Tren Ekbis

SMAR dan INET Rilis Obligasi, Peluang Cuan Selain Saham

  • Obligasi dan sukuk korporasi jadi alternatif investasi di tengah risiko saham. Simak peluang dari emisi SMAR dan INET awal 2026.
Saham
Tak Mau Saham Terlalu Berisiko? Obligasi Jadi Alternatif (istimewa)

TRENASIA.ID - Diversifikasi portofolio kerap menjadi pekerjaan rumah bagi investor pemula. Di satu sisi, deposito menawarkan rasa aman dengan imbal hasil terbatas. Di sisi lain, saham menjanjikan potensi cuan tinggi namun dibarengi volatilitas tajam. Di antara dua kutub itu, obligasi dan sukuk korporasi tampil sebagai jalur tengah yang patut dilirik.

Memasuki pekan ketiga Januari 2026, pasar surat utang diramaikan aksi dua emiten dengan karakter berbeda: PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) dan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET). Keduanya menawarkan imbal hasil di atas Surat Berharga Negara (SBN), dengan risiko yang masih terukur.

SMAR: Refinancing untuk Stabilitas

SMAR menerbitkan obligasi dan sukuk ijarah senilai total Rp1,2 triliun. Perseroan menawarkan kupon 6,2% untuk tenor 5 tahun dan 6,5% untuk tenor 7 tahun. Dalam prospektus ringkas, mayoritas dana hasil emisi dialokasikan untuk refinancing.

Dana tersebut digunakan melunasi pinjaman bank di BCA serta membayar obligasi lama yang jatuh tempo tahun ini. Strategi perputaran utang ini lazim dilakukan korporasi besar untuk menjaga arus kas dan memperkuat struktur neraca. Bagi investor, skema ini mencerminkan profil defensif dengan fokus pada stabilitas di tengah fluktuasi harga komoditas.

BACA JUGA:

Strategi Saham untuk Modal Kecil - ibukotakini.com

INET: Pendanaan Ekspansi Agresif

Berbeda arah, INET memilih langkah ekspansif. Emiten teknologi ini menerbitkan surat utang senilai Rp1 triliun, termasuk seri jangka pendek 370 hari. Seluruh dana hasil emisi disalurkan ke anak usaha untuk membangun jaringan Fiber to The Home (FTTH) berbasis Wi-Fi 7 di Kalimantan Barat.

Artinya, obligasi INET berfungsi sebagai motor pertumbuhan, bukan alat menutup kewajiban lama. Risiko tentu lebih tinggi karena kemampuan bayar akan sangat bergantung pada keberhasilan proyek di lapangan. Namun, peringkat kredit single A memberi sinyal tingkat keamanan yang masih memadai bagi investor dengan selera risiko menengah.

BACA JUGA:

Pelajar PPU Unjuk Bakat di Honda Xpression Talent - ibukotakini.com

Catatan untuk Investor

Penerbitan SMAR dan INET menegaskan satu hal: investor wajib mencermati “Rencana Penggunaan Dana” sebelum membeli obligasi atau sukuk. Apakah dana dipakai untuk restrukturisasi keuangan atau membangun aset produktif baru akan menentukan profil risiko instrumen tersebut.

Selain itu, periksa peringkat kredit dari lembaga pemeringkat seperti Pefindo. Peringkat investment grade, seperti idAA atau idA, mencerminkan kemampuan bayar yang solid. Investor pemula sebaiknya menghindari surat utang berperingkat spekulatif hingga toleransi risikonya lebih matang.

Pada akhirnya, obligasi dan sukuk korporasi bukan hanya instrumen utang. Keduanya menjadi sarana partisipasi publik dalam denyut ekonomi nasional mulai dari menopang stabilitas industri sawit hingga mendorong pemerataan infrastruktur digital di luar Jawa. Pilihannya kembali ke profil risiko dan tujuan portofolio masing-masing investor. ***

Tulisan ini telah tayang di ibukotakini.com oleh Ferry Cahyanti pada 26 Jan 2026 

Tags: