Tren Pasar

Saham TLKM Masih Murah? Asing Borong Saat Pasar Berdarah

  • Apakah saham TLKM masih murah? Simak analisis fundamental Telkom, dividen jumbo, aksi beli asing, target harga analis, serta prospek bisnis 2026.
Logo Telkom - Panji 1.jpg
Gedung Telkom di kawasan Jl Gatot Subroto Jakarta. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) kembali menjadi sorotan pelaku pasar setelah mencatatkan aksi beli bersih (net buy) asing terbesar pada sesi perdagangan I,15 Juli 2026 di tengah derasnya arus dana keluar dari pasar saham Indonesia. 

Kondisi tersebut terjadi ketika harga saham TLKM masih berada di level yang relatif rendah dibandingkan rentang pergerakannya dalam setahun terakhir.

Di sisi lain, perusahaan telekomunikasi pelat merah ini tengah berada dalam fase transformasi bisnis. Laba bersih memang mengalami penurunan tajam sepanjang 2025, tetapi sebagian besar disebabkan faktor akuntansi yang bersifat non-operasional. 

Sementara itu, dividen jumbo, rencana monetisasi aset melalui InfraNexia, serta aksi buyback saham menjadi sejumlah katalis yang terus dipantau investor.

Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: ANTM dan BBRI Naik, AKRA Turun

Lantas, apakah harga TLKM saat ini benar-benar murah dan masih layak dikoleksi?

Harga TLKM Masih Dekat Titik Terendah

Berdasarkan harga penutupan perdagangan 14 Juli 2026 di level Rp2.560 per saham, TLKM masih diperdagangkan di area bawah rentang harga 52 minggunya yang berada pada kisaran Rp2.350 hingga Rp3.990. Pada sesi perdagangan I, 15 Juli 2026 TLKM tercatat minus 1,17% diangka Rp2.530..

Yang menarik, saat mayoritas investor asing melakukan aksi jual di pasar saham Indonesia, TLKM justru menjadi salah satu tujuan utama akumulasi.

Pada perdagangan 14 Juli 2026, ketika pasar mencatat net sell asing sekitar Rp830 miliar hingga Rp885 miliar, TLKM justru membukukan net buy asing sekitar:

  • Rp63 miliar berdasarkan data RTI.
  • Rp37,49 miliar berdasarkan sumber data lainnya.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa investor institusi global mulai mengoleksi TLKM di level harga yang dinilai menarik.

Salah satu contoh terlihat dari BNY Mellon yang secara konsisten menambah kepemilikannya selama sembilan hari perdagangan berturut-turut pada April 2026. Kepemilikannya meningkat dari sekitar 5,6% menjadi lebih dari 5,8%.

Laba Bersih Turun 20,5%, Bukan Karena Bisnis Inti Memburuk

Laporan keuangan audit tahun buku 2025 yang dirilis pada 12 Mei 2026 menunjukkan adanya tekanan terhadap kinerja Telkom. Sepanjang 2025, perusahaan membukukan,

  • Pendapatan sebesar Rp146,7 triliun, turun 2,2% dibandingkan Rp149,97 triliun pada 2024.
  • EBITDA sebesar Rp72,3 triliun, turun 4,4% dari Rp75,6 triliun.
  • Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp17,81 triliun, turun 20,5% dari Rp22,40 triliun.
  • Earnings per share (EPS) turun menjadi Rp179,83 dari Rp226,15.

Namun, apabila menggunakan pendekatan laba normalisasi, Telkom sebenarnya masih membukukan laba sekitar Rp22,7 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan laba yang dilaporkan sebesar Rp17,81 triliun.

Artinya, sebagian besar penurunan laba berasal dari faktor non-operasional yang bersifat satu kali (one-off), bukan karena bisnis inti perusahaan mengalami pelemahan drastis.

Baca juga : IHSG Hari Ini Dibuka Naik Tipis, PRDL Masih Ngebut

Mengapa Laba Telkom Turun Tajam?

Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan laba bersih TLKM terkoreksi sepanjang 2025.

1. Percepatan depresiasi aset

Telkom mempercepat depresiasi sejumlah aset sebagai bagian dari restrukturisasi tata kelola perusahaan dalam kerangka transformasi Danantara Indonesia. Perubahan masa manfaat aset tersebut meningkatkan beban depresiasi dan diperkirakan mengurangi laba sekitar 9,5%.

2. Kompetisi industri seluler

Telkomsel melanjutkan program rasionalisasi pelanggan dengan menghapus kartu yang tidak lagi aktif sehingga jumlah pelanggan mengalami penurunan.

3. Penurunan bisnis legacy

Pendapatan dari layanan tradisional seperti voice, interkoneksi, dan layanan jaringan terus mengalami penurunan seiring perubahan perilaku konsumen menuju layanan digital.

4. Restrukturisasi bisnis B2B ICT

Segmen solusi digital korporasi masih berada dalam tahap transformasi sehingga memberikan tekanan terhadap kinerja jangka pendek.

Dividen Jumbo, Keuangan Sehat

Salah satu daya tarik utama TLKM tetap berasal dari dividen. Dalam RUPS 2026, Telkom menetapkan pembagian dividen sebagai berikut,

  • Total dividen: Rp21,9 triliun
  • Dividen per saham (DPS): Rp223,17
  • Payout ratio: 123%
  • Sumber pembayaran berasal dari laba bersih 2025 sebesar Rp17,8 triliun ditambah saldo laba ditahan sekitar Rp4,2 triliun.
  • Cum dividen berlangsung pada 18 Juni 2026.
  • Pembayaran dividen telah dilakukan pada 10 Juli 2026.

Dengan harga saham sekitar Rp2.560, tingkat dividend yield mencapai sekitar 8,7%, termasuk salah satu yang tertinggi di antara saham-saham BUMN berkapitalisasi besar.

Manajemen juga telah menyampaikan komitmen untuk menjaga nilai nominal dividen tetap stabil meskipun laba bersih mengalami penurunan.

Meski demikian, payout ratio sebesar 123% tentu menjadi perhatian investor karena tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang apabila laba tidak kembali bertumbuh.

Dari sisi neraca, posisi keuangan Telkom masih tergolong kuat. Perusahaan memiliki,

  • Kas dan setara kas sebesar Rp34,2 triliun.
  • Total aset mencapai Rp287,76 triliun.
  • Utang jangka pendek sebesar Rp73,95 triliun.
  • Utang jangka panjang sebesar Rp63,27 triliun.
  • Total ekuitas sebesar Rp150,54 triliun.

Dengan kondisi tersebut, rasio Debt to Equity Ratio (DER) berada di kisaran 0,91 kali, sementara rasio utang terhadap EBITDA sekitar 1,90 kali. Besarnya kas memberikan fleksibilitas bagi Telkom untuk mendanai ekspansi, investasi jaringan, maupun aksi korporasi lainnya.

Baca juga : Gurita Bisnis Chairul Tanjung, Ini Daftar Perusahaan CT Corp

Sejumlah analis menilai harga TLKM saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya. Rata-rata target harga analis mencapai sekitar Rp3.629 per saham, memberikan potensi kenaikan sekitar 41,8% dibandingkan harga Rp2.560.

Sementara itu:

  • DBS menetapkan target harga Rp4.030, yang berarti upside sekitar 57,4%.
  • Simply Wall St memperkirakan nilai wajar sekitar Rp3.629, atau sekitar 31,7% lebih tinggi dari harga pasar.
  • GuruFocus GF Value menempatkan nilai wajarnya di kisaran Rp3.129, yang juga masih menunjukkan saham diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya.

Untuk 2026, manajemen menargetkan pertumbuhan pendapatan pada kisaran low hingga mid single digit, atau sekitar 2–5%. Sejumlah proyeksi analis memperkirakan,

  • Pendapatan mencapai sekitar Rp150,4 triliun, naik 2,5%.
  • Laba bersih sekitar Rp21,58 triliun, tumbuh sekitar 21%.
  • EPS diproyeksikan naik menjadi Rp215,17, meningkat sekitar 19,7%.

Jika target tersebut tercapai, maka penurunan laba pada 2025 dapat dikatakan hanya bersifat sementara.

Program TLKM 30 Jadi Motor Transformasi

Dalam beberapa tahun ke depan, Telkom menjalankan transformasi melalui program TLKM 30 yang berfokus pada empat strategi utama, yakni:

  • Operational and Service Excellence.
  • Streamlining melalui integrasi maupun divestasi anak usaha.
  • Unlock Value dengan monetisasi aset.
  • Transformasi model operasi perusahaan.

Hingga pertengahan 2026, Telkom telah mengintegrasikan maupun melakukan divestasi terhadap sekitar 10 anak usaha sebagai bagian dari proses penyederhanaan struktur bisnis.

Katalis terbesar yang paling banyak diperhatikan investor adalah pembentukan InfraNexia atau PT Telkom Infrastruktur Indonesia. Melalui perusahaan tersebut, Telkom memisahkan bisnis jaringan fiber wholesale agar memiliki valuasi yang lebih optimal.

Tahap pertama sudah berjalan dengan memindahkan sekitar 56% aset fiber, termasuk jaringan backhaul dan last mile, dengan nilai aset sekitar Rp35,8 triliun.

Tahap kedua yang mencakup sekitar 44% aset kabel laut semula ditargetkan selesai pada semester I-2026, tetapi kemudian diundur menjadi kuartal III-2026.

Bisnis ini menghasilkan EBITDA sekitar Rp5 triliun per tahun dan diperkirakan layak memperoleh valuasi EV/EBITDA sekitar 9,5 hingga 10 kali, jauh lebih tinggi dibanding valuasi TLKM saat ini yang berada di sekitar 5 kali EBITDA.

Apabila Telkom nantinya melepas sekitar 20–30% saham InfraNexia kepada strategic investor, sejumlah analis memperkirakan langkah tersebut berpotensi menambah nilai kapitalisasi pasar TLKM hingga sekitar Rp25–30 triliun.

Data Center, Divestasi, dan Buyback Jadi Katalis Tambahan

Selain InfraNexia, terdapat sejumlah agenda strategis lain yang dapat menjadi pendorong harga saham.

Pertama, proses penjualan 46% saham bisnis data center telah memasuki tahap akhir dan ditargetkan selesai sebelum akhir 2026.

Kedua, Telkom telah menyelesaikan divestasi bisnis kesehatan melalui penjualan AdMedika kepada Fullerton Health dengan nilai transaksi sekitar Rp700 miliar.

Ketiga, RUPS juga menyetujui program buyback saham hingga Rp4 triliun yang dapat dijalankan sepanjang Juni 2026 hingga Juni 2027.

Meski prospek jangka panjang dinilai menarik, kinerja kuartal pertama 2026 masih memperlihatkan sejumlah tantangan. EBITDA pada kuartal I-2026 tercatat sekitar Rp17,9 triliun, sedikit di bawah ekspektasi pasar dan baru mencapai sekitar 24% dari target tahunan.

Beberapa penyebabnya antara lain:

  • ARPU Telkomsel masih stagnan secara kuartalan.
  • Jumlah pelanggan turun menjadi sekitar 153,7 juta, atau turun sekitar 1,5% dibanding kuartal sebelumnya.
  • Beban operasional, terutama biaya pemeliharaan jaringan, masih relatif tinggi.

Meski demikian, terdapat sinyal positif dari kualitas pelanggan. Exit ARPU pada Maret 2026 telah meningkat menjadi sekitar Rp47 ribu, sementara proyeksi ARPU sepanjang 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp46,3 ribu, atau naik sekitar 8% dibandingkan tahun sebelumnya.

Kenaikan ARPU tersebut menunjukkan strategi meningkatkan kualitas pelanggan mulai memberikan hasil meski jumlah pelanggan menurun.

Peluang dan Risiko yang Perlu Dicermati Investor

Di satu sisi, terdapat sejumlah faktor yang mendukung prospek TLKM.

Investor asing mulai melakukan akumulasi ketika harga berada di level rendah. Dividend yield mencapai sekitar 8,7% masih sangat menarik dibandingkan instrumen investasi lain. Target harga analis juga masih menunjukkan potensi kenaikan lebih dari 40%.

Selain itu, monetisasi aset melalui InfraNexia, posisi kas yang kuat, serta laba normalisasi yang tetap solid menunjukkan fundamental bisnis inti masih relatif sehat.

Namun investor juga perlu memperhatikan beberapa risiko.

Pendapatan perusahaan masih mengalami tekanan selama dua tahun terakhir. Jumlah pelanggan Telkomsel masih menurun. Tahap kedua spin-off InfraNexia mengalami penundaan ke kuartal III-2026. Restrukturisasi bisnis ICT korporasi juga masih membutuhkan waktu untuk memberikan hasil.

Di sisi lain, payout ratio dividen yang mencapai 123% berpotensi sulit dipertahankan apabila pemulihan laba tidak berjalan sesuai target.