Spider-Man dan Lion King Belum akan Ada di Disney+
Disney+ sebentar lagi akan segera diluncurkan. Ratusan film dan acara televisi Disney akan muncul di layanan streaming untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade. Namun, beberapa film Disney tidak akan ditemukan di layanan Disney+ untuk sementara waktu ataupun selamanya.

Acep Saepudin
Author


Ilustrasi Disney+
(Istimewa)Jakarta-Disney+ sebentar lagi akan segera diluncurkan. Ratusan film dan acara televisi Disney akan muncul di layanan streaming untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade. Namun, beberapa film Disney tidak akan ditemukan untuk sementara waktu ataupun selamanya.
Beberapa film yang tidak dimasukkan di antaranya adalah Coco, Ralph Breaks the Internet, dan versi live-action “Beauty and the Beast”. Film-film itu tidak akan muncul di platform pada hari pertama perilisan karena perjanjian yang sudah ada sebelumnya dengan layanan streaming lainnya. Hulu, Netflix dan bahkan HBO saat ini menampung puluhan judul film dari Disney.
Film-film lain yang diproduksi bersama studio lain, dan ada masalah hak yang harus diselesaikan jika Disney ingin memasukkannya ke Disney+. Terutama dua film “Spider-Man” dari Sony yang terhubung ke Marvel’s Cinematic Universe (MCU).
Lalu ada film-film terbaru seperti “The Lion King“, “Maleficent: Mistress of Evil” dan “Aladdin“. Film-film ini tidak akan segera hadir karena tidak tersedia untuk versi home. Pada akhirnya film-film ini akan ditambahkan ke katalog.
Kategori terakhir mencakup hampir semua jenis film yang terlalu kontroversial atau terlalu kuno untuk ditampilkan di layanan streaming. Yakni, Disney “Song of the South.”
Film ini merupakan gabungan antara aksi langsung dengan film kartun yang bercerita tentang Paman Remus. Dia adalah seorang pendongeng yang menceritakan kisah kelinci penipu, rubah jahat dan beruang bodoh kepada seorang anak laki-laki.
Film ini menuai kontroversi sejak rilis pada 1946. Para kritikus film menyebutkan penggambaran film ini adalah tentang orang Afro-Amerika sebagai seorang yang rasis dan ofensif. Hal itu tentu menimbulkan persepsi negatif terhadap orang kulit hitam di Amerika.
“Song of the South” juga dikritik karena dianggap membenarkan sistem perkebunan pasca-Perang Saudara di Selatan. Karena itu, Disney belum pernah merilis film pada format video rumahan apa pun di AS.
Namun, mereka yang pernah menjelajahi taman hiburan Disney dapat mengenali Br’er Rabbit, Br’er Fox, dan Brer Bear dari perjalanan Gunung Splash. Film ini juga merupakan sumber untuk lagu ikonik “Zip-a-Dee-Doo-Dah” yang kemudian memenangkan Academy Award untuk lagu asli terbaik.
“Song of the South” tidak akan muncul sama sekali pada layanan streaming Disney+. Disney sedang membersihkan beberapa film lain sebelum rilis mereka di Disney+.
Karakter Jim Crow dari “Dumbo” yang asli akan diedit dari versi film yang akan muncul di layanan streaming. Adegan “blooper” dalam post credit “Toy Story 2” di mana karakter prospektor Stinky Pete terinterupsi sembari menawarkan dua boneka Barbie dalam film “Toy Story” berikutnya.
“Hal ini menunjukkan Disney menangani masalah ini dengan sangat serius,” kata Shawn Robbins, kepala analis di Boxoffice.com. Ia menyebutkan keputusan Disney adalah untuk menjauhkan “Song of the South” dari platformnya dan mengubah beberapa filmnya.
Selain itu, live-action “Lady and the Tramp” yang datang ke Disney+ akan menciptakan kembali “Siamese Cat Song“. Film ini diaransemen dengan bantuan penyanyi dan penulis lagu Janelle Monae.
