Siapa Penguasa Bisnis Beras di Indonesia?
- Presiden Prabowo menyebut satu penggilingan padi meraup untung Rp2 triliun per bulan. Simak daftar perusahaan besar yang menguasai bisnis beras nasional.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai besarnya keuntungan yang diraih salah satu penggilingan padi menjadi sorotan publik.
Ucapan tersebut memunculkan kembali pertanyaan lama mengenai siapa sebenarnya pihak yang menguasai bisnis beras nasional dan bagaimana struktur industri pangan strategis tersebut.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyampaikan laporan yang diterimanya mengenai besarnya keuntungan salah satu pelaku usaha penggilingan padi. "Saya dapat laporan satu penggilingan padi untung tiap panen Rp2 triliun per bulan. Satu, Rp2 triliun per bulan." kata Prabowo
Pernyataan itu muncul di tengah langkah pemerintah yang semakin agresif menata tata niaga beras nasional, termasuk membongkar dugaan praktik beras oplosan, beras fortifikasi, permainan mutu, hingga indikasi kartel yang diduga melibatkan sejumlah perusahaan besar.
Data yang dihimpun menunjukkan bahwa bisnis beras Indonesia masih didominasi oleh korporasi swasta berskala besar yang menguasai sebagian besar rantai pasok, mulai dari pembelian gabah, penggilingan, pengemasan, distribusi, hingga penjualan di pasar modern.
Baca juga : Dokter Hewan 24 Jam Makin Dicari di Singapura
Swasta Kuasai 92% Pasar Beras Nasional
Struktur industri perberasan Indonesia menunjukkan konsentrasi penguasaan yang cukup tinggi di tangan pelaku swasta.
Hingga Agustus 2025, produksi beras nasional tercatat mencapai sekitar 24,95 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 92% stok beras nasional dikuasai sektor swasta, sementara pemerintah melalui Perum BULOG hanya menguasai sekitar 17,2% stok nasional atau setara 4,2 juta ton.
Meski persentasenya relatif kecil dibanding total stok yang beredar, BULOG tetap menjadi pemilik stok beras tunggal terbesar di Indonesia dengan jaringan gudang dan distribusi paling luas di seluruh daerah.
Dominasi swasta juga terlihat dari struktur industri penggilingan. Sekitar 1.056 penggilingan padi besar menguasai sekitar 60% produksi gabah nasional, menjadikan perusahaan-perusahaan besar memiliki posisi strategis dalam menentukan alur distribusi maupun pembentukan harga.
Besarnya konsentrasi pasar tersebut membuat kebijakan pemerintah terhadap sektor perberasan sangat bergantung pada koordinasi dengan pelaku usaha besar.

Wilmar Group Jadi Salah Satu Raksasa Bisnis Beras
Salah satu pemain terbesar dalam bisnis beras nasional adalah Wilmar Group milik konglomerat Martua Sitorus. Martua Sitorus dikenal sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Kekayaannya pada 2022 diperkirakan mencapai US$3,1 miliar atau sekitar Rp47,5 triliun.
Melalui anak usahanya PT Wilmar Padi Indonesia (WPI) yang berdiri pada 26 April 2018, Wilmar memperluas bisnisnya ke sektor penggilingan hingga distribusi beras nasional.
Produk beras premium Wilmar paling dikenal melalui merek Sania, yang telah memiliki jaringan distribusi luas di pasar modern Indonesia.
Selain Sania, grup ini juga memiliki sejumlah merek pangan lain seperti Sovia, Fortune, dan Siip, yang semakin memperkuat posisi Wilmar sebagai salah satu pemain terbesar industri pangan nasional.
Namun, Wilmar bukan hanya pemain beras Indonesia. Secara global, perusahaan ini merupakan raksasa agribisnis yang bergerak di berbagai komoditas seperti minyak sawit, gula, tepung, hingga produk pangan olahan.
Sepanjang 2025, Wilmar Group membukukan pendapatan sekitar US$70,41 miliar dengan laba bersih mencapai US$1,55 miliar. Angka tersebut merupakan kinerja grup secara keseluruhan dan bukan khusus bisnis beras di Indonesia.
Baca juga : XL Raih Predikat Jaringan Terbaik di Indonesia 2026
Buyung Poetra Sembada Bangun Bisnis dari Toko Beras Kecil
Nama besar lainnya adalah PT Buyung Poetra Sembada Tbk dengan kode saham HOKI. Perusahaan ini didirikan oleh Sukarto Bujung, yang memulai usahanya dari sebuah toko beras kecil di Palembang pada 1977.
Seiring waktu, perusahaan berkembang menjadi salah satu produsen beras premium terbesar di Indonesia melalui merek Topi Koki yang dikenal luas masyarakat.
Meski memiliki pangsa pasar besar, kondisi keuangan perusahaan beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan. Pada 2024, Buyung Poetra membukukan pendapatan sekitar Rp1,29 triliun dengan rugi bersih Rp6,1 miliar.
Situasi memburuk pada 2025 ketika pendapatan turun menjadi Rp1,211 triliun, sementara kerugian melonjak menjadi sekitar Rp34,24 miliar, atau membengkak lebih dari sebelas kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Nama perusahaan ini juga masuk dalam daftar perusahaan yang diduga terkait dengan penyelidikan kasus beras oplosan.
FKS Food Perluas Bisnis Beras Premium
Pemain besar lainnya adalah PT FKS Food Sejahtera Tbk berkode saham AISA. Perusahaan yang dipimpin Joko Mogoginta tersebut sebelumnya dikenal sebagai produsen berbagai produk pangan sebelum memperluas bisnisnya ke sektor beras melalui anak usaha PT Dunia Pangan.
