Tren Pasar

Saham BYAN Terkoreksi 5,24 Persen, Haji Isam Belum Resmi Jadi Pemegang Saham

  • Saham BYAN terkoreksi 5,24% setelah melonjak 19,96%. Haji Isam belum resmi memiliki 30% saham karena transaksi masih dalam tahap CSPA.
Pertambangan Batu Bara BYAN.jpg
Pertambangan batu bara milik PT Bayan Resources Tbk (BYAN). (bayan.com.sg)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) kembali terkoreksi setelah sebelumnya melonjak hampir 20% dalam satu hari perdagangan. Pada perdagangan Senin, 21 September 2026, saham BYAN ditutup di level Rp13.100, turun Rp725 atau 5,24% dari penutupan sebelumnya.

Koreksi tersebut terjadi setelah BYAN sebelumnya melesat 19,96% menjadi Rp13.825 pada perdagangan Jumat, 18 September 2026. Lonjakan saham terjadi setelah pasar merespons rencana pengalihan 30% saham Bayan Resources kepada PT Jhonlin Baratama, perusahaan milik pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam.

Namun, ada satu hal penting yang perlu diperhatikan investor. Haji Isam belum tercatat secara resmi sebagai pemegang 30% saham BYAN per 21 September 2026. Transaksi tersebut masih berupa perjanjian jual beli saham bersyarat atau Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA).

Haji Isam Baru Teken CSPA

Berdasarkan keterbukaan informasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, Low Tuck Kwong dan Elaine Low menandatangani CSPA dengan PT Jhonlin Baratama pada 16 September 2026.

Perjanjian tersebut mencakup pengalihan 10.000.000.500 saham BYAN, setara sekitar 30% dari total saham perseroan. Bayan Resources memiliki total 33.333.335.000 saham.

Bayan menegaskan penyelesaian transaksi masih bergantung pada pemenuhan sejumlah kondisi pendahuluan. Artinya, penandatanganan CSPA belum sama dengan penyelesaian atau closing transaksi.

Baca juga : Hanya 4 Saham yang Naik di Penutupan LQ45 Hari Ini

Jika seluruh persyaratan terpenuhi dan transaksi selesai, Jhonlin Baratama akan memiliki sekitar 30% saham BYAN.

Dengan posisi tersebut, struktur kepemilikan akan berubah dibandingkan struktur sebelum transaksi. Namun, perubahan tersebut baru berlaku setelah proses transaksi diselesaikan dan saham benar-benar dialihkan.

Low Tuck Kwong Masih Jadi Pemegang Utama

Per data pemegang saham yang tersedia sebelum transaksi, Low Tuck Kwong masih menjadi pemegang saham utama BYAN dengan kepemilikan sekitar 40,2%. Situs resmi Bayan mencatat Low Tuck Kwong memiliki 40,22% saham dengan hak suara per 31 Maret 2026.

Dengan demikian, kabar rencana masuknya Jhonlin Baratama perlu dibedakan antara rencana transaksi dan kepemilikan saham yang telah efektif.

Perubahan harga saham BYAN pada perdagangan terakhir lebih mencerminkan respons pasar terhadap informasi transaksi dan perkembangan perusahaan, sementara perubahan daftar pemegang saham membutuhkan penyelesaian transaksi terlebih dahulu.

Pasar sebelumnya langsung merespons positif kabar CSPA tersebut. Pada 18 September 2026, BYAN melonjak 19,96% ke Rp13.825.

Baca juga : IHSG Ditutup Ambles 0,88 Persen, Emiten Haji Isam TEBE-PACK Jebol

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan terdapat sejumlah faktor yang menjadi perhatian pasar, termasuk penyelesaian transaksi Jhonlin-BYAN, kejelasan RKAB, harga transaksi 30% saham, serta struktur kontrol setelah transaksi.

Setelah kenaikan tajam tersebut, saham BYAN kemudian mengalami koreksi pada 21 September. Pada perdagangan hari itu, saham sempat dibuka di Rp13.750 dan bergerak hingga Rp13.875 sebelum berada di Rp13.100 berdasarkan data perdagangan yang tersedia.

Pergerakan tersebut menunjukkan pasar sedang mencerna sejumlah katalis sekaligus, mulai dari rencana masuknya Jhonlin Baratama hingga persoalan kuota produksi batu bara Bayan.

RKAB Jadi Perhatian Pasar

Selain transaksi dengan Jhonlin Baratama, perkembangan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 menjadi faktor penting bagi prospek produksi BYAN.

Sebelumnya, Bayan menyatakan kondisi kahar atau force majeure atas kewajiban pasokan batu bara kepada sejumlah pelanggan. Hal tersebut berkaitan dengan belum terbitnya persetujuan perubahan RKAB 2026 untuk tiga anak usaha, yakni PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima.

Pada 21 September 2026, BYAN mendapatkan tambahan kuota produksi batu bara sekitar 15 juta hingga 20 juta ton. Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar setelah sebelumnya ketidakpastian kuota produksi menekan prospek operasional perseroan.

Moody's Ratings sebelumnya mengubah outlook BYAN dari stabil menjadi negatif, tetapi tetap mempertahankan peringkat korporasi di level Ba1. Moody's menyebut ketidakpastian terkait alokasi kuota produksi dapat membatasi produksi dan menekan pendapatan apabila tidak segera diselesaikan.

Jika tambahan kuota tidak diperoleh, Moody's memperkirakan produksi BYAN dapat berada di sekitar 39 juta ton pada 2026, jauh di bawah sekitar 68 juta ton pada 2025. EBITDA juga diperkirakan dapat turun menjadi sekitar US$700 juta pada 2026 dari sekitar US$1,1 miliar pada 2025.

Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: MEDC dan AMMN Melesat, EXCL Tiarap

Fundamental Semester I Masih Tumbuh

Di tengah persoalan produksi dan aksi korporasi, kinerja keuangan Bayan pada semester I 2026 masih menunjukkan pertumbuhan.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, Bayan mencatat pendapatan sekitar US$1,74 miliar pada semester I 2026. Laba bersih mencapai sekitar US$410 juta, meningkat sekitar 17% secara tahunan. Data laporan keuangan semester I 2026 tersedia dalam laporan interim yang dipublikasikan Bayan pada 30 Juli 2026.

Bayan sendiri merupakan produsen batu bara terintegrasi dengan operasi tambang di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Perusahaan menyebut konsesi Tabang menjadi aset produksi utama dan menyumbang sekitar 80% produksi batu bara Bayan.

Dengan demikian, terdapat beberapa perkembangan yang masih menjadi perhatian pasar BYAN.

  • Pertama, penyelesaian CSPA antara Low Tuck Kwong, Elaine Low dan Jhonlin Baratama. Selama transaksi belum selesai, Jhonlin Baratama belum dapat diperlakukan sebagai pemegang 30% saham BYAN secara efektif.
  • Kedua, realisasi tambahan kuota produksi dan dampaknya terhadap volume produksi serta penjualan Bayan.
  • Ketiga, perkembangan outlook Moody's, terutama setelah ketidakpastian RKAB mulai mendapatkan kejelasan.
  • Keempat, pergerakan saham setelah lonjakan 19,96% pada 18 September. Koreksi 5,24% pada 21 September menunjukkan harga BYAN masih bergerak volatil setelah pasar merespons sejumlah informasi besar dalam waktu singkat.

Dengan kata lain, cerita BYAN saat ini tidak hanya mengenai masuknya Haji Isam. Pasar juga masih menunggu apakah transaksi 30% saham benar-benar selesai, bagaimana struktur kepemilikan berubah setelah closing, serta apakah tambahan kuota produksi mampu memperbaiki visibilitas operasional Bayan.