Satoyama, Model Pertanian Jepang yang Ramah Alam
- Satoyama merupakan sistem pertanian tradisional Jepang yang menyatukan sawah, hutan, dan permukiman untuk menjaga pangan, alam, dan keanekaragaman hayati.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Kala dunia menghadapi krisis iklim, degradasi lahan, dan pertanian modern yang kian menjauh dari alam, Jepang menyimpan warisan kuno yang justru semakin relevan hari ini.
Bukan teknologi canggih atau mesin pintar, melainkan sebuah cara hidup yang telah bertahan ratusan tahun. Konsep tersebut menyatukan sawah, hutan, sungai, dan permukiman dalam satu lanskap yang saling bergantung.
Sistem ini tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga menjaga air, tanah, dan keanekaragaman hayati. Konsep itu dikenal sebagai satoyama, sebuah model pertanian yang menantang cara manusia modern memandang alam.
Dilansir laman Satoyama Initiative, Selasa, 3 Februari 2026, Satoyama merupakan konsep lanskap pertanian tradisional Jepang yang memadukan sawah, hutan, sungai, dan permukiman dalam satu sistem terpadu dan berkelanjutan.
Berbeda dengan pertanian modern yang cenderung memisahkan manusia dari alam, satoyama justru berlandaskan hubungan timbal balik antara aktivitas manusia dan proses ekologis. Selama ratusan tahun, sistem ini membentuk ruang hidup yang produktif sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.
Dalam satoyama, manusia tidak diposisikan sebagai penguasa alam, melainkan sebagai pengelola yang memahami ritme alam dan menyesuaikan praktik hidupnya dengan siklus ekosistem setempat.
Baca juga : Mengenal From Farm to Table, Tren Pangan Hijau
Elemen Kunci dalam Sistem Satoyama
Struktur satoyama tersusun dari beberapa elemen utama yang saling terhubung. Persawahan padi berfungsi sebagai sumber pangan sekaligus lahan basah buatan yang menjadi habitat bagi berbagai organisme air.
Hutan coppice (hutan sekunder yang dikelola secara berkala) menyediakan kayu bakar, bahan bangunan, serta serasah daun untuk pupuk alami. Sementara itu, saluran irigasi menghubungkan hutan pegunungan dengan sawah dan desa, memastikan distribusi air yang berkelanjutan.
Pada masa lalu, setiap elemen ini dikelola secara aktif. Namun dalam kondisi modern, banyak sawah terbengkalai, hutan coppice tidak lagi dirawat, dan saluran irigasi disemen demi efisiensi, yang justru mengurangi nilai ekologisnya.
Salah satu kekuatan utama satoyama adalah siklus sumber daya tertutup. Kesuburan tanah sawah dijaga dengan mengumpulkan daun gugur dari hutan untuk dijadikan kompos.
Kotoran ternak, dan pada periode Edo bahkan limbah manusia, dimanfaatkan kembali sebagai pupuk. Hampir tidak ada limbah yang terbuang sia-sia.
Manajemen air juga dirancang berlapis. Air hujan yang diserap hutan dialirkan ke sawah bertingkat, lalu menuju desa dan sungai. Kolam irigasi dan waduk kecil bukan hanya cadangan air, tetapi juga habitat penting bagi ikan, amfibi, dan serangga air.
Penopang Keanekaragaman Hayati
Lanskap mosaik satoyama menciptakan berbagai niche ekologis yang jarang ditemukan dalam pertanian monokultur modern. Sawah yang tergenang air berfungsi sebagai lahan basah buatan yang mendukung kehidupan keong air, berudu, capung, katak, hingga burung air.
Beberapa spesies langka Jepang bahkan bergantung pada ekosistem ini, seperti tanaman air edible water shield dan salamander Hokuriku. Penelitian di Prefektur Shiga menunjukkan bahwa sawah yang dikelola dengan pendekatan Natural Agriculture, tanpa pupuk dan pestisida kimia memiliki jumlah organisme hidup per meter persegi yang lebih tinggi dibanding sawah konvensional.
Natural Agriculture menjadi salah satu pendekatan modern untuk menghidupkan kembali fungsi ekologis satoyama. Metode ini menolak input kimia dan mekanisasi berlebihan, serta mengandalkan proses alami seperti mikroorganisme tanah dan keseimbangan predator-hama.
Hasilnya bukan hanya pada kualitas pangan, tetapi juga pemulihan biodiversitas. Larva capung, serangga air, dan organisme tanah kembali bermunculan, menandakan ekosistem yang lebih sehat dan stabil.
Meski terbukti berkelanjutan, satoyama menghadapi tantangan serius. Penuaan dan penurunan populasi pedesaan menjadi ancaman utama.
Di beberapa wilayah seperti Ishikawa, hampir 80 persen petani inti berusia di atas 60 tahun. Minimnya regenerasi membuat banyak lahan pertanian ditinggalkan.
Perubahan gaya hidup juga berperan besar. Peralihan dari kayu bakar ke bahan bakar fosil menjadikan pengelolaan hutan coppice tidak lagi dianggap perlu. Di sisi lain, konsumsi beras nasional Jepang menurun, mengurangi insentif ekonomi untuk mempertahankan sawah tradisional.
Baca juga : Mengenal From Farm to Table, Tren Pangan Hijau
Dampak Industrialisasi Pertanian
Industrialisasi pertanian membawa efisiensi, tetapi juga konsekuensi ekologis. Penggunaan pupuk dan pestisida kimia, panen lebih awal, serta betonisasi saluran irigasi menyebabkan hilangnya habitat alami.
Kunang-kunang, yang dulunya menjadi simbol desa satoyama, kini semakin jarang terlihat karena keong air, makanan utamanya, menghilang.
Transformasi ini membuat lanskap pertanian kehilangan fungsi ekologisnya dan menjadi sekadar ruang produksi.
Untuk menjawab tantangan zaman, konsep satoyama kini berevolusi menjadi Urban Satoyama. Di Tokyo dan kota besar lain, petani perkotaan memanfaatkan sampah hijau kota seperti daun dari taman, sekolah, dan fasilitas umum sebagai bahan kompos.
Model ini menciptakan sirkularitas sumber daya baru di tengah kota, mengurangi limbah, sekaligus mendukung produksi pangan lokal. Urban satoyama menunjukkan bahwa prinsip harmoni manusia-alam tetap relevan, bahkan di lingkungan metropolitan.
Satoyama tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga kesehatan manusia. Studi pendahuluan menunjukkan bahwa lansia yang aktif dalam kegiatan satoyama, seperti berkebun dan merawat hutan memiliki kecepatan berjalan lebih baik, jaringan sosial lebih luas, dan tingkat frailty lebih rendah dibanding mereka yang tidak terlibat.
Aktivitas ini memberikan kombinasi manfaat fisik, mental, dan sosial yang sulit digantikan oleh gaya hidup urban modern.
Pengakuan internasional datang ketika Sistem Pertanian Noto’s Satoyama dan Satoumi ditetapkan FAO sebagai Sistem Warisan Pertanian Global (GIAHS).
Status ini tidak hanya melindungi lanskap tradisional, tetapi juga membantu membranding produk lokal dan mendorong ekowisata berkelanjutan.
Ke depan, satoyama dipandang bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan model masa depan bagi pertanian berkelanjutan, ketahanan pangan, dan hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Muhammad Imam Hatami
Editor
