Siapa A.S. Rosyid? Pemikir Ekologi yang Masuk 22 Sosok Reset Indonesia
- Siapa A.S. Rosyid? Kenali profil penulis asal Lombok yang masuk daftar 22 Sosok Reset Indonesia beserta gagasan ekosentrisme dalam Islam dan karya-karyanya.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Nama A.S. Rosyid tercantum dalam poster bertajuk"22 Sosok Reset Indonesia", sebuah publikasi yang menampilkan tokoh-tokoh dengan kiprah dan gagasan yang dinilai membawa perubahan mendasar bagi Indonesia.
Dalam poster tersebut, A.S. Rosyid atau Afrizal Sulthon Rosyid berada di urutan keempat dari total 22 tokoh yang ditampilkan. Publikasi itu merupakan bagian dari kampanye bertema Reset Indonesia yang diterbitkan oleh Ekspedisi Indonesia Baru.
Masuknya nama Rosyid dalam daftar tersebut menarik perhatian karena selama ini ia lebih dikenal sebagai penulis, pengajar esai, sekaligus pemikir ekologi yang banyak menghubungkan isu lingkungan dengan agama, budaya, dan politik pengetahuan.
Profil A.S. Rosyid
A.S. Rosyid merupakan penulis asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dalam berbagai karya dan forum diskusi, ia dikenal aktif mengembangkan gagasan mengenai etika lingkungan hidup melalui perspektif Islam.
Fokus pemikirannya berada pada hubungan antara manusia, alam, dan agama. Berbeda dengan pendekatan yang menempatkan manusia sebagai pusat kehidupan, Rosyid menawarkan sudut pandang bahwa manusia merupakan bagian dari komunitas ekologis yang memiliki tanggung jawab menjaga keberlangsungan alam.
Selain menulis, Rosyid juga aktif mengajar penulisan esai dan nonfiksi naratif serta terlibat dalam berbagai kegiatan advokasi lingkungan berbasis masyarakat.
Sejumlah karya Rosyid banyak membahas persoalan lingkungan dari perspektif keislaman. Buku pertamanya, Melawan Nafsu Merusak Bumi yang diterbitkan EA Books pada 2022, mengulas hubungan antara ajaran Islam dan gerakan pelestarian lingkungan.
Dalam buku tersebut, Rosyid mengkritik minimnya keterlibatan umat Islam dalam gerakan hijau sekaligus menyoroti sejumlah penafsiran keagamaan yang dinilainya kurang berpihak pada kelestarian bumi.
Pada 2025, ia kembali menerbitkan Al-Qur'an Bilang, Kepentingan Bumi Harus Didahulukan melalui Intrans Publishing. Buku ini memperluas pembahasannya mengenai etika lingkungan dengan mengaitkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan konsep ekosentrisme, yaitu pandangan yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik dan hak untuk tetap lestari, bukan sekadar sumber daya bagi manusia.
Baca juga : Profil Bupati Siak Afni Zulkifli, Eks Jurnalis Pendobrak Sentralisasi
Gagasan Ekosentrisme dalam Islam
Salah satu pemikiran utama A.S. Rosyid adalah reinterpretasi hubungan manusia dengan alam dalam Islam.
Menurutnya, Al-Qur'an tidak semata-mata menempatkan manusia sebagai pusat kehidupan, melainkan lebih banyak memuat pesan mengenai keseimbangan dan keberlangsungan alam. Karena itu, ia berpendapat bahwa pembacaan terhadap Al-Qur'an dapat mengarah pada pendekatan yang lebih ekosentris daripada antroposentris.
Rosyid juga mengkritik penafsiran populer mengenai konsep manusia sebagai khalifah di bumi yang kerap dipahami sebagai legitimasi untuk menguasai alam. Dalam pandangannya, manusia seharusnya diposisikan sebagai bagian dari komunitas ekologis yang hidup berdampingan dengan makhluk lainnya.
Ia menilai bahwa pendekatan antroposentris berpotensi membenarkan eksploitasi lingkungan apabila dianggap menguntungkan manusia. Sebaliknya, pendekatan ekosentris mendorong penghormatan terhadap hak-hak alam tanpa selalu mengaitkannya dengan kepentingan manusia.
Aktif dalam Literasi dan Advokasi Lingkungan
Di luar aktivitas menulis, Rosyid juga terlibat dalam berbagai gerakan sosial dan pendidikan. Ia mengembangkan Gumi Project, sebuah proyek yang mendokumentasikan budaya masyarakat Sasak sekaligus menggali pengetahuan lokal mengenai hubungan manusia dengan alam.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi dasar dalam berbagai advokasi terkait perlindungan ruang hidup masyarakat di Nusa Tenggara Barat.
Rosyid juga mendirikan Kelas Tapak, ruang belajar yang berfokus pada pengembangan kemampuan menulis esai dan nonfiksi naratif.
Selain itu, ia kerap menjadi pembicara dalam berbagai forum literasi dan kebudayaan, termasuk Makassar International Writers Festival 2025 dan Jakarta International Literary Festival (JILF) 2025.
Dalam sejumlah forum tersebut, ia banyak mengangkat isu mengenai dampak kapitalisme terhadap cara manusia memandang kemakmuran, pangan, hingga relasi dengan alam.
Baca juga : Alarm Bahaya OJK, Anak Muda Indonesia jadi Generasi Pengutang
Salah satu contoh yang sering ia ceritakan adalah tradisi masyarakat adat Sasak ketika memanen madu. Dalam praktik tersebut, tetua adat terlebih dahulu meminta izin kepada koloni lebah menggunakan bahasa Sasak sebelum mengambil madu. Tradisi itu, menurut Rosyid, mencerminkan hubungan yang setara antara manusia dan alam, bukan relasi yang bersifat eksploitatif.
Masuknya A.S. Rosyid dalam daftar 22 Sosok Reset Indonesia memperlihatkan bahwa gagasan mengenai lingkungan, agama, dan budaya semakin mendapat ruang dalam diskursus publik.
Melalui buku, forum diskusi, serta aktivitas advokasi, Rosyid menawarkan perspektif baru tentang bagaimana ajaran Islam dapat dibaca sebagai landasan etika lingkungan yang menempatkan bumi sebagai bagian penting yang harus dijaga.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap krisis iklim, kerusakan lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan, pemikiran yang dibawanya menjadi salah satu kontribusi intelektual yang memperkaya perdebatan mengenai hubungan antara manusia, agama, dan alam di Indonesia.

Muhammad Imam Hatami
Editor
