Singapura Bikin Ladang Pertanian Vertikal Terbesar di Dunia
- Singapura membuka ladang pertanian dalam ruangan vertikal berbasis kecerdasan buatan terbesar di dunia, di tengah meningkatnya tantangan ketahanan pangan.

Distika Safara Setianda
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Singapura mengganti target keberlanjutan pangan “30 by 30” dengan sasaran baru yang lebih spesifik berdasarkan jenis pangan, seiring produsen lokal menghadapi keterbatasan lahan serta tingginya biaya operasional.
Pada 2019, negara kota tersebut menetapkan target untuk memproduksi secara lokal 30% kebutuhan gizi penduduknya pada 2030, dikutip dari Bloomberg. Dalam target yang diperbarui, pertanian lokal diarahkan untuk memenuhi 20% konsumsi serat nasional dan 30% kebutuhan protein pada 2035.
Kelompok serat mencakup sayuran berdaun dan berbuah segar, kecambah, serta jamur, sementara sumber protein meliputi telur dan makanan laut.
Negara kota ini memperoleh lebih dari 90% kebutuhan pangannya dari negara lain, dan hanya 1% lahannya yang dialokasikan untuk pertanian, sehingga rentan terhadap guncangan pasokan dan perubahan iklim.
“Sektor agri-pangan lokal, seperti sektor serupa di negara lain, telah menghadapi berbagai tantangan, gangguan rantai pasokan, tekanan inflasi pada biaya energi dan tenaga kerja, serta lingkungan pembiayaan yang lebih sulit,” kata Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Grace Fu pada KTT Inovasi Agribisnis Asia-Pasifik.
“Kondisi tersebut menyebabkan tertundanya pengembangan sejumlah pertanian dan membuat sebagian pelaku usaha keluar dari sektor ini, meski di saat yang sama masih muncul sejumlah perusahaan rintisan baru,” imbuhnya.
Untuk menekan biaya produksi pangan dalam negeri, pemerintah tengah mengkaji kemungkinan uji coba fasilitas bersama bagi pertanian dan pelaku usaha, berupa bangunan indoor milik negara dengan lingkungan terkendali yang dirancang agar lebih tahan terhadap perubahan iklim.
Pemerintah juga akan melengkapi upaya peningkatan produksi dalam negeri dengan memperluas sumber impor unggas serta menambah cadangan beras nasional.
Baru-baru ini, Singapura membuka ladang pertanian dalam ruangan vertical berbasis kecerdasan buatan terbesar di dunia, di tengah meningkatnya tantangan ketahanan pangan dan menyusutnya industri pertanian lokal.
Didukung 69 paten yang menopang berbagai inovasi untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman sekaligus menekan biaya, operasional pertanian ini mengandalkan teknologi kecerdasan buatan, robotika, dan otomatisasi, dilansir dari The Strait News.
Greenphyto diresmikan Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam di kawasan Jurong West pada Rabu, 7 Januari 2026. Produk selada dan kailan hidroponik hasil budidaya Greenphyto telah beredar di pasaran sejak 2025 dan tersedia di 95 gerai supermarket di seluruh Singapura.
Untuk harga, satu kemasan kailan seberat 200 gram dipasarkan sekitar 3,95 dolar Singapura, sedangkan selada Mambo dijual dengan harga sekitar 3,20 dolar Singapura.
Greenphyto juga memproduksi baby spinach, arugula, dan berbagai jenis sayuran berdaun lainnya. Fasilitas ini saat ini memiliki lima lantai dan direncanakan untuk dikembangkan hingga mencapai 14 lantai.
Nilai investasi proyek ini mencapai sekitar 80 juta dolar Singapura. Pada kapasitas penuh, Greenphyto ditargetkan mampu menghasilkan hingga 2.000 ton sayuran per tahun, meskipun saat ini volume produksinya masih berada di kisaran 200 ton per tahun.
Peresmian pertanian vertikal ini, yang dihadiri oleh Presiden Tharman Shanmugaratnam, terjadi pada saat prospek beberapa pertanian vertikal, baik di sini maupun secara global, terlihat suram untuk beberapa waktu.
Selama beberapa tahun terakhir, pertanian lokal telah dilanda serangkaian kemunduran, mulai dari penurunan produksi hingga penutupan. Pada November 2025, terungkap bahwaPerusahaan pertanian agritech Growy Singapore sedang dalam proses likuidasi dan akan segera ditutup.kurang dari setahun setelah pembukaan resminya.

Pada November lalu, Growy Singapore memasuki proses likuidasi, VertiVegies membatalkan rencana pengembangan pertanian vertikal pada 2022, sementara I.F.F.I menghentikan operasional fasilitas produksinya yang mencakup area seluas 38 ribu meter persegi.
Berbagai hambatan yang dihadapi sektor ini antara lain kebutuhan modal yang tinggi, gangguan rantai pasok selama pandemi, serta menurunnya kepercayaan investor.
Sebelumnya, pada akhir 2025, pemerintah Singapura mencabut target “30 by 30” dan menggantinya dengan sasaran baru produksi serat dan protein pada 2035. Kondisi tersebut justru memperkuat komitmen pendiri Greenphyto, Susan Chong, untuk menempuh strategi yang berbeda.
Ia menegaskan pemanfaatan teknologi menjadi kunci untuk menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan mutu, sehingga produk pangan lokal mampu bersaing dengan komoditas impor.
Biaya energi menjadi tantangan utama dalam pengembangan pertanian dalam ruangan. Riset Greenphyto mampu menekan konsumsi energi hingga 30% dengan memanfaatkan lampu LED hemat energi yang pencahayaannya disesuaikan dengan setiap fase tumbuh.
Untuk melindungi limbah, proses produksi disesuaikan dengan permintaan ritel seperti FairPrice, Sheng Siong, Meidi-Ya, dan Far East Flora. Chong menekankan keberlanjutan usaha tidak ditentukan oleh jaminan pasar, melainkan oleh kualitas dan relevansi produk bagi konsumen.
Greenphyto mengoperasikan lima ruang produksi tanpa tenaga kerja manusia, masing-masing dilengkapi dua menara hidroponik sepanjang 118 meter dengan ketinggian 23,3 meter. Sistem robotik yang menyerupai derek berfungsi memantau kondisi tanaman, memindahkan baki semai, serta mengatur penataan rak secara otomatis.
Desain Menara terinspirasi dari sistem pergudangan logistik dengan lebih dari 500 rak yang dilengkapi lampu LED. Setiap baki tanaman meneraima formula nutrisi yang disesuaikan dengan fase pertumbuhannya.
Perusahaan juga membuka kantor penjualan di Malaysia untuk kebutuhan ekspor serta kantor di Belanda guna memasarkan sistem pertaniannya. Keunggulan lainnya terletak pada perangkat lunak berbasis AI yang mampu memantau kondisi tanaman secara langsung dan memprediksi hasil panen.
Setiap hari, para pegawai menerima laporan AI mengenai kondisi tanaman dan rekomendasi tindak lanjut. Chief Digital Officer Greenphyto Liow Wei Quan menjelaskan, sistem tersebut membantu manajemen dalam menentukan waktu panen atau penyesuaian terhadap parameter ruang tanam.
Pengembangan AI ini mendapat dukungan dari Infocomm Media Development Authority melalui Digital Leaders Programme, dan pendanaan Agri-food Cluster Transformation Fund yang dikelola Singapore Food Agency. Ke depan, Greenphyto juga menyiapkan spin-off teknologi bernama Arber.ai yang akan menawarkan layanan konsultasi digital lintas sektor.
Sementara itu, Menteri Negara Senior bidang Keberlanjutan dan Lingkungan, Zaqy Mohamad, menilai penerapan efisiensi energi dan otomatisasi menjadi keunggulan tersendiri. Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga harga tetap kompetitif seiring skala bisnis yang membesar.
Chong mendirikan Greenpac, sebuah perusahaan pengemasan berkelanjutan, sebelum memasuki pasar hidroponik pada tahun 2011, ketika ia mendirikan sistem hidroponik pertamanya di perusahaan tersebut.
Dia mengajari warga di Taman Jurong cara menanam sayuran menggunakan sistem hidroponik. Menurut The Business Times, Tharman, yang saat itu menjabat sebagai anggota parlemen Jurong, menyarankan agar dia menyumbangkan sistem tersebut sebagai gantinya.
Chong kemudian mendaftarkan Greenphyto sebelum menjual Greenpac. Selain penjualan sayuran hijau, pendapatan perusahaan berasal dari sistem pertanian dan perangkat lunak AI-nya.

Distika Safara Setianda
Editor
