Tambang Martabe Segera Beroperasi, Target Saham UNTR Dikerek Segini
- Sucor Sekuritas merevisi naik target saham UNTR menjadi Rp33.300 didorong prospek operasional tambang emas Martabe dan rencana akuisisi aset di Australia.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Prospek bisnis raksasa alat berat dan pertambangan PT United Tractors Tbk (UNTR) dinilai semakin bersinar. Sucor Sekuritas resmi merevisi naik rekomendasi saham UNTR dari sebelumnya hold menjadi buy dengan mematok target harga di level Rp33.300 per saham.
Sikap optimistis ini didorong oleh katalis kuat berupa peluang kembalinya operasional tambang emas Martabe ke dalam portofolio perseroan dalam waktu dekat. Analis Sucor Sekuritas, Yoga Ahmad Gifari, memproyeksikan kepastian terkait operasional tambang Martabe akan terbit dalam rentang satu hingga dua bulan ke depan.
“Setelah izin keluar, masa persiapan reaktivasi (restart) diperkirakan memakan waktu sekitar satu hingga dua bulan tambahan. Dengan estimasi waktu tersebut, operasi Martabe diyakini sudah bisa kembali berjalan pada paruh kedua tahun 2026 dengan target kontribusi awal mencapai 60 ribu ons emas (koz),” jelasnya Yoga dalam risetnya pada Selasa, 17 Maret 2026.
Keyakinan analis terhadap segmen penambangan emas perseroan juga diperkuat oleh masuknya proyek Doup hasil akuisisi. Melalui proyek strategis tersebut, UNTR membidik target produksi emas mulai awal tahun 2029 dengan kapasitas mencapai 150 koz per tahun. Apabila target ini terealisasi, volume tersebut akan melipatgandakan total produksi emas perseroan saat ini yang berasal dari gabungan tambang Martabe dan proyek Sumbawa Jutaraya (SJR).
Tantangan Jangka Pendek Sektor Batu Bara
Kendati mendapat sentimen positif yang masif dari kilau bisnis emas, perseroan tetap dihadapkan pada tantangan jangka pendek dari sektor energi fosil. Rencana pemerintah untuk menekan tingkat produksi batu bara nasional dipastikan membawa dampak langsung bagi operasional UNTR.
Kebijakan pembatasan tersebut diperkirakan akan memangkas volume pengupasan lapisan tanah penutup (overburden/OB) anak usahanya, yakni kontraktor pertambangan Pamapersada, sekitar 13% secara tahunan (year-on-year/YoY). Lebih lanjut, volume penjualan batu bara perseroan diproyeksikan merosot 19% YoY, yang juga berimbas pada penurunan volume penjualan alat berat Komatsu sebesar 7% sepanjang tahun ini.
Sucor Sekuritas telah mengkalkulasi dampak finansial dari dinamika sektor energi tersebut. Penurunan aktivitas penambangan batu bara berpotensi menekan laba bersih perseroan sekitar 4,6%.
Sementara itu, setiap penurunan 10% pada penjualan batu bara dan alat berat Komatsu masing-masing akan menggerus laba bersih sekitar 1,4% dan 1%. Meski demikian, tekanan tersebut diyakini dapat teredam oleh sentimen eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menopang stabilnya harga batu bara global.
Sinyal Pemulihan Kuat di Tahun Depan
Terkait proyeksi performa keuangan, Sucor Sekuritas memperkirakan laba bersih UNTR akan berada di kisaran Rp12,7 triliun pada tahun ini, atau terkoreksi 17% secara tahunan. Penurunan ini dinilai wajar dan mayoritas disebabkan oleh pelemahan volume penjualan emas sekitar 67% YoY, mengingat kontribusi dari tambang Martabe baru akan efektif pada paruh kedua 2026.
Namun, Yoga menegaskan bahwa fase penurunan tersebut hanyalah siklus transisi sementara. Kinerja keuangan UNTR diproyeksikan akan pulih dengan sangat kuat pada tahun berikutnya. Laba perseroan diprediksi melonjak tajam 30% YoY menjadi Rp16,5 triliun, didorong oleh operasional tambang Martabe yang telah berjalan dengan kapasitas penuh.
"Dengan demikian, pelemahan kinerja dinilai bersifat sementara dan lebih dipengaruhi faktor waktu dibandingkan penurunan fundamental bisnis," tulis Yoga Ahmad Gifari dalam risetnya.
Sebagai pelengkap tesis investasi, sentimen positif tambahan bagi saham UNTR juga datang dari sinyal manajemen yang berencana mengakuisisi aset batu bara kokas (coking coal) di Australia. Komoditas ini dinilai sangat strategis mengingat perannya yang tak tergantikan dalam industri baja global.
Dengan demikian, manuver ekspansi ini diyakini akan melengkapi portofolio bisnis batu bara kokas perseroan yang saat ini telah berjalan melalui SMM di Kalimantan Tengah.

Alvin Bagaskara
Editor
