Sejarah, Duo Jurnalis Perempuan Pimpin AJI Solo
- Ika Yuniati dan Ni'matul Faizah terpilih memimpin AJI Solo 2026-2029. Kali pertama dalam sejarah, AJI Solo dipimpin duet jurnalis perempuan.

Chrisna Chanis Cara
Author


SOLO, TRENASIA.ID—Konferensi Kota (Konferta) VIII Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surakarta/AJI Solo berlangsung di Hetero Space Solo, Minggu 1 Januari 2026. Dalam forum tersebut, Ika Yuniati dan Ni'matul Faizah resmi ditetapkan melalui aklamasi sebagai Ketua dan Sekretaris AJI Solo periode 2026-2029.
Pencapaian ini mencatatkan sejarah baru. Ini kali pertama AJI Solo dinakhodai dua perempuan sekaligus di posisi puncak kepemimpinan. Ika dan Niva, panggilan Ni’matul, menggantikan Mariyana Ricky PD dan Danur Lambang Pristiandaru yang sebelumnya memimpin organisasi periode 2023-2026.
Keputusan mengangkat kepemimpinan perempuan dalam struktur organisasi jurnalis Kota Solo tersebut menuai apresiasi Ketua AJI Indonesia, Nany Afrida. Nany hadir mendampingi konferensi dari awal hingga penutupan.
Menurut Nany, terpilihnya pasangan Ika dan Niva mencerminkan penguatan kepercayaan diri serta keberadaan jurnalis perempuan di tengah tekanan profesi yang terus meningkat.
“Kami senang, berarti kekuatan perempuan semakin kelihatan. Mereka lebih percaya diri, apalagi dengan kondisi yang berat seperti sekarang,” ujarnya, dalam keterangan yang diterima TrenAsia.id, Senin 2 Januari 2026.
Naungi Lebih Banyak Jurnalis
Nany berharap kepengurusan baru ini dapat membawa organisasi lebih berkembang dan menaungi lebih banyak jurnalis. “Serta mengajak rekan-rekan yang belum berserikat untuk segera bergabung,” ujarnya.
Di samping pergantian kepemimpinan, Konferta VIII AJI Surakarta juga mengangkat persoalan mendesak lewat tema "Menolak Bungkam di Era Otoritarianisme Digital". Ketua Panitia Konferta VIII sekaligus Sekretaris terpilih, Ni'matul Faizah (Niva), menekankan bahwa tema ini dipilih sebagai sinyal kewaspadaan bagi dunia pers.
Ia menjelaskan, cara membungkam informasi kini sudah beralih dari tekanan fisik ke wilayah algoritma dan digital. “Jika dahulu suara kita mungkin dihadapkan pada pembatasan fisik seperti bedil atau pembredelan, saat ini tantangan itu bertambah ke ruang-ruang algoritma,” ungkap Niva.
Keprihatinan ini memiliki dasar kuat, mengacu pada Catatan Tahun 2025 AJI Indonesia yang mencatat penurunan kondisi kebebasan pers. Selama 2025, terdokumentasi 89 kasus kekerasan terhadap jurnalis. Yang menjadi perhatian khusus adalah serangan digital dengan jumlah 29 kasus, tertinggi dalam rentang 12 tahun terakhir.

Bentuk ancaman di dunia digital semakin bervariasi. Hal itu mencakup tekanan terselubung kepada redaksi untuk menghapus berita (take down), hambatan teknis peliputan tanpa landasan hukum jelas, serangan siber, doxing (penyebaran data pribadi), sampai jerat pasal karet yang dapat ditafsirkan beragam.
Merespons kondisi ini, AJI Surakarta memanfaatkan gelaran Konferta untuk mendorong penguatan solidaritas di kalangan jurnalis. Solidaritas dipandang sebagai pertahanan terakhir dan faktor utama dalam menghadapi intimidasi.
“Meskipun teknologi bisa digunakan penguasa untuk menekan, solidaritas antarjurnalis harus lebih kuat. Tidak boleh ada satu pun rekan jurnalis di Kota Solo yang merasa berjuang sendirian saat menghadapi hambatan dalam bertugas," tegas Niva.
Baca Juga: Keresahan Gen Z, Ketika Aspirasi Malah Berujung Represi
Konferta VIII diakhiri kesepakatan kolektif seluruh anggota untuk merancang strategi advokasi dan meningkatkan kapasitas jurnalis menghadapi tantangan profesi dalam tiga tahun mendatang.
Sebagai informasi, AJI Surakarta merupakan organisasi jurnalis yang berpegang pada tripanji AJI: kemerdekaan pers, profesionalisme, dan kesejahteraan jurnalis. AJI Surakarta giat menjalankan advokasi, pelatihan, dan kampanye guna melindungi hak-hak jurnalis serta mendorong kualitas jurnalisme beretika di kawasan Solo Raya.

Chrisna Chanis Cara
Editor
