Stagnasi Suku Bunga Dinilai Penting untuk Jaga Sektor Riil
- BI Rate tetap 5,75% sejak Juni 2026. Kebijakan ini ditujukan menjaga rupiah sekaligus mendukung kredit, konsumsi, dan sektor riil.

Muhammad Imam Hatami
Author


Nampak aktifitas perdagangan di Pasar Mayestik Jakarta Selatan, Selasa 13 April 2021. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA, TRENASIA.ID – Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan BI-Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 22-23 September 2026. Keputusan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.
BI juga mempertahankan Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%. Dengan keputusan tersebut, BI-Rate telah bertahan di level 5,75% sejak Juni 2026.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listyanto, menilai keputusan mempertahankan BI-Rate juga berkaitan dengan upaya menjaga aktivitas sektor riil agar tetap bergerak.
"Ya, ini juga bagian dari upaya untuk tetap memastikan ekonomi sektor riilnya berjalan," jelas Eko, dalam keterangannya, dikutip Antara, 28 September 2026.
Menurut Eko, keputusan BI menahan suku bunga dapat memberikan ruang bagi perbankan untuk menjaga bunga kredit agar tidak mengalami kenaikan secara tiba-tiba.
Kondisi tersebut dinilai penting bagi sektor yang membutuhkan pembiayaan, termasuk perumahan dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Kalau saya baca dari kebijakannya BI, upaya menahan BI Rate ini bagian dari setidaknya laju kredit itu, bunga kredit itu tidak langsung tiba-tiba pada menaikkan bunga, kira-kira begitu dari perbankan di tanah air," kata Eko.
Baca juga : Aturan Harga Rp1 Berlaku, Cek Daftar Saham yang Langsung ARB
Dengan suku bunga acuan yang tidak berubah, transmisi kebijakan ke bunga kredit diharapkan berlangsung lebih terjaga. Kebijakan tersebut juga berjalan bersamaan dengan kebijakan makroprudensial BI yang diarahkan untuk mendorong penyaluran kredit dan pembiayaan ke sektor prioritas.
BI sendiri menyatakan kebijakan makroprudensial tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dengan menjaga stabilitas sistem keuangan.
Dampak Kebijakan The Fed terhadap Rupiah
Keputusan mempertahankan BI-Rate juga tidak terlepas dari perkembangan kebijakan moneter global, terutama Amerika Serikat.
Eko mengatakan kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) memberikan tekanan terhadap nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun, kondisi tersebut merupakan tantangan yang relatif sulit dihindari negara berkembang ketika suku bunga global berada pada level tinggi.
Dalam RDG September, BI mencatat suku bunga kebijakan AS, Fed Funds Rate (FFR), berada di 3,75%-4%. BI juga melihat kebijakan moneter global masih ketat dan ketidakpastian pasar keuangan tetap tinggi.
Kondisi tersebut membuat BI perlu menjaga keseimbangan antara mendukung pertumbuhan ekonomi dan mempertahankan stabilitas rupiah.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti sebelumnya menyampaikan bahwa level BI-Rate 5,75% masih memadai untuk menghadapi kondisi suku bunga global yang tinggi atau higher for longer.
BI tidak hanya mengandalkan instrumen suku bunga dalam menjaga stabilitas ekonomi. Kebijakan moneter juga dilengkapi dengan kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan, serta kebijakan untuk mendukung UMKM dan perekonomian daerah.
Dalam keputusan September, BI menegaskan bauran kebijakan tersebut terus diperkuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berdaya tahan.
Deputi Gubernur Senior BI Aida S Budiman mengatakan keputusan untuk tidak menaikkan BI-Rate juga mempertimbangkan dampak suku bunga terhadap perekonomian domestik.
Menurut Aida, kenaikan suku bunga dapat memberikan tekanan terhadap harga-harga domestik melalui biaya pembiayaan dan aktivitas ekonomi. Karena itu, BI memilih mempertahankan BI-Rate sembari menggunakan instrumen kebijakan lainnya untuk menjaga stabilitas.
Di sisi lain, BI melihat fundamental ekonomi domestik masih cukup kuat. Permintaan dalam negeri, konsumsi rumah tangga, dan investasi menjadi sejumlah faktor yang menopang aktivitas ekonomi Indonesia.
Baca juga : Rupiah Dekati Rp18.000, Imbal Hasil Obligasi AS Tekan Asia
Ekonomi Indonesia 2026 Diproyeksi Tumbuh 4,9%-5,7%
BI mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 di kisaran 4,9%-5,7%. Dalam perkembangan terbaru, BI mencatat ekonomi Indonesia tetap terjaga dengan konsumsi rumah tangga yang didukung stimulus pemerintah dan mulai membaiknya keyakinan serta ekspektasi pendapatan konsumen. Investasi juga tetap tumbuh, terutama ditopang investasi pemerintah.
Pada kuartal II-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan (yoy), setelah tumbuh 5,61% pada kuartal I-2026. BI menyebut pertumbuhan tersebut antara lain ditopang stimulus fiskal yang mendorong konsumsi pemerintah dan investasi.
Meski demikian, BI masih melihat sejumlah risiko eksternal yang perlu diwaspadai. Tekanan geopolitik dan kenaikan harga minyak global dapat memengaruhi inflasi, nilai tukar, biaya input, serta keputusan investasi.
Pada September 2026, BI mencatat harga minyak sempat mencapai US$132 per barel sebelum turun kembali di bawah US$100 per barel pada 22 September. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi global 2026 diperkirakan hanya sekitar 3%.
Baca juga : Saham Rp1 Berlaku, GOTO Langsung Ambles 14 Persen
Keputusan mempertahankan BI-Rate 5,75% menunjukkan BI menghadapi dua kepentingan secara bersamaan. Di satu sisi, suku bunga perlu cukup untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi. Di sisi lain, kondisi pembiayaan perlu tetap mendukung konsumsi, investasi, kredit, dan aktivitas sektor riil.
Karena itu, BI tidak hanya mengandalkan perubahan suku bunga. Kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan, serta berbagai insentif juga digunakan untuk menjaga momentum ekonomi.
Dengan proyeksi pertumbuhan 4,9%-5,7% pada 2026, perkembangan konsumsi, investasi, kredit perbankan, nilai tukar rupiah, serta kondisi suku bunga global akan menjadi faktor penting bagi arah perekonomian Indonesia hingga akhir tahun.

Chrisna Chanis Cara
Editor
