Nasional

Tak Hanya Omicron, Kini Ditemukan Varian COVID-19 IHU di Prancis

  • COVID-19 varian Omicron kini telah menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Namun, belum selesai Omicron, kini justru ditemukan varian COVID-19 IHU di Prancis
Benarkah Varian Baru COVID-19 B.1.1529 Membuat Vaksin Tidak Efektif? Ini Penjelasannya
Benarkah Varian Baru COVID-19 B.1.1529 Membuat Vaksin Tidak Efektif? Ini Penjelasannya (Freepik.com)

JAKARTA - COVID-19 varian Omicron kini telah menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Sementara saat ini varian Omicron semakin meluas dan menimbulkan kekhawatiran, kini justru ditemukan varian COVID-19 IHU di Prancis.

Seperti yang dilansir dari laman The Independent, B.1.640.2 memiliki banyak mutasi dengan total 46 di antaranya pada protein lonjakan. Varian tersebut ditemukan oleh para peneliti di Institut Hospitalo-Universitaire (IHU) di Marseilles.

Para peneliti mengonfirmasi 12 pasien dites positif untuk varian tersebut yang mengandung mutasi yang juga muncul pada varian yang menyebar cepat lainnya. Pasien pertama yang diidentifikasi dengan varian tersebut telah divaksinasi dan baru saja kembali dari Kamerun.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), varian B.1.640.2 telah dalam radar WHO namun hingga saat ini tidak dianggap sebagai varian yang mengkhawatirkan. Menurut Abdi Mahmud, seorang manajer insiden untuk Tim Dukungan Manajemen Insiden COVID-19 WHO mengatakan bahwa virus tersebut juga tetap memiliki banyak peluang untuk menyebar.

Hingga saat ini masih belum diketahui alasan mengapa varian baru ini tidak menyebar seperti Omicron, meskipun jumlah mutasinya sama-sama tinggi. Meskipun varian B.1640.2 membawa banyak mutasi yang sama seperti varian sebelumnya, bisa jadi mutasi sebenarnya justru merusak kemampuan virus untuk bereplikasi atau memasuki sel manusia, sehingga menghambat kemampuannya untuk menyebar dengan cepat.

Meski begitu, untuk saat ini varian Omicron tetap menjadi varian utama yang menjadi perhatian. Varian IHU juga sepertinya belum terlihat dan dilaporkan di negara-negara lain atau diberi label varian yang harus menjadi perhatian oleh WHO.

Sukirno

Sukirno

Editor