Saham BBNI Cs Tertekan, Investor Cemas Dampak Koperasi Desa Merah Putih?
- Bank BUMN berisiko terdampak inisiatif Koperasi Merah Putih. Program ini mencakup 70.000–80.000 desa di Indonesia, dengan pembiayaan awal Rp3-5 miliar per desa yang akan dilunasi dalam tiga hingga lima tahun.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA – Saham bank Himpunan Milik Negara (Himbara) melemah serentak pada perdagangan Senin, 10 Maret 2025. Pelemahan ini terjadi di tengah rencana pembentukan Koperasi Desa Merah Putih, yang akan menerima pendanaan Rp5 miliar per koperasi.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, hingga pukul 14.27 WIB, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 1,31% ke Rp3.770 per saham. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 2,20% ke Rp4.440, sementara saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 2,42% ke Rp4.430.
Saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) stagnan di Rp855 per saham. Pelemahan saham bank pelat merah diperkirakan akibat kekhawatiran investor terhadap dampak pendanaan Koperasi Desa Merah Putih terhadap kualitas aset bank. Tekanan ini dapat berlanjut ke depan.
- Bakal Gabung Danantara, Siapa Sosok Ray Dalio?
- Potret Suram Industri 2025, 8 Pabrik Tutup Sejak Tahun Lalu, Ribuan Pekerja di PHK Massal
- FCTC Ancam Nasib Pekerja Tembakau Nasional
Head of Research Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi, mengatakan bahwa bank BUMN berisiko terdampak inisiatif ini. Program ini mencakup 70.000–80.000 desa di Indonesia, dengan pembiayaan awal Rp3-5 miliar per desa yang akan dilunasi dalam tiga hingga lima tahun.
Dengan jumlah tersebut, total pinjaman yang disalurkan bank BUMN diperkirakan mencapai Rp400 triliun. Investor khawatir pinjaman ini berdampak negatif terhadap kualitas aset perbankan. Selain itu, ada potensi intervensi politik dalam pengelolaan keuangan bank-bank Himbara.
Gunadi menjelaskan bahwa kondisi ini akan terus menekan harