Kolom & Foto

Setelah InfraNexia: Apa Langkah Indonesia Selanjutnya?

  • Pembentukan InfraNexia menandai langkah penting dalam restrukturisasi industri telekomunikasi nasional. Namun, pertanyaan strategis muncul setelahnya: apa langkah berikutnya?
trenasia

trenasia

Author

<p>Ilustrasi mena</p>

Ilustrasi mena

(Istimewa)

Pembentukan entitas infrastruktur seperti InfraNexia menandai langkah penting dalam restrukturisasi industri telekomunikasi nasional. Dengan memisahkan dan mengonsolidasikan aset jaringan fiber optik, Indonesia mulai membangun fondasi yang lebih kuat bagi infrastruktur digital nasional.

Namun, pertanyaan strategis yang lebih besar justru muncul setelahnya: apa langkah berikutnya? Jika tidak disertai kebijakan lanjutan yang tepat, konsolidasi infrastruktur jaringan justru berpotensi menjadikan Indonesia hanya sebagai pasar digital yang besar, bukan sebagai pusat kekuatan digital kawasan.

Saat ini sebagian besar arsitektur ekonomi digital dunia masih didominasi oleh platform teknologi global. Infrastruktur komputasi, cloud, kecerdasan buatan, hingga pusat data skala besar sebagian besar berada dalam ekosistem perusahaan teknologi internasional. Banyak negara berkembang akhirnya hanya menjadi konsumen dari layanan digital tersebut.

Indonesia berada pada persimpangan penting. Dengan jumlah pengguna internet yang sangat besar serta ekonomi digital yang terus berkembang pesat, Indonesia memiliki daya tarik pasar yang luar biasa bagi perusahaan teknologi global. Namun, daya tarik pasar saja tidak cukup untuk membangun kemandirian digital.

Di sinilah pentingnya melihat InfraNexia bukan sekadar sebagai restrukturisasi bisnis jaringan, tetapi sebagai titik awal pembangunan arsitektur infrastruktur digital nasional.

Infrastruktur digital modern pada dasarnya memiliki beberapa lapisan utama: jaringan backbone, pusat data, cloud computing, serta infrastruktur komputasi untuk kecerdasan buatan. 

Jika Indonesia hanya menguasai lapisan jaringan tetapi tidak mengembangkan lapisan komputasi dan data, maka nilai ekonomi digital yang jauh lebih besar akan tetap berada di luar negeri.

Beberapa negara mulai menyadari hal ini. Uni Eropa mendorong konsep digital strategic autonomy. India membangun pusat data dan cloud nasionalnya sendiri. Negara-negara Timur Tengah bahkan mulai mengembangkan kawasan komputasi kecerdasan buatan berskala besar untuk menjadi pusat teknologi regional.

Indonesia sebenarnya memiliki peluang yang tidak kecil untuk mengambil peran serupa di kawasan Asia Tenggara. Posisi geografis yang strategis, potensi energi yang besar, serta pasar digital domestik yang luas merupakan kombinasi yang jarang dimiliki negara lain.

Namun, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan jika pembangunan infrastruktur digital dipandang sebagai agenda strategis nasional, bukan sekadar peluang bisnis sektor teknologi.

Setelah konsolidasi jaringan melalui InfraNexia, pemerintah perlu memikirkan tahap berikutnya secara sistematis. Pertama, memastikan bahwa backbone digital nasional benar-benar menjadi tulang punggung konektivitas data domestik dan regional. 

Kedua, mendorong pengembangan pusat data berskala besar yang mampu melayani kebutuhan komputasi regional. Ketiga, membangun ekosistem komputasi untuk kecerdasan buatan yang akan menjadi mesin utama ekonomi digital di masa depan.

Langkah-langkah tersebut penting agar Indonesia tidak hanya menjadi lokasi konsumsi layanan digital, tetapi juga menjadi tempat di mana data diproses, disimpan, dan menciptakan nilai ekonomi.

Di era ekonomi berbasis data, negara yang menguasai infrastruktur digital memiliki posisi strategis dalam rantai nilai global. Negara yang hanya menjadi pasar akan selalu berada pada posisi paling akhir dalam rantai tersebut.

Karena itu, pembentukan InfraNexia seharusnya dipandang bukan sebagai akhir dari proses restrukturisasi, melainkan sebagai awal dari agenda besar pembangunan kedaulatan infrastruktur digital Indonesia.

Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia memiliki pasar digital yang besar, tetapi apakah Indonesia memiliki keberanian untuk menguasai infrastrukturnya sendiri.

 

Tulisan Kolom oleh: 

Pengamat Telekomunikasi, Kurnia Rumdhony