Melalui lini bisnis tersebut, perusahaan memasarkan sejumlah merek beras premium seperti Maknyuss, Bola Deli, dan Shiroku. Ekspansi tersebut menjadikan FKS Food sebagai salah satu pemain penting dalam pasar beras premium nasional.
Baca juga : Agenda Ekonomi Penting Agustus yang Potensi Gerakkan IHSG
Food Station Jadi Penyangga Pangan Jakarta
Selain perusahaan swasta, terdapat pula Food Station Tjipinang Jaya, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Perusahaan ini memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan beras, khususnya untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Food Station juga memiliki sejumlah merek beras seperti Food Station, Setra Pulen, serta Setra Ramos yang dipasarkan melalui berbagai jaringan ritel. Dari sisi keuangan, perusahaan membukukan pendapatan sekitar Rp2,03 triliun pada 2023.
Sementara pada 2024, laba bruto perusahaan mencapai sekitar Rp64,9 miliar, turun sekitar 13% dibandingkan laba bruto 2023 yang mencapai Rp74,8 miliar.
Total aset Food Station pada 2024 tercatat mencapai sekitar Rp3,59 triliun. Nama perusahaan ini juga termasuk salah satu yang dipanggil aparat penegak hukum dalam penyelidikan dugaan beras oplosan.
Japfa hingga Belitang Panen Raya Ikut Meramaikan Pasar
Selain nama-nama besar tersebut, terdapat sejumlah perusahaan lain yang juga memiliki posisi penting dalam industri beras nasional. Di antaranya adalah Belitang Panen Raya (BPR) yang dikenal memproduksi merek Raja Platinum dan Raja Ultima.
Kemudian terdapat Sentosa Utama Lestari, bagian dari Japfa Group, yang memasarkan beras premium dengan merek Ayana. Di pasar modal, terdapat pula PT Wahana Inti Makmur Tbk dengan kode saham NASI, yang juga bergerak dalam bisnis pengolahan dan perdagangan beras.
Namun kondisi keuangan NASI juga belum menunjukkan perbaikan. Sepanjang 2025, perusahaan mencatat pendapatan sekitar Rp59,6 miliar, turun signifikan dibandingkan Rp87,9 miliar pada tahun sebelumnya. Sementara itu, rugi bersih perusahaan mencapai sekitar Rp3,69 miliar.
BULOG Jadi Penyangga Cadangan Beras Pemerintah
Di sisi pemerintah, Perum BULOG masih menjadi tulang punggung penyediaan cadangan beras pemerintah. Meski hanya menguasai sekitar 17,2% stok nasional, BULOG memiliki fungsi strategis dalam operasi pasar, stabilisasi harga, hingga penyaluran bantuan pangan.
Sepanjang 2024, BULOG membukukan pendapatan sekitar Rp60,291 triliun dengan laba bersih mencapai sekitar Rp66,12 miliar. Peran BULOG menjadi semakin penting ketika terjadi gejolak harga maupun gangguan pasokan akibat cuaca atau kondisi pasar.
Dominasi korporasi besar dalam bisnis beras kini menjadi perhatian aparat penegak hukum. Kasus yang paling menyita perhatian adalah dugaan praktik beras oplosan, yakni pencampuran beras berkualitas lebih rendah yang kemudian dipasarkan sebagai beras premium.
Dalam penyelidikan tersebut, Satgas Pangan Polri memeriksa 26 merek beras premium yang diduga tidak sesuai standar mutu maupun label yang dicantumkan.
Penyelidikan kemudian berkembang dengan pemanggilan sejumlah perusahaan besar oleh Kejaksaan Agung maupun Bareskrim Polri. Perusahaan yang dimintai keterangan antara lain,
- PT Wilmar Padi Indonesia;
- PT Food Station Tjipinang Jaya;
- PT Belitang Panen Raya;
- PT Unifood Candi Indonesia;
- PT Subur Jaya Indotama; dan
- PT Sentosa Utama Lestari (Japfa Group).
Selain dugaan manipulasi mutu, aparat juga mendalami kemungkinan adanya praktik kartel dalam tata niaga beras nasional.
Dugaan tersebut mengarah pada kemungkinan pengaturan distribusi maupun stok oleh pelaku usaha tertentu sehingga menciptakan kelangkaan di pasar dan mendorong kenaikan harga beras.
Konsentrasi Pasar Jadi Sorotan Pemerintah
Pernyataan Presiden Prabowo mengenai keuntungan mencapai Rp2 triliun per bulan yang diraih satu penggilingan padi memperlihatkan besarnya potensi keuntungan dalam industri beras nasional.
Di sisi lain, struktur pasar yang didominasi oleh korporasi besar membuat pemerintah semakin fokus melakukan pembenahan tata niaga, meningkatkan transparansi distribusi, serta memperkuat pengawasan terhadap mutu dan harga beras.
Meski sejumlah perusahaan besar bahkan mencatatkan kerugian di laporan keuangannya, kekuatan mereka dalam menguasai rantai pasok dari penggilingan, pengemasan, distribusi hingga pemasaran tetap menjadikan mereka pemain utama dalam industri pangan nasional.
Dengan penyelidikan yang masih berjalan terkait dugaan beras oplosan dan indikasi kartel, tata kelola industri beras diperkirakan akan menjadi salah satu fokus utama pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan, melindungi petani, sekaligus memastikan konsumen memperoleh beras sesuai mutu yang dijanjikan.

Muhammad Imam Hatami
Editor
