Sejarah Indomie, dari Mi Instan Lokal hingga Jadi Raja Mi Global
- Sejarah Indomie dimulai pada 1972 dari PT Sanmaru hingga menjadi merek mi instan terkuat Indonesia di bawah naungan Indofood.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Indomie kini jadi salah satu merek mi instan paling dikenal di Indonesia dan telah berkembang menjadi produk dengan jangkauan global. Di balik popularitas tersebut, perjalanan Indomie bermula lebih dari lima dekade lalu sebagai salah satu pendatang awal industri mi instan Indonesia.
Indomie pertama kali diperkenalkan pada 1972 oleh PT Sanmaru Food Manufacturing Co. Ltd, perusahaan yang dirintis Djajadi Djaja bersama sejumlah rekannya. Produk pertama yang diperkenalkan adalah Indomie Kuah Rasa Kaldu Ayam.
Seiring perkembangan industri makanan olahan, Indomie kemudian masuk ke dalam ekosistem bisnis Salim Group dan akhirnya menjadi bagian penting dari bisnis mi instan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).
Kini, Indomie bukan hanya menjadi salah satu merek mi instan dengan posisi terkuat di Indonesia, tetapi juga telah menjadi merek yang dikenal di berbagai negara.
Indomie Berdiri pada 1970-an
Sejarah Indomie bermula dari bisnis yang dirintis Djajadi Djaja bersama tiga rekannya, yakni Wahyu Tjuandi, Ulong Senjaya, dan Pandi Kusuma melalui PT Djangkar Djati.
Pada April 1970, Djajadi mendirikan anak usaha bernama PT Sanmaru Food Manufacturing Co. Ltd. Dua tahun kemudian, perusahaan tersebut memperkenalkan produk mi instan dengan merek Indomie.
Nama Indomie sendiri merupakan singkatan dari Indonesia Mie. Penamaan tersebut sekaligus mencerminkan upaya menjadikan produk mi instan sebagai bagian dari konsumsi masyarakat Indonesia.
Baca juga : Kembangkan Bus Listrik, Danantara Guyur VKTR Rp2 Triliun
Produk pertama Indomie adalah Indomie Kuah Rasa Kaldu Ayam. Namun, Indomie bukanlah merek mi instan pertama yang hadir di Indonesia. Sebelumnya, sudah terdapat Supermi yang dirintis oleh Sjarif Adil Sagala dan Eka Widjaja Moeis.
Kehadiran Indomie kemudian ikut memperbesar persaingan dalam industri mi instan yang pada saat itu masih berada dalam tahap awal perkembangan.
Salah satu periode penting dalam sejarah perkembangan mi instan di Indonesia terjadi pada 1978 ketika Indonesia menghadapi ancaman pangan dan kelangkaan beras.
Kondisi tersebut mendorong masyarakat mencari alternatif sumber pangan. Mi instan kemudian semakin banyak dikonsumsi sebagai makanan pengganti nasi.
Pada periode tersebut, mi instan bahkan menjadi bagian dari distribusi pangan bagi pegawai negeri. Perubahan pola konsumsi tersebut menjadi momentum penting bagi perkembangan industri mi instan. Setelah kondisi pangan kembali membaik, kebiasaan mengonsumsi mi instan tidak serta-merta hilang.
Sebaliknya, mi instan semakin melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Bagi Indomie dan merek mi instan lain yang berada dalam kelompok bisnis Salim, periode tersebut menjadi salah satu momentum yang membantu memperluas penetrasi produk di pasar domestik.
Jika produk pertama Indomie adalah mi kuah rasa kaldu ayam, salah satu produk yang kemudian menjadi ikon merek tersebut adalah Indomie Goreng. Varian Indomie Goreng diluncurkan pada 1983 dengan inspirasi dari makanan mi goreng yang telah dikenal luas masyarakat Indonesia.
Strategi tersebut membuat produk mi instan memiliki karakter rasa yang dekat dengan makanan sehari-hari masyarakat. Indomie Goreng kemudian berkembang menjadi salah satu varian paling populer. Bahkan hingga saat ini, produk tersebut masih menjadi salah satu ikon utama merek Indomie di Indonesia maupun pasar internasional.
Keberhasilan Indomie Goreng juga menunjukkan bahwa perkembangan industri mi instan tidak hanya bergantung pada harga dan kemudahan penyajian, tetapi juga kemampuan produsen menciptakan rasa yang sesuai dengan preferensi konsumen.
Baca juga : Melemah, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 2 September 2026?
Masuknya Salim Group dan Lahirnya Indofood
Perjalanan Indomie memasuki babak baru ketika Salim Group mulai memperbesar bisnisnya di sektor makanan. Kelompok usaha yang didirikan oleh Liem Sioe Liong atau Sudono Salim tersebut sebelumnya telah memiliki bisnis tepung terigu melalui Bogasari.
Penguasaan bisnis tepung terigu menjadi salah satu fondasi penting untuk masuk lebih jauh ke industri makanan berbasis tepung, termasuk mi instan.
Pada 1977, Salim Group meluncurkan merek mi instan Sarimi. Salim kemudian melakukan pendekatan dengan Djajadi Djaja. Pada 1984, keduanya sepakat mendirikan perusahaan patungan bernama PT Indofood Interna Corporation.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dari konsolidasi industri mi instan Indonesia. Indomie dan Sarimi kemudian berada dalam satu ekosistem bisnis, sementara Supermi juga ikut masuk dalam kelompok usaha tersebut.
Pada 1994, PT Indofood Interna dan PT Sanmaru digabung dan melahirkan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Konsolidasi tersebut kemudian menjadi fondasi bagi perkembangan bisnis mi instan Indofood dalam skala yang jauh lebih besar.
Seberapa Besar Pangsa Pasar Indomie di Indonesia?
Dominasi Indomie di pasar Indonesia terlihat dari berbagai indikator brand dan konsumsi. Indomie disebut menguasai lebih dari 70% pangsa pasar mi instan Indonesia.
Dominasi tersebut sebenarnya sudah terlihat sejak dekade 1990-an. Pada 1994, tiga merek yang berada dalam kelompok Salim tercatat menguasai sebagian besar pasar, yakni Indomie sebesar 60,3%, Supermi 7,8%, dan Sarimi 6,7%.
Saat ini, industri mi instan Indonesia juga ditandai oleh dominasi sejumlah pemain besar. Indofood CBP dan Wings Group secara bersama-sama disebut menguasai sekitar 87%-90% pasar mi instan nasional.
Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: MEDC dan BBCA Perkasa, HRTA Tiarap
Dengan posisi tersebut, Indomie menjadi salah satu merek dengan tingkat penetrasi paling kuat dalam kategori makanan cepat saji di Indonesia.
Kekuatan Indomie juga tercermin dari tingkat pengenalan merek. Survei Populix pada November 2025 mencatat total brand awareness Indomie mencapai 100%.
Artinya, seluruh responden dalam survei tersebut mengenal merek Indomie. Indomie juga mencatat capian sebagai berikut,
- Spontaneous awareness: 98%
- Top of mind: 82%
- Total brand awareness: 100%
Sebagai pembanding, Mie Sedaap berada di posisi berikutnya dengan total brand awareness sebesar 96%.
Tingginya brand awareness menunjukkan jika Indomie telah melewati tahap sekadar dikenal sebagai produk dan berkembang menjadi salah satu merek yang sangat melekat dengan kategori mi instan.

Muhammad Imam Hatami
Editor
