Tren Global

Sejak Pertama Dibuat, Produksi Ponsel Tembus 30 Miliar

  • Sejak panggilan pertama 1973 hingga era smartphone AI, produksi ponsel global diperkirakan menembus lebih dari 30 miliar unit.
VIDA Cegah Kejahatan Cyber - Panji 5.jpg
Tampilan fitur terbaru "Magic Scan" di VIDA App, yaitu fitur tanda tangan digital, yang memungkinkan pengguna memindai, menyimpan, serta menandatangani dan mengesahkan dokumen secara aman langsung dari ponsel, tanpa perangkat tambahan, sekaligus melindungi dari potensi pencurian identitas. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia)

JAKARTA TRENASIA.ID - Sejak panggilan seluler pertama dilakukan pada 1973, dunia telah memasuki era komunikasi tanpa batas. Dari perangkat seberat hampir 1 kilogram hingga smartphone tipis berbasis kecerdasan buatan (AI), ponsel telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia modern.

Satu pertanyaan menarik muncul, sejak pertama kali diciptakan, sebenarnya sudah berapa banyak ponsel yang pernah dibuat di dunia?

Hingga kini, tidak ada satu lembaga global pun yang mencatat secara kumulatif total produksi ponsel sejak era awal 1970-an. Produksi dan distribusi dilakukan oleh ratusan perusahaan lintas negara, dengan pencatatan yang tersebar di berbagai lembaga riset industri.

Meski demikian sejumlah data penjualan tahunan dapat digunakan untuk memperkirakan totalnya.

Berdasarkan rekap data industri yang dihimpun oleh SellCell, total ponsel (feature phone dan smartphone) yang terjual secara global sepanjang 2009–2024 mencapai hampir 28 miliar unit. Angka tersebut merupakan akumulasi penjualan tahunan selama 15 tahun terakhir.

Artinya, jika produksi sebelum dan sesudah 2015 ditambahkan, total kumulatifnya kini hampir pasti melampaui 30 miliar unit sejak ponsel pertama kali diperkenalkan ke pasar.

Sebagai perbandingan, populasi dunia saat ini sekitar 8 miliar jiwa. Itu berarti jumlah ponsel yang pernah diproduksi secara global setara hampir empat kali jumlah penduduk bumi.

Baca juga : Inovasi Smartphone Picu Bom Waktu Limbah Elektronik

Sejarah Penggunaan Ponsel

Tonggak sejarah produksi massal dimulai ketika Motorola DynaTAC 8000X dirilis secara komersial pada 1983. Perangkat ini menjadi simbol revolusi komunikasi bergerak, meski harganya saat itu setara mobil kecil.

Sejak era tersebut, industri berkembang pesat. Masuknya pemain global seperti Nokia pada 1990-an, disusul revolusi smartphone oleh Apple dan Samsung pada akhir 2000-an, membuat angka produksi melonjak tajam.

Pada puncaknya, penjualan tahunan global pernah menembus lebih dari 1,8 miliar unit per tahun. Namun, besarnya angka produksi ini juga membawa konsekuensi serius.

Semakin cepat siklus pergantian perangkat, semakin besar pula potensi limbah elektronik (e-waste) yang dihasilkan. Banyak konsumen mengganti ponsel setiap 2–3 tahun, bahkan ketika perangkat lama masih berfungsi.

Dengan total produksi yang diperkirakan menembus 30 miliar unit, pertanyaan lanjutan muncul, ke mana perginya miliaran ponsel lama tersebut?

Sebagian memang didaur ulang atau dijual kembali. Namun miliaran lainnya berakhir di laci rumah, tempat pembuangan akhir, atau bahkan dikirim ke negara berkembang untuk diproses secara informal. 

Limbah elektronik mengandung logam berat seperti timbal, merkuri, dan kadmium yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia jika tidak dikelola dengan benar.

Baca juga : Inovasi Smartphone Picu Bom Waktu Limbah Elektronik

Selain itu, produksi ponsel juga bergantung pada penambangan mineral seperti lithium dan kobalt, yang memiliki jejak karbon tinggi serta dampak sosial dan ekologis di negara penghasilnya.

Di sisi lain, industri ponsel merupakan salah satu mesin ekonomi terbesar dunia. Rantai pasoknya melibatkan jutaan pekerja di sektor manufaktur, distribusi, aplikasi digital, hingga ekonomi kreator.

Ekosistem smartphone juga melahirkan industri baru, mulai dari layanan transportasi daring, fintech, e-commerce, hingga ekonomi konten. Tanpa penetrasi ponsel masif, transformasi digital global tidak akan terjadi secepat sekarang.

Melihat angka produksi yang begitu besar, tantangan ke depan bukan hanya soal inovasi teknologi, tetapi juga bagaimana membuat perangkat lebih tahan lama, mudah diperbaiki, dan lebih mudah didaur ulang.

Gerakan right to repair, desain modular, serta kebijakan tanggung jawab produsen menjadi semakin relevan dalam menghadapi era “fast technology”.