Saham Blue Chip LQ45 dan IHSG Tersungkur Usai Trump Ketok Kebijakan Tarif Impor
- Sejumlah saham blue chip mengalami tekanan pada perdagangan Senin, 3 Februari 2025, akibat sentimen penerapan kebijakan tarif impor di Amerika Serikat (AS). Kondisi ini menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 2%.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA – Sejumlah saham blue chip mengalami tekanan pada perdagangan Senin, 3 Februari 2025, akibat sentimen penerapan kebijakan tarif impor di Amerika Serikat (AS). Kondisi ini menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 2%.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, hingga pukul 10.26 WIB, IHSG tercatat berada di level 6.962,90. Indeks LQ45, yang berisi saham-saham blue chip, juga turun 2,13%. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi top loser dengan pelemahan 4,98% ke level Rp5.725 per saham.
Emiten blue chip lainnya, seperti PT Astra International Tbk (ASII) juga melemah 1,04% ke level Rp4.750 per saham, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) turun 2,78% ke level Rp1.050 per saham, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) turun 0,74% ke level Rp2.670 per saham.
- Saham NISP Melaju Usai Laba 2024 Naik Double Digit
- Harga Sembako di DKI Jakarta Hari Ini: Ayam Broiler/Ras Naik, Ikan Mas Turun
- Pembukaan LQ45 Hari Ini Dipimpin PGEO, MBMA, dan MTEL
Di sisi lain, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) bergerak stagnan di level Rp1.390 per saham. Adapun saham blue chip yang menguat hanya PT Merdeka Battery Mineral Tbk (MBMA), PT XL Axiata Tbk (EXCL), dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI).
Di sisi lain, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) bergerak stagnan di level Rp1.390 per saham. Sementara itu, hanya beberapa saham blue chip yang mengalami penguatan, yakni PT Merdeka Battery Mineral Tbk (MBMA), PT XL Axiata Tbk (EXCL), dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI).
Investor Analyst Stockbit Sekuritas, Edi Chandren, menjelaskan bahwa IHSG berada di bawah tekanan setelah Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan kebijakan tarif impor baru pada Sabtu, 1 Februari 2025.
Kebijakan tersebut mencakup penerapan tarif impor sebesar 25% untuk Kanada dan Meksiko, tambahan tarif impor sebesar 10% di atas tarif yang sudah ada untuk China mulai Selasa, 4 Februari 2025, serta pajak 10% untuk impor minyak dari Kanada. Selain itu, ada kemungkinan tambahan tarif untuk minyak dan gas yang akan diumumkan pada pertengahan Februari 2025.
“Sebagai respons, Kanada dan Meksiko yang merupakan dua mitra dagang terbesar AS segera mengumumkan tarif balasan. Sementara itu, China berencana menantang kebijakan ini di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) serta mengambil langkah-langkah balasan lainnya. Kanada sendiri telah mengenakan tarif 25% pada impor AS senilai US$155 miliar,” jelasnya dalam riset pada Senin, 3 Februari 2025.
Pengumuman kebijakan tarif ini juga berdampak pada pasar global. Indeks USD (DXY) menguat ke 109,7 (+1,1%), sementara indeks saham berjangka AS melemah di sesi pagi perdagangan Asia. Nasdaq futures turun 2,35%, S&P 500 futures turun 1,8%, dan Nikkei Index Jepang turun 2,4% pada pembukaan perdagangan pagi ini.
Edi juga bilang penguatan dolar AS berpotensi memberikan tekanan tambahan bagi IHSG seiring meningkatnya ketidakpastian di pasar global. Hingga perdagangan tadi pagi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga ambruk menjadi Rp16.440 per US$.
Di pasar komoditas, kata Edi, harga minyak global acuan WTI di pasar futures naik 2% ke level US$73,97 per barel akibat kekhawatiran terganggunya pasokan minyak mentah dari Kanada dan Meksiko.
Sementara itu, harga emas mencatat rekor baru di atas US$2.800 per ons (+0,6%) pada Jumat, 31 Januari 2025, didorong permintaan safe haven akibat kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi global dan tekanan inflasi.

Ananda Astridianka
Editor
