Tren Pasar

Saham BUMI Terus Menanjak, Bisa Tembus Level 400-an Lagi?

  • Saham BUMI menembus level Rp200 dan sempat menyentuh Rp210. Aksi beli asing, kinerja laba, dan diversifikasi menjadi katalis utama.
36_bumi-resources-minerals_950.jpg
Pertambangan mineral emas (Istimewa)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali menjadi perhatian setelah berhasil menembus level psikologis Rp200 per saham. Penguatan tersebut terjadi di tengah aksi beli investor asing dan kinerja keuangan perseroan yang mencatat pertumbuhan laba signifikan sepanjang semester I 2026.

Pada penutupan perdagangan Selasa, 1 September 2026, saham BUMI ditutup di level Rp206 per saham, menguat 7,29% dalam sehari. Dalam sebulan terakhir, harga saham emiten batu bara tersebut telah meningkat sekitar 24%.

Meski demikian, pergerakan tersebut belum sepenuhnya menghapus tekanan sepanjang tahun berjalan. Secara year-to-date (YTD), saham BUMI masih berada sekitar 44,2% di bawah level tertingginya pada awal 2026, ketika saham sempat menyentuh Rp480 per saham.

Penguatan terbaru BUMI juga berlangsung bersamaan dengan meningkatnya transaksi investor asing. Kondisi tersebut membuat level Rp200 menjadi salah satu area yang kembali diperhatikan pelaku pasar.

Fundamental Asing Borong Saham BUMI

Salah satu katalis yang menjadi perhatian dalam pergerakan saham BUMI adalah meningkatnya transaksi beli oleh investor asing.

Pada perdagangan Selasa, 1 September 2026, investor asing mencatatkan net buy saham BUMI sebesar Rp172,27 miliar, menempatkannya di posisi ketiga saham dengan pembelian bersih asing terbesar pada perdagangan tersebut, di bawah BBRI dan BBCA. 

Aksi beli asing tersebut berlangsung bersamaan dengan penguatan saham BUMI sebesar 7,29% ke level Rp206 per saham. Memasuki perdagangan Rabu, 2 September 2026, saham BUMI kembali melanjutkan penguatan dan sempat melesat ke level Rp210 per saham.

Baca juga : IHSG Dibuka Naik 0,28 Persen, Cek Data Lengkapnya

Secara fundamental, BUMI masih merupakan salah satu pemain utama industri batu bara Indonesia. Perseroan menjalankan bisnis batu bara melalui dua anak usaha utama, yakni PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia.

Pada kuartal I 2026, produksi KPC mencapai sekitar 12,4 juta ton, sedangkan produksi Arutmin mencapai 6,9 juta ton. Dengan basis aset tersebut, BUMI diperkirakan dapat mempertahankan volume produksi dan penjualan batu bara yang besar sepanjang 2026.

Target penjualan batu bara perseroan pada 2026 diperkirakan berada di kisaran 82 juta-84 juta ton. Asumsi harga jual rata-rata berada pada kisaran US$60-US$62 per ton, sementara biaya produksi diperkirakan sekitar US$42-US$44 per ton.

Perseroan juga memiliki cadangan batu bara lebih dari 2,4 miliar ton berdasarkan data 2024. Besarnya cadangan dan kapasitas produksi tersebut menjadi fondasi utama bisnis BUMI. Namun, pada saat yang sama, tingginya ketergantungan terhadap batu bara membuat kinerja keuangan perseroan tetap sensitif terhadap perubahan harga komoditas.

Laba BUMI

Dari sisi kinerja keuangan, BUMI membukukan pertumbuhan yang signifikan sepanjang enam bulan pertama 2026. Pendapatan perseroan mencapai sekitar US$867 juta, meningkat 27,9% secara tahunan.

Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$58,9 juta, tumbuh 188,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba tersebut berjalan seiring dengan peningkatan produksi dan penjualan batu bara.

Produksi batu bara BUMI pada semester I 2026 mencapai sekitar 38,5 juta ton, naik 7,1% yoy. Volume penjualan mencapai 38,8 juta ton, meningkat 11,7% yoy. Adapun harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) batu bara berada di sekitar US$62,9 per ton, tumbuh 2,6% yoy.

Kinerja kuartal II 2026 menjadi salah satu faktor yang membuat pertumbuhan laba BUMI terlihat semakin kuat. Pada periode tersebut, laba bersih BUMI mencapai sekitar US$35 juta. Angka tersebut meningkat 43,7% dibandingkan kuartal I 2026.

Jika dibandingkan dengan kuartal II 2025, laba bersih tersebut melonjak sekitar 1.266%. Peningkatan laba tidak hanya berkaitan dengan harga jual batu bara. Efisiensi operasional juga menjadi salah satu faktor penting.

Hal tersebut terlihat dari penurunan stripping ratio atau rasio kupasan, dari sekitar 8,1 kali menjadi 7,5 kali. Stripping ratio yang lebih rendah menunjukkan jumlah material penutup yang harus dipindahkan untuk memperoleh batu bara menjadi lebih rendah. Secara operasional, kondisi tersebut dapat membantu meningkatkan efisiensi biaya produksi.

Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: MEDC dan BBCA Perkasa, HRTA Tiarap

BUMI Mulai Diversifikasi ke Emas, Tembaga hingga Metanol

Selain mempertahankan bisnis batu bara, BUMI juga tengah membangun sumber pertumbuhan baru melalui diversifikasi ke sektor mineral dan hilirisasi. Strategi tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bisnis batu bara dalam jangka panjang.

Manajemen menargetkan kontribusi EBITDA dari bisnis non-batu bara dapat mencapai sekitar 40% ke depan. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah ekspansi ke sektor emas dan tembaga di Australia melalui rencana akuisisi Loyal Metals Limited (LLM).

Aksi korporasi tersebut telah memperoleh persetujuan sekitar 99,86% pemegang saham, dengan harga pembelian yang disebut mencapai A$0,45 per saham. Masuknya BUMI ke aset emas dan tembaga menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperluas portofolio komoditas di luar batu bara.

Selain mineral logam, BUMI juga mengembangkan bisnis hilirisasi batu bara melalui proyek coal-to-methanol. Anak usaha perseroan, KPC dan Arutmin, terlibat dalam pengembangan proyek tersebut dengan kapasitas produksi metanol yang ditargetkan mencapai sekitar 2 juta ton per tahun.

BUMI juga menjajaki sektor bauksit melalui kerja sama dengan PT Laman Mining di Kalimantan Barat. Dengan berbagai proyek tersebut, transformasi BUMI tidak lagi hanya mengandalkan ekspansi volume batu bara, tetapi mulai diarahkan menuju perusahaan tambang dengan portofolio multi-mineral dan hilirisasi.

Baca juga : Analisis dan Insight Harga Emas Antam Hari Ini 2 September 2026

BUMI Pernah Sentuh Rp480 pada Awal 2026

Pergerakan saham BUMI pada 2026 sebenarnya telah mengalami volatilitas yang sangat tinggi. Pada Januari 2026, harga saham BUMI sempat melonjak hingga Rp480 per saham.

Kenaikan tersebut salah satunya dipengaruhi ekspektasi terkait peluang masuknya BUMI ke dalam indeks MSCI. Saat itu, pasar memperkirakan masuknya saham ke indeks global dapat mendorong potensi aliran dana pasif dalam jumlah besar.

Namun, setelah sentimen tersebut mereda dan harga batu bara mengalami tekanan, saham BUMI mengalami koreksi panjang. Harga kemudian bergerak turun dan membentuk area perdagangan di sekitar Rp190-Rp200.

Kondisi tersebut membuat keberhasilan saham menembus Rp200 pada perdagangan terbaru menjadi penting dari perspektif teknikal. Level tersebut sebelumnya menjadi salah satu area yang cukup mendapat perhatian pasar.

Sejumlah analis melihat masih terdapat ruang kenaikan bagi saham BUMI. Salah satunya adalah Samuel Sekuritas, yang disebut memberikan target harga BUMI di level Rp300 per saham.

Sementara itu, analisis teknikal jangka pendek melihat potensi pergerakan menuju kisaran Rp202-Rp224.vMeski demikian, target harga bukan merupakan kepastian pergerakan saham. Harga saham dapat berubah mengikuti kondisi pasar, sentimen komoditas, kinerja emiten, maupun arus dana investor.

Dari sisi teknikal, terdapat pula skenario koreksi setelah kenaikan terbaru. Beberapa analisis melihat pergerakan BUMI sebagai bagian dari gelombang koreksi atau wave B. Jika tekanan jual kembali muncul, area Rp164-Rp184 dapat menjadi salah satu wilayah support yang perlu diperhatikan.