Saham DEWA 2026 : Laba Meledak, Harga Koreksi 50 Persen, Masih Layak Beli?
- Laba DEWA melonjak 7.695% di 2025, tapi harga sahamnya sudah koreksi 50% dari puncak. Ini bedah fundamental, pergerakan harga, dan apakah masih layak dibeli.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Tidak banyak saham di BEI yang bisa mencatat turnaround sekeras ini. PT Darma Henwa Tbk (DEWA) membukukan laba bersih Rp4,31 triliun sepanjang 2025, melonjak 7.695% dari Rp55,24 miliar di 2024.
Angka itu bukan salah ketik, bukan karena harga batu bara meledak. Ini cerita tentang perubahan model bisnis yang benar-benar mengubah struktur laba perusahaan.
Tapi harga sahamnya sekarang ada di level Rp400-an. Padahal puncaknya menyentuh Rp865. Pertanyaannya sederhana, apa yang terjadi, dan apakah ini peluang atau jebakan?
Siapa DEWA dan Apa yang Berubah?
DEWA bukan penambang, tapi “tulang punggung operasional” tambang, DEWA adalah kontraktor tambang. Mereka tidak memiliki konsesi batu bara, tapi menyediakan jasa inti yakni overburden removal (pengupasan tanah penutup), pengangkutan, hingga pengelolaan alat berat di area tambang milik klien.
Klien utamanya termasuk:
- PT Arutmin Indonesia
- PT Kaltim Prima Coal
Artinya, kinerja DEWA sangat bergantung pada volume produksi klien dan kontrak jasa, bukan langsung ke harga batu bara (meski tetap terpengaruh secara tidak langsung).
Masalah lama: margin tergerus subkontraktor
Model lama DEWA banyak mengandalkan subkontraktor alat berat, dampaknya sebagai berikut,
- Biaya operasional tinggi (harus bagi margin dengan vendor)
- Kontrol efisiensi rendah
- Laba tipis meski proyek besar
Ini membuat DEWA seperti “middleman operasional”, kerja besar, tapi keuntungan relatif kecil.
Baca juga : LQ45 Index Hari Ini Senin, 04 Mei 2026 Dibuka Naik ke 671,55 Poin
Titik balik: strategi insourcing alat berat
Perubahan kunci terjadi saat DEWA mulai membangun dan memiliki armada sendiri:
- Mengurangi ketergantungan pada subkontraktor
- Biaya jangka panjang lebih rendah (meski capex naik di awal)
- Kontrol operasional lebih tinggi (utilisasi alat, produktivitas, downtime)
Efeknya langsung terasa di laporan keuangan:
- Margin naik signifikan
- Laba melonjak, bahkan tanpa pertumbuhan pendapatan yang spektakuler
Ini tipikal operating leverage, begitu biaya tetap sudah tertutup, tambahan efisiensi langsung “jatuh” ke laba. Kenapa laba bisa “meledak”? karena ada pergeseran struktur biaya:
- Dulu: biaya variabel tinggi (bayar subkon terus)
- Sekarang: lebih banyak biaya tetap (alat sendiri), tapi cost per unit turun
- Hasilnya pendapatan stagnan sedikit saja pun bisa menghasilkan lonjakan laba besar.
DEWA terafiliasi dengan grup bisnis Bakrie Group dan berada dalam ekosistem perusahaan yang terhubung dengan grup tersebut. Bakrie sendiri memiliki rekam jejak panjang di sektor sumber daya, termasuk batu bara melalui Bumi Resources Tbk.
Keterkaitan ini membuka potensi akses terhadap proyek dan jaringan klien dalam ekosistem yang sama, namun pada praktiknya kontrak yang dijalankan DEWA tetap bersifat komersial, sehingga tidak otomatis diperoleh tanpa mempertimbangkan kinerja dan efisiensi perusahaan.
Baca juga : IHSG Hari Ini Senin, 04 Mei 2026 Dibuka Naik ke 6.988,92 Poin
Bedah Laporan Keuangan 2025
Kinerja PT Darma Henwa Tbk di 2025 terlihat sangat kuat di permukaan, terutama dari sisi margin dan laba. Namun, ada faktor non-operasional yang perlu dipisahkan agar tidak salah baca kualitas keuntungannya.
Margin & profitabilitas
- Gross margin: 15,1%
- EBITDA margin: 26,1%
- Net margin: 67,4%
- EPS: Rp105,85 per saham
→ Net margin 67,4% sangat tinggi untuk kontraktor tambang, tapi tidak sepenuhnya mencerminkan operasi inti.
Ada faktor non-operasional (one-time gain)
- Laba besar dipengaruhi konsolidasi anak usaha PT Gayo Mineral Resources
- Persetujuan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (November 2025)
- Laporan GMR mulai dikonsolidasi penuh ke DEWA
→ Ini menciptakan keuntungan sekali (one-off) yang tidak berulang di 2026
Kinerja operasional (ini yang lebih “real”)
- Laba bersih Q3 2025: Rp239,14 miliar (+519,28% YoY)
- Pendapatan: Rp4,65 triliun (+2,81%)
- Beban pokok: turun 5,25% jadi Rp3,98 triliun
- Laba bruto: naik 106,64% jadi Rp673,15 miliar
→ Artinya: laba naik bukan karena revenue meledak, tapi karena efisiensi biaya
Arus kas (kualitas laba mulai solid)
- Arus kas operasi (Juni 2025): +106,62%
→ Menunjukkan laba yang dihasilkan bukan sekadar angka akuntansi, tapi mulai kuat secara kas
Neraca & strategi ekspansi
- Fasilitas kredit Rp5 triliun dari:
- Bank Central Asia
- Bank Mandiri
- Digunakan untuk:
- Pembelian alat berat
- Belanja modal
- Operasional proyek
→ Utang naik, tapi untuk ekspansi produktif (insourcing alat), bukan menutup kerugian
Pergerakan Saham 3 Bulan Terakhir
Dalam 3 bulan terakhir, saham PT Darma Henwa Tbk mengalami perjalanan yang cukup ekstrem. Di awal Januari 2026, harga sempat menyentuh puncaknya di Rp866. Setelah itu, tren langsung berbalik arah dan mulai turun secara bertahap.
Memasuki Februari hingga awal Maret, tekanan jual semakin kuat. Puncaknya terjadi pada 11 Maret, ketika investor asing melepas sekitar 160 juta lembar saham dalam satu hari. Tekanan sebesar ini membuat harga turun lebih cepat karena banyak pelaku pasar ikut-ikutan menjual.
Di sisi lain, valuasi saham saat itu sebenarnya sudah cukup mahal. Dengan P/E Ratio 65,50x dan PBV 4,56x, harga DEWA berada jauh di atas rata-rata saham sektor energi. Artinya, sejak awal harga sudah mencerminkan ekspektasi yang sangat tinggi.
Memasuki April, sempat ada kenaikan harga setelah rekomendasi beli dari sekuritas, yang mendorong saham naik ke Rp505. Namun, kenaikan ini tidak bertahan lama, menandakan minat beli mulai melemah.
Jika dilihat lebih luas, dalam 52 minggu saham ini pernah berada di level sangat rendah Rp83 dan melonjak hingga Rp865. Kenaikan setinggi itu biasanya memang diikuti koreksi besar.
Per awal Mei 2026, harga berada di kisaran Rp392–Rp416. Artinya, dari puncaknya, saham ini sudah turun lebih dari 50%. Ini bukan sekadar fluktuasi biasa, tapi koreksi dalam setelah periode kenaikan yang sangat cepat.
Kenapa Sahamnya Jatuh Separuh Padahal Laba Meledak?
Ada beberapa penjelasan yang masuk akal. Pertama, valuasi terlalu cepat berlari mendahului fundamental. Ketika saham naik dari Rp83 ke Rp865 dalam setahun lebih, pasar sudah mempricing-in banyak ekspektasi positif. Begitu laba dirilis dan tidak ada kejutan tambahan, profit taking masif tidak bisa dihindari.
Kedua, target produksi batu bara nasional turun dari sekitar 790 juta ton di 2025 menjadi sekitar 600 juta ton di 2026, yang berpotensi menekan volume pekerjaan kontraktor. Implementasi kebijakan B50 juga meningkatkan tekanan biaya operasional pada konsumsi bahan bakar armada berat.
Ketiga, tekanan makro. IHSG tertekan sepanjang kuartal pertama 2026, asing net sell besar-besaran, dan saham-saham dengan valuasi premium seperti DEWA jadi yang pertama dilepas ketika risk appetite turun.
Valuasi Sekarang: Murah atau Perangkap?
PER DEWA saat ini berada di level 4,6x, sangat murah untuk ukuran emiten dengan pertumbuhan laba seperti ini. Tapi angka semurah ini berpotensi menjadi value trap atau peluang deep value yang besar.
Dua interpretasi yang sama-sama valid:
Bullish case, laba 2025 membuktikan model insourcing bekerja. DEWA diproyeksikan mencatat pertumbuhan laba bersih CAGR 44% pada periode 2025-2028.
Analis Bahana Sekuritas menilai valuasi premium wajar karena adanya titik balik pendapatan struktural. Target harga analis rata-rata berada di Rp937, dengan estimasi tertinggi Rp1.392 dan terendah Rp704. Empat analis merekomendasikan beli, nol merekomendasikan jual.
Bearish case, laba 2025 mengandung one-time gain dari konsolidasi GMR. Tanpa itu, profitabilitas inti belum setinggi yang terlihat di headline. Volume pekerjaan 2026 terancam turun seiring penurunan target produksi batu bara nasional. Dan saham dengan beta 2,48 seperti DEWA sangat rentan terhadap volatilitas pasar keseluruhan.
Yang Harus Kamu Pantau ke Depan
Earnings Q1 2026 yang akan dirilis 28 Mei 2026 adalah ujian pertama. Data tersebut akan memperlihatkan apakah laba bisa sustain tanpa suntikan konsolidasi GMR.
Manajemen menargetkan total volume overburden tahun ini sebanyak 150-160 juta bcm, naik 8-15% dari realisasi 2025 sebesar 139 juta bcm. Kalau angka Q1 mendukung target itu, narasi recovery bisa kembali.
Selain itu pantau pengumuman RUPST 2026 soal dividen dari laba 2025. Jika ada dividen, bisa jadi katalis positif yang kuat.

Muhammad Imam Hatami
Editor
