Tren Pasar

Sell in May and Go Away: Mitos yang Jadi Kenyataan Pahit di 2026

  • Sell in May and Go Away viral lagi di 2026. Data historis IHSG bicara apa? Kalau memang go away, pergi ke mana dan kapan balik? Ini analisis lengkapnya.
Sell-in-may-go-away-May-19-2023.jpg
Ilusrrasi sell in May and go away. (Rappler)

JAKARTA, TRENASIA.ID – IHSG ditutup di level 6.370 pada perdagangan Selasa 19 Mei 2026, melanjutkan pelemahan hari keenam beruntun. Dalam sebulan terakhir, indeks sudah turun 13,10 persen. 

Sejak awal tahun, kerugiannya mencapai 23,68 persen, menjadikan Mei 2026 sebagai bulan paling “brutal” bagi pasar saham Indonesia dalam satu dekade terakhir.

Di tengah semua ini, pepatah lama yang sering dianggap klise kembali ramai diperbincangkan: Sell in May and Go Away.

Apa Itu Sell in May and Go Away?

Sell in May and Go Away bukan lahir di Wall Street, tapi dari City of London. Pepatah lengkapnya berbunyi "Sell in May and go away, come back on St. Leger's Day". St. Leger's Day merujuk pada balapan kuda terakhir di musim panas Inggris, sekitar September. 

Idenya sederhana: para bankir dan broker London biasa liburan panjang selama musim panas, volume perdagangan turun, dan pasar cenderung lesu dari Mei hingga Oktober. Dari data AS, pola ini memang nyata secara historis. 

Indeks Dow Jones mencatat rata-rata return hanya 0,3 persen antara Mei dan Oktober sejak 1950 sampai 2013, jauh di bawah periode November sampai April yang menghasilkan rata-rata 7,5 persen. Pola ini dipopulerkan oleh Stock Trader's Almanac dan menjadi salah satu anomali kalender yang paling banyak dikutip di dunia keuangan.

Tapi Indonesia bukan AS, dan musim panas tidak ada di kamus kita.

Data Historis IHSG Berbicara

Dari analisis IHSG selama 2001 sampai 2021, ditemukan bahwa rata-rata return pada periode Mei sampai Oktober hanya 2,42 persen. Angka itu jauh di bawah periode November sampai April yang mencapai 15,40 persen. Perbedaan ini terbukti signifikan secara statistik dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Tapi ada catatan penting. Dari 20 periode yang diamati, hanya 12 kali periode November-April mengungguli periode Mei-Oktober. Delapan kali sisanya, justru periode yang "buruk" itu menghasilkan return lebih baik.

Kalau dilihat dari data 10 tahun terakhir sejak 2016, IHSG hanya ditutup hijau di bulan Mei sebanyak 3 kali dari 10. Tujuh sisanya merah. Akurasi "Sell in May" di Indonesia: sekitar 35 persen berdasarkan satu analisis, 70 persen merah berdasarkan data dekade terakhir saja.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto pernah menyimpulkan dengan gamblang: "Tapi dibilang sampai harus go away, saya bilang tidak." Untuk IHSG, fenomena ini tidak sekuat di pasar AS. Mei lebih sering merah, tapi tidak selalu terjun bebas. Namun tahun ini berbeda.

Mei 2026: Bukan Sekadar Pola Musiman

Apa yang terjadi di Mei 2026 bukan tentang likuiditas yang turun karena orang liburan. Ini tentang empat tekanan struktural yang datang bersamaan dalam rentang tiga pekan.

Pertama, rebalancing MSCI. Pada 12 Mei 2026, MSCI resmi mendepak enam saham berkapitalisasi besar Indonesia seperti DSSA, BREN, AMMN, AMRT, CUAN, dan TPIA dari MSCI Global Standard Index. 

Ini memaksa ribuan ETF dan dana pasif global menjual saham-saham tersebut sebelum tanggal efektif 29 Mei. Akumulasi net sell asing dari awal tahun sudah menembus Rp50,63 triliun.

Kedua, FTSE Russell juga ikut menghapus beberapa saham Indonesia bersamaan dengan MSCI. Dua lembaga indeks global sekaligus melepas Indonesia dalam satu periode, kejadian yang sangat jarang.

Ketiga, rupiah mencetak all-time low secara berturut-turut. Kemarin rupiah ditutup di Rp17.668, rekor penutupan terlemah sepanjang sejarah. Pelemahan rupiah mendorong spekulasi kenaikan BI Rate pada RDG 19-20 Mei, yang jika terjadi akan menekan saham perbankan dan properti, dua sektor terbesar di IHSG.

Keempat, geopolitik Timur Tengah. Ketegangan AS-Iran mendorong harga minyak naik, memicu kekhawatiran inflasi global, dan membuat investor institusional global mengalihkan aset dari emerging market ke safe haven.

Di tahun-tahun sebelumnya ketika Mei merah, biasanya hanya satu atau dua faktor yang bekerja. Mei 2026 keempat-empatnya aktif sekaligus.

Perbandingan Mei Covid Vs Mei 2026

Untuk memahami skala Mei 2026, perlu dibandingkan dengan Mei-Mei terburuk sebelumnya.

Mei 2020 adalah yang paling mendekati. IHSG sempat jatuh ke 3.937 di Maret 2020 akibat Covid-19, lalu mulai pulih di Mei. Tapi penyebabnya jelas, pandemi global, dan solusinya bisa diukur: vaksin dan stimulus fiskal.

Mei 2024 juga tercatat sebagai Mei terburuk saat itu, dengan IHSG ambles 3,64 persen sepanjang bulan akibat BREN yang kena auto rejection bawah tiga hari berturut-turut dan net sell asing Rp14,87 triliun. Satu saham menjadi biang kerok.

Mei 2026 sudah turun 13,10 persen hanya dalam sebulan, dengan enam saham big cap kena ARB sekaligus, net sell asing Rp50,63 triliun year-to-date, rupiah all-time low, dan BI Rate yang berpotensi naik. Ini bukan versi yang lebih parah dari Mei 2024. Ini kategori yang berbeda.

Kombinasi antara probabilitas siklus Sell in May, depresiasi rupiah, sentimen MSCI, dan kerentanan bursa AS, menurut analis CNBC Indonesia Research, memvalidasi perlunya sikap defensif sambil menunggu arah kebijakan bank sentral domestik.

Kalau "Go Away", Pergi ke Mana?

Kalau kamu ikuti nasihat "go away", uang itu perlu diparkir di suatu tempat. Tiga opsi yang paling relevan dalam konteks hari ini:

Pertama, Surat Berharga Negara atau SBN. Yield SBN 10 tahun kemarin sempat menyentuh 6,82 persen, level yang cukup menarik untuk instrumen berisiko rendah. Tapi ada risiko harga: kalau BI Rate naik 25 bps besok, harga obligasi lama akan turun karena yield baru lebih tinggi. Investor yang masuk hari ini ke SBN perlu sabar.

Kedua, reksa dana pasar uang. Ini opsi paling defensif. Tidak ada risiko nilai tukar, likuid, dan returnnya mengikuti suku bunga deposito yang kemungkinan ikut naik kalau BI Rate naik. Cocok untuk yang memang tidak mau ambil risiko apapun dalam 3-6 bulan ke depan.

Ketiga, dolar AS atau reksa dana berbasis dolar. Ini bukan rekomendasi spekulasi nilai tukar, tapi bagi yang punya kebutuhan dolar ke depan (biaya kuliah, perjalanan luar negeri, pembelian barang impor), menyimpan sebagian dalam dolar sekarang ketika rupiah masih undervalued bisa jadi lindung nilai yang masuk akal. 

Gubernur BI Perry Warjiyo sendiri menyebut rupiah saat ini undervalued dan meyakini akan kembali menguat mulai Juli-Agustus.

Menanti Come Back IHSG

Bagian kedua dari pepatah itu, kapan masuk lagi, tidak kalah penting dari kapan keluar. Ada tiga katalis yang bisa jadi sinyal pemulihan IHSG dalam waktu dekat:

Pertama, keputusan RDG BI besok. Kalau BI naik 25 bps dan memberikan sinyal bahwa ini adalah langkah terakhir bukan awal dari siklus kenaikan, pasar bisa menginterpretasinya positif karena ketidakpastian mereda. Josua Pardede dari Bank Permata menyebut kenaikan kecil yang terukur bisa dipandang sebagai biaya stabilisasi, bukan tanda kepanikan.

Kedua, selesainya forced selling MSCI pada 29 Mei. Setelah tanggal itu, satu sumber tekanan terbesar di bursa Indonesia secara teknis selesai. Dana yang selama ini terpaksa menjual tidak lagi punya kewajiban untuk terus menjual.

Ketiga, meredanya ketegangan AS-Iran. Trump dilaporkan menunda rencana serangan dan membuka peluang pelonggaran sanksi minyak Iran. Kalau kesepakatan terwujud, harga minyak turun, tekanan inflasi global mereda, dan appetite investor terhadap emerging market bisa pulih.

Dari data historis, IHSG memang cenderung melemah di bulan September juga William Hartanto bahkan menyebut September lebih seram dari Mei dalam 10 tahun terakhir. Tapi kalau tiga katalis di atas terpenuhi pada Juni-Juli, window pemulihan itu terbuka lebar.

Insight

Sell in May and Go Away adalah strategi, bukan hukum alam. Di Indonesia, data historisnya tidak sekonsisten di AS. Dan di tahun-tahun dengan guncangan struktural seperti 2020 dan 2026, pola musiman biasa menjadi tidak relevan.

Yang lebih berguna dari mengikuti pepatah ini: pahami mengapa pasar turun, bukan hanya kapan. Kalau kamu tahu penyebabnya (MSCI, rupiah, geopolitik) kamu juga bisa mengidentifikasi kapan penyebab itu mulai mereda. Itulah momen yang lebih tepat untuk masuk kembali, bukan sekadar menunggu datangnya bulan November.

Untuk investor muda yang baru beberapa tahun di pasar modal, Mei 2026 adalah pelajaran mahal tentang risiko yang tidak terlihat di saat pasar sedang bagus. Sebelum MSCI ramai dibahas, berapa banyak yang tahu apa itu free float? 

Sebelum rupiah all-time low, berapa banyak yang mempertimbangkan risiko nilai tukar dalam portofolio saham mereka? Kondisi ini tidak nyaman. Tapi itu barangkali adalah jenis ketidaknyamanan yang paling mendidik.