Senja Kala Pembangkit Listrik Tua di Tengah Berkembangnya Energi Terbarukan
- JAKARTA - Indonesia memiliki sedikitnya 23 unit pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di 7 provinsi. Selain PLTU ...

Acep Saepudin
Author


Ilustrasi
(Istimewa)JAKARTA - Indonesia memiliki sedikitnya 23 unit pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di 7 provinsi. Selain PLTU, Indonesia juga memiliki pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU) sebanyak 46 unit di 5 provinsi. Pembangkit-pembangkit tersebut beberapa di antaranya sudah sepuh dengan usia di atas 20 tahun dan pemerintah berencana mempensiunkannya.
Apalagi perkembangan energi baru terbarukan (EBT) belakangan ini semakin marak baik di dalam negeri maupun mancanegara. Maka pembangkit listrik yang sudah tua terutama pembangkit listrik yang tidak ramah lingkungan akan segera ditutup. Untuk selanjutnya pembangkit-pembangkit tersebut digantikan pembangkit listrik yang lebih ramah lingkungan.
Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Tasrif Arifin, banyaknya pembangkit listrik tenaga uap yang sudah tua membuat pemerintah berencana untuk menggantikannya dengan dengan pembangkit listrik EBT seperti tenaga surya dan air.
"Apakah kita akan gunakan uap kita prefer EBT, bisa di manfaatkan untuk replacement pembangkit listrik tenaga uap," tuturnya.
Arifin juga menjelaskan bahwa program pengembangan EBT merupakan bagian dari program nasional yang dijalankan Kementerian ESDM.
"Beberapa program nasional yang akan dijalankan oleh Kementerian ESDM mengarah kepada pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri. Juga untuk pemanfaatan energi lokal yang bersih. Salah satunya adalah menargetkan porsi energi terbarukan (EBT) dalam bauran energi mencapai 13,4 persen pada tahun 2020," papar Arifin.
Menurutnya porsi ini akan mengalami peningkatan hingga 19,5 persen pada tahun 2024. Bertahap pada 2021 mencapai 14,5 persen, 2022 mencapai 15,7 persen dan 2023 mencapai 17,9 persen. Arifin juga berharap pada tahun 2020 ini, realisasi pembangkit EBT yang beroperasi bisa bertambah.
"Kami menargetkan kapasitas pembangkit EBT pada tahun ini juga bisa bertambah menjadi 700 MW," ujar Arifin dikutip dari situs Kementerian ESDM.
Kementerian ESDM merancang penambahan tersebut di tahun ini dengan rincian bertambah 700 MW menjadi 10.843 MW. Selanjutnya kapasitas pembangkit listrik energi hijau ini akan naik 1.000 MW menjadi 11.843 MW pada 2021. Terus bertambah menjadi 13.743 MW pada 2022, kemudian 15.543 MW pada 2023, dan mencapai 19.243 MW pada 2024.
"Nantinya porsi EBT tidak hanya dari pembangkit listrik saja. Penggunaan bahan bakar nabati (biofuel) untuk domestik juga menjadi pendongkrak kapasitas EBT," pungkas Arifin.
Kementerian ESDM sendiri memproyeksikan dalam waktu lima tahun mendatang, biaya investasi peningkatan pembangkit energi baru terbarukan (EBT) mencapai USD 36,95 miliar.
Menurut Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, Agung Pribadi, besaran biaya investasi tersebut dimaksudkan sebagai strategi memperluas pangsa pasar energi. "Nilai investasi tersebut bisa membantu meningkatkan pangsa pasar energi di tahun 2025," katanya.
"Pemerintah bertekad menekan jumlah pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar fosil. Hal ini diwujudkan dengan mendorong peningkatan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan yang ditargetkan baurannya akan mencapai 23 persen pada 2025," ujar Agung.
