Saham Big Banks Tertekan, Smart Money Mulai Masuk?
- Mengapa saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI anjlok pada 2026? Simak penyebab aksi jual asing, valuasi terbaru, serta indikasi akumulasi smart money.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham perbankan berkapitalisasi besar atau big banks menjadi salah satu sektor yang paling tertekan sepanjang semester I-2026.
Di tengah aksi jual investor asing dan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), muncul pertanyaan di kalangan investor, apakah penurunan harga saham bank-bank besar hanya akibat sentimen pasar, atau justru sedang dimanfaatkan oleh investor besar untuk melakukan akumulasi secara diam-diam?
Terdapat dua fenomena yang terjadi secara bersamaan. Di satu sisi, investor asing masih melakukan aksi jual besar-besaran terhadap saham perbankan. Namun di sisi lain, sejumlah direksi bank dan investor nilai (value investor) mulai menambah kepemilikan saham saat harga terkoreksi.
Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: INCO dan BRPT Ngebut, CPIN Turun
Mengapa Saham Big Bank Turun Tajam?
Tekanan terhadap saham perbankan terjadi seiring pelemahan pasar saham Indonesia pada semester pertama 2026.
IHSG tercatat turun sekitar 34,74% sepanjang Januari–Juni 2026 dan ditutup di level 5.643,19 pada 30 Juni 2026. Saham-saham perbankan menjadi kontributor utama pelemahan indeks tersebut.
Beberapa faktor yang memicu tekanan antara lain:
- Investor asing mencatat net foreign sell sekitar Rp60,2 triliun sepanjang semester I-2026.
- Bursa Efek Indonesia menurunkan bobot saham BBCA dan BBRI dalam perhitungan IHSG yang efektif mulai 1 Juli 2026.
- Terjadi penarikan dana (redemption) pada sejumlah Exchange Traded Fund (ETF) sehingga meningkatkan tekanan jual.
- Nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.900 per dolar AS, memicu kekhawatiran investor global.
- Ketidakpastian arah suku bunga global mendorong perpindahan dana dari pasar saham menuju instrumen yang dianggap lebih aman.
Kombinasi faktor tersebut membuat saham perbankan menjadi sasaran utama aksi jual sepanjang paruh pertama tahun ini.
Seberapa Dalam Penurunan Harga Saham Big Bank?
Hingga penutupan perdagangan 30 Juni 2026, hampir seluruh saham bank besar mencatatkan koreksi dua digit.
- BBCA turun sekitar 33,73% menjadi Rp5.550 per saham.
- BBRI melemah 26,42% menjadi Rp2.730.
- BMRI terkoreksi 20,62% menjadi Rp3.850.
- BBNI ditutup di level Rp3.160 setelah juga mengalami tekanan jual.
Pada perdagangan 30 Juni saja, BBCA turun sekitar 6,33%, BBRI melemah 3,87%, BBNI turun 3,07%, sementara BMRI terkoreksi 2,28%.
Baca juga : IHSG Dibuka Naik 0,84 Persen Hari Ini, Cek Data Lengkapnya
Mengapa Investor Asing Banyak Menjual Saham Bank?
Data perdagangan menunjukkan saham perbankan menjadi tujuan utama aksi jual investor asing.
Sepanjang semester I-2026, BBCA menjadi saham dengan net foreign sell terbesar mencapai sekitar Rp34,16 triliun. Posisi berikutnya ditempati BBRI sebesar Rp15,92 triliun, disusul BMRI sekitar Rp11,14 triliun, sedangkan BBNI mencatat penjualan bersih asing sekitar Rp2,96 triliun.
Tekanan bahkan meningkat menjelang akhir Juni. Investor asing melepas saham BBCA senilai sekitar Rp423,6 miliar pada 29 Juni, kemudian meningkat menjadi sekitar Rp766,4 miliar sehari kemudian.
Pada perdagangan 1 Juli 2026, meskipun IHSG sempat menguat sekitar 0,84%, investor asing masih membukukan net sell sekitar Rp349 miliar. Saham yang paling banyak dilepas adalah BBRI, disusul BMRI dan BBNI.
Apakah Ada Aksi Borong Diam-Diam?
Di tengah derasnya arus keluar dana asing, terdapat indikasi bahwa sebagian pelaku pasar justru mulai melakukan akumulasi.
Fenomena tersebut terlihat dari aksi pembelian saham oleh jajaran direksi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Sejumlah petinggi perseroan membeli saham menggunakan dana pribadi pada kuartal I-2026.
Beberapa di antaranya adalah Hendra Lembong dengan nilai pembelian sekitar Rp7,93 miliar, John Kosasih sekitar Rp4,37 miliar, Vera Eve Lim sekitar Rp3,84 miliar, Santoso sekitar Rp3,46 miliar, Frenkie Candra Kusuma sekitar Rp2,87 miliar, serta Lianawaty Suwono sekitar Rp2,1 miliar.
Aksi kolektif tersebut dinilai mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek jangka panjang perusahaan di tengah tekanan harga saham.
Selain itu, investor kawakan Lo Kheng Hong juga terus menambah kepemilikan saham PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN). Kepemilikannya meningkat dari sekitar 26,63 juta saham pada akhir 2025 menjadi sekitar 30,19 juta saham pada akhir Maret 2026.
Lo Kheng Hong menilai sektor perbankan masih memiliki prospek yang baik dan menyebut koreksi harga saham sebagai peluang membeli saham berkualitas dengan valuasi lebih murah.
Baca juga : Investor Tak Lagi Sekadar Cari Lahan, Ekosistem Industri Jadi Perhatian
Bagaimana Fundamental Bank-Bank Besar?
Meski harga saham mengalami koreksi tajam, kinerja fundamental sejumlah bank besar relatif masih bertumbuh.
BBCA
BBCA membukukan laba bersih sekitar Rp25,68 triliun hingga lima bulan pertama 2026 atau tumbuh sekitar 2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Proyeksi laba bersih sepanjang 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp61,8 triliun.
Dari sisi valuasi, saham BBCA diperdagangkan pada kisaran price to earnings ratio (PER) sekitar 15 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya yang berada di kisaran 18–20 kali. Sejumlah analis menilai kondisi tersebut menunjukkan valuasi BBCA mulai menarik.
BBRI
Bank Rakyat Indonesia mencatat pertumbuhan laba bersih sekitar 5,91% hingga April 2026. Penyaluran kredit meningkat sekitar 10,97% secara tahunan menjadi sekitar Rp1.376 triliun, sedangkan pendapatan berbasis komisi (fee based income) juga masih bertumbuh.
BBNI
Bank Negara Indonesia mencatat pertumbuhan laba bersih sekitar 6% dengan pertumbuhan kredit mencapai sekitar 21% secara tahunan. Namun demikian, investor juga mencermati kenaikan Cost of Credit (CoC) menjadi sekitar 1,3%, yang dapat memberikan tekanan terhadap profitabilitas apabila kualitas kredit memburuk.
BDMN
Bank Danamon menjadi salah satu bank yang menarik perhatian investor nilai. Perseroan membukukan pertumbuhan laba kuartal I-2026 sekitar 35% secara tahunan dengan Net Interest Margin (NIM) sekitar 7,6% dan rasio kredit bermasalah (NPL) sekitar 1,8%, mencerminkan kualitas aset yang masih terjaga.
Secara industri, fundamental sektor perbankan Indonesia masih relatif solid. Pertumbuhan kredit nasional tercatat sekitar 11,1% secara tahunan. Net Interest Margin (NIM) industri berada di kisaran 5,1%, didukung tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia yang berada pada level 5,25%.
Meski demikian, analis mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga hanya akan berdampak positif apabila kualitas kredit tetap terjaga. Peningkatan rasio kredit bermasalah dapat menggerus keuntungan yang berasal dari kenaikan pendapatan bunga.

Muhammad Imam Hatami
Editor
