Scalpel, Pisau Baru Rusia untuk Membedah Ukraina
- Platform ini diproyeksikan sebagai versi lebih murah dari drone kamikaze Rusia yang terkenal, ‘Lancet’.

Amirudin Zuhri
Author


MOSKOW- Senjata baru terus bermunculan di medan perang. Salah satunya drone bunuh diri Scalpel (pisau bedah) milik Rusia.
Sebuah video yang dirilis pada 28 November 2023 mengungkapkan penyebaran Scalpel oleh pasukan Rusia di Ukraina. Perkembangan ini menandakan transformasi penting dalam strategi dan teknologi peperangan kontemporer. Khususnya menyoroti berkembangnya peran amunisi dalam operasi militer Rusia.
Kantor berita Rusia TASS sebelumnya juga melaporkan unit-unit Rusia mulai menggunakan Scalpel baru di zona operasi khusus. Biro Desain Vostok yang membangun senjata ini mengatakan Scalpel telah diproduksi dalam skala kecil dengan 20 diproduksi setiap bulan. “Namun jika diperlukan produksi dapat diperluas secara signifikan,” kata perusahaan itu Rabu 29 November 2023.
Platform ini diproyeksikan sebagai versi lebih murah dari drone kamikaze Rusia yang terkenal, ‘Lancet’. Senjata yang diproduksi oleh ZALA milik Kalashnikov. Pabrikan mencatat bahwa ada beberapa area di mana Scalpel gagal dibandingkan dengan Lancet. Namun, kekurangan tersebut dapat dimengerti, mengingat harga Scalpel yang jauh lebih rendah.
- Urban Social Forum Digelar di Solo, Ajak Masyarakat Wujudkan Kota Impian
- 10 Destinasi Terbanyak Pekerja Migran Indonesia 2023
- Bocoran 4 Proyek Pipeline Elnusa
Satu drone Scalpel berharga 300.000 rubel atau sekitar Rp52 juta (kurs Rp175), belum termasuk harga muatan. Vostok lebih lanjut menekankan Scalpel berbeda secara signifikan dari Lancet karena memiliki mekanisme penangkap target dan kamera.
Platform yang ditujukan untuk Angkatan Darat Rusia ini dirancang untuk memiliki berbagai hulu ledak untuk menyelesaikan berbagai tugas. Kompartemen muatan dibuat dengan diameter 125 mm dan panjang 650 mm. Harapannya setiap unit akan secara mandiri memutuskan hulu ledak mana yang akan dikerahkan berdasarkan kemampuannya.
Sorotan utama dari proyek Scalpel adalah pendekatan modularnya. Platform ini mencakup muatan tetap 5 kilogram, berat lepas landas 10,5 kilogram. Ini berarti kapasitas muatan maksimumnya mencakup lebih dari 45% berat total drone. Sebagai perbandingan Lancet membawa hulu ledak 3 kg yang hanya 25% dari total beratnya.
Kecepatan jelajah Scalpel adalah 120 kilometer/jam. Sementara jangkauan penerbangan adalah 40 kilometer. Dia dapat mencapai jangkauan maksimumnya hanya dalam waktu 18-20 menit. Setelah tiba, ia dapat memulai patroli dan akuisisi target.
Meskipun jangkauan dan kecepatannya mungkin kurang dibandingkan beberapa hulu ledak modern, keterbatasan ini diimbangi oleh elemen desain lainnya. Platform tersebut akan memiliki harga yang terjangkau. Beberapa komponen perangkat ini adalah buatan luar negeri. Tetapi sebagian besar merupakan produk Rusia.
Komponen Penting
Dalam konflik yang sedang berlangsung, serangan bunuh diri telah menjadi komponen penting dalam serangan Rusia. Namun, pengumuman baru-baru ini oleh beberapa pejabat Rusia telah menimbulkan spekulasi bahwa Moskow sedang mengalami kekurangan drone.
Direktur Jenderal Rosoboronexport Alexander Mikheyev di Dubai Airshow 2023 baru-baru ini mengungkapkan sejumlah negara menunjukkan minat yang besar terhadap Lancet. Namun dia mengatakan drone tersebut saat ini tidak tersedia untuk ekspor.
Sejumlah saluran Telegram Rusia juga mengakui Rusia kekurangan Lancet. Sehingga pengiriman Scalpel dimaksudkan untuk membantu mengatasinya.
Dalam serangan udara Rusia terhadap Ukraina, dua drone muncul sebagai drone yang paling umum digunakan. Keduanya adalah drone kelas Shahed Iran dan amunisi berkeliaran Lancet buatan Rusia. Yang terakhir ini telah mendapatkan perhatian internasional dan menjadi terkenal karena banyak menimbulkan malapetaka bagi tank dan kendaraan lapis baja lainnya milik Ukraina.
- Lee Dayeon Aktivis K Pop Tembus Daftar BBC 100 Women, Menginspirasi Aksi Iklim Global
- Musim 1 The Escape of The Seven Berakhir, Apa Yang Akan Terjadi di Season Kedua?
- Hartono Bersaudara Cuan Rp2,88 Triliun dari Dividen Interim BCA
Amunisi yang berkeliaran atau sering disebut drone kamikaze memadukan karakteristik drone dan rudal. Senjata ini telah dikembangkan sejak akhir abad ke-20. Awalnya, sistem ini dipelopori oleh negara-negara seperti Amerika Serikat dan Israel.
Dalam konteks konflik Rusia-Ukraina, penggunaan amunisi oleh militer Rusia telah berkembang pesat. Awalnya, angkatan bersenjata Rusia lebih dikenal karena taktik perang konvensionalnya, dan sangat bergantung pada artileri dan unit lapis baja. Namun, perubahan sifat peperangan semakin menekankan presisi, biaya rendah, dan pengurangan risiko terhadap personel. Ini telah menyebabkan ketergantungan yang lebih besar pada teknologi canggih seperti amunisi yang berkeliaran.
Penerapan sistem ini oleh militer Rusia mencerminkan pergeseran strategis menuju taktik perang asimetris. Di mana amunisi semacam itu menawarkan keuntungan yang signifikan. Amunisi yang berkeliaran mampu bertahan di area target untuk waktu yang lama, mengidentifikasi dan menyerang target dengan presisi tinggi. Kemampuan ini sangat berguna dalam konflik seperti yang terjadi di Ukraina. Dii mana mengidentifikasi dan melibatkan target dinamis atau tersembunyi sangatlah penting.
Secara keseluruhan, Scalpel bukanlah saingan Lancet. Melainkan merupakan aset pelengkap. Setiap drone dengan karakteristik dan kemampuannya yang berbeda, dapat dikerahkan secara sinergis tergantung pada skenario taktis. Dalam situasi tertentu, Lancet dengan hulu ledak standarnya sangat ideal. Sedangkan di situasi lain, Scalpel yang dilengkapi dengan pilhan muatan secara khusus akan bisa menyesuaikan misinya.
