen geopolitik menjadi "bensin" utama yang membuat harga saham pertambangan tetap membara di lantai bursa saat ini. Mirae Asset menjelaskan dalam keterangannya, “Penguatan IHSG sejak awal tahun ditopang saham-saham komoditas dan pertambangan seiring potensi berlanjutnya kenaikan harga komoditas, khususnya emas,” dalam keterangannya pada Rabu, 14 Juni 2025.

2. Prospek Saham Infrastruktur Digital

Sektor telekomunikasi dan infrastruktur pendukungnya diprediksi akan menjadi pendorong utama IHSG berikutnya selain sektor komoditas. Pertumbuhan ekonomi digital yang pesat menuntut investasi jaringan berkelanjutan, yang secara langsung menguntungkan emiten penyedia menara serta operator seluler nasional dalam jangka panjang.

Kebutuhan konsumsi data masyarakat yang terus meningkat menjadi jaminan pendapatan yang stabil bagi perusahaan di sektor ini. Investor mulai melirik saham telekomunikasi sebagai diversifikasi portofolio yang aman namun tetap menawarkan imbal hasil menarik di tengah fluktuasi pasar modal.

Efisiensi operasional dan integrasi layanan digital akan menjadi kunci utama kenaikan valuasi saham-saham di sektor infrastruktur telekomunikasi. Rully menambahkan, “Sektor telekomunikasi dan infrastruktur telekomunikasi juga berpotensi menjadi pendorong IHSG, didukung oleh pertumbuhan ekonomi digital dan investasi jaringan.”

3. Antisipasi Kebijakan Suku Bunga

Pasar saham saat ini sedang mencermati arah kebijakan moneter Bank Indonesia menjelang Rapat Dewan Gubernur pada 20–21 Januari 2026. Peluang penurunan suku bunga dinilai terbatas akibat inflasi yang tinggi serta depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Meskipun ruang pelonggaran moneter sempit, harga saham tetap bergerak positif karena investor mengantisipasi prospek ekonomi yang lebih baik. Pelaku pasar berharap adanya keselarasan antara kebijakan moneter dan fiskal guna menjaga likuiditas di pasar saham agar tetap terjaga dengan kuat.

Kebijakan yang hati-hati dari otoritas moneter justru dinilai memberikan kepastian bagi investor jangka panjang di bursa domestik. Mirae Asset menjelaskan kondisi ini, “Kombinasi inflasi yang tinggi dan depresiasi Rupiah membuat Bank Indonesia memiliki ruang yang terbatas untuk menurunkan suku bunga.”

4. Fondasi Likuiditas Menuju 10.500

Mirae Asset menegaskan bahwa target IHSG ke level 10.500 sangat bergantung pada terjaganya likuiditas pasar dan efektivitas belanja pemerintah. Stimulus fiskal yang berjalan efektif akan memberikan fondasi kuat bagi emiten untuk meningkatkan kinerja keuangan mereka sepanjang tahun 2026 ini.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan mencapai 5,3% menjadi katalis fundamental yang akan menarik kembali aliran dana asing. Konsistensi kebijakan pemerintah dalam menjaga arah ekonomi akan memperkuat kepercayaan investor untuk terus mengakumulasi saham-saham blue chip dan lapis kedua.

Dengan kombinasi performa sektoral yang kuat dan penutupan IHSG yang solid di 9.075, Mirae Asset optimistis pasar saham Indonesia akan terus bertumbuh. Rully menyimpulkan, “Keselarasan kebijakan moneter dan fiskal akan menjadi salah satu faktor kunci yang mendukung target IHSG 10.500.”