Tren Ekbis

Sisi Gelap Bisnis Data Center

  • Data center Indonesia menghadapi tantangan konsumsi listrik dan air yang besar seiring pertumbuhan AI. Ini dampak dan solusi green data center.
DATA CENTER.jpg
Ilustrasi data center (TrenAsia)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Bisnis data center menjadi salah satu infrastruktur penting dalam pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Namun, di balik ekspansi pusat data yang semakin pesat, industri ini menghadapi persoalan lingkungan yang tidak kalah besar, terutama konsumsi listrik dan air.

Pertumbuhan data center semakin meningkat seiring dengan berkembangnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), komputasi awan, layanan digital, hingga kebutuhan penyimpanan data.

Masalahnya, data center membutuhkan listrik dalam jumlah besar untuk menjalankan server sekaligus membutuhkan sistem pendingin agar perangkat dapat beroperasi secara stabil.

International Energy Agency (IEA) mencatat konsumsi listrik data center dan jaringan transmisi data global telah mencapai sekitar 1%–1,5% dari total konsumsi listrik dunia.

Fasilitas hyperscale bahkan dapat membutuhkan daya hingga puluhan hingga ratusan megawatt. Semakin besar kebutuhan komputasi, semakin besar pula kebutuhan energi dan pendinginan.

Baca juga : Nyaris Stagnan, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini?

Mengapa Data Center Membutuhkan Listrik Sangat Besar?

Konsumsi energi menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan data center di Indonesia. Berdasarkan data Ember, kebutuhan listrik data center Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 6,7 terawatt-hour (TWh). Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 26 TWh pada 2030.

Lonjakan konsumsi tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan listrik yang harus disiapkan seiring ekspansi industri pusat data.

DBS Indonesia memperkirakan Indonesia membutuhkan tambahan kapasitas listrik sekitar 2.000 megawatt (MW) untuk mendukung pertumbuhan data center.

Sementara itu, IDPRO memproyeksikan kebutuhan daya data center Indonesia dapat mencapai sekitar 2,3 gigawatt (GW) pada 2030. Dalam skenario tertentu, kebutuhan tersebut bahkan berpotensi mencapai 11,7 GW.

Kapasitas data center yang terpasang pada 2025 berada di kisaran 650 MW. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 1,67 GW pada akhir 2026.

Kebutuhan energi juga diperkirakan terus meningkat dalam jangka panjang. Konsumsi listrik nasional Indonesia sendiri diproyeksikan meningkat dari sekitar 300 TWh menjadi lebih dari 1.800 TWh pada 2060.

Baca juga : Mengenal Megathrust Indonesia: 14 Segmen dan Potensi Gempanya

Mengapa AI Membuat Data Center Semakin Boros Energi?

Perkembangan AI menjadi salah satu faktor yang membuat kebutuhan energi data center meningkat.

Beban kerja AI membutuhkan daya komputasi jauh lebih besar dibandingkan aktivitas digital konvensional. Server yang digunakan untuk menjalankan model AI membutuhkan prosesor dan akselerator dengan kemampuan komputasi tinggi.

Sebagai gambaran, pencarian internet tanpa AI diperkirakan membutuhkan sekitar 0,28 watt, sedangkan pencarian menggunakan AI dapat mencapai sekitar 3,7 watt.

Artinya, kebutuhan energi pencarian berbasis AI dapat lebih dari 13 kali lipat dibandingkan pencarian konvensional. Kebutuhan daya pada rak server juga mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya satu rak server dapat beroperasi dengan kebutuhan sekitar 3 kilowatt (kW), kebutuhan tersebut kini dapat mencapai sekitar 120 kW.

Angka tersebut diperkirakan dapat meningkat hingga sekitar 600 kW per rak pada kuartal III 2026. Kondisi ini membuat teknologi pendinginan menjadi semakin penting. Semakin tinggi kepadatan komputasi, semakin besar panas yang dihasilkan server sehingga semakin besar pula kebutuhan sistem pendinginnya.

Boros Air, Emisi Besar

Masalah konsumsi listrik data center tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan energi, tetapi juga emisi karbon.

Sistem kelistrikan Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap pembangkit berbasis energi fosil. Karena itu, peningkatan konsumsi listrik data center dapat meningkatkan emisi apabila pertumbuhan kebutuhan listrik tidak diimbangi dengan energi terbarukan.

Emisi karbon di wilayah Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) bahkan diproyeksikan meningkat sekitar tiga kali lipat, dari sekitar 5 juta ton CO2 menjadi 19 juta ton CO2. Artinya, ekspansi data center perlu diikuti dengan strategi dekarbonisasi agar pertumbuhan ekonomi digital tidak menghasilkan beban lingkungan yang semakin besar.

Selain listrik, air menjadi persoalan penting dalam operasional data center. Sistem pendinginan konvensional tertentu menggunakan air untuk membuang panas dari peralatan data center. Ketika kapasitas pusat data semakin besar, kebutuhan air untuk pendinginan juga dapat meningkat.

Sementara itu, estimasi David Mytton dari Imperial College London menunjukkan kebutuhan air sekitar 25,5 juta liter per tahun untuk setiap 1 MW kapasitas dalam skenario tertentu.

Untuk data center berukuran menengah, kebutuhan air bahkan dapat mencapai sekitar 1,1 juta liter per hari atau setara dengan 300.000 galon.

KPMG Indonesia memperkirakan kebutuhan air industri data center di Indonesia dapat mencapai sekitar 86,5 miliar liter pada 2030 dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan atau CAGR sekitar 18%.

Besarnya angka tersebut membuat konsumsi air menjadi salah satu isu utama dalam pengembangan data center berkelanjutan.

Baca juga : Geothermal Flores dan Maori: Dari Audit Menuju Kepemilikan

Bagaimana Masa Depan Data Center Indonesia?

Pertumbuhan data center Indonesia diperkirakan masih akan berlangsung seiring dengan meningkatnya penggunaan AI, cloud computing, layanan digital, dan kebutuhan penyimpanan data.

Namun, ekspansi tersebut menghadirkan tantangan baru. Data center membutuhkan listrik dalam jumlah besar dan sistem pendinginan yang dapat meningkatkan konsumsi air. 

Karena itu, konsep green data center menjadi semakin penting. Pembangunan pusat data ke depan tidak hanya perlu mempertimbangkan kapasitas listrik, konektivitas, dan lokasi, tetapi juga daya dukung lingkungan.

Penggunaan energi terbarukan, REC, liquid cooling, immersion cooling, sistem daur ulang air, audit air, serta transparansi penggunaan sumber daya dapat menjadi bagian dari standar baru industri.

Tantangan terbesar Indonesia adalah memastikan pertumbuhan ekonomi digital tidak menghasilkan biaya lingkungan yang lebih besar bagi masyarakat.

Data center memang menjadi tulang punggung ekonomi digital. Namun, tanpa efisiensi energi dan pengelolaan air yang baik, pertumbuhan industri tersebut berisiko menghadirkan persoalan baru berupa peningkatan emisi dan tekanan terhadap ketersediaan air bersih.

Dengan demikian, masa depan bisnis data center Indonesia bukan hanya soal seberapa besar kapasitas yang dapat dibangun, tetapi juga seberapa efisien listrik dan air dapat digunakan untuk menjalankannya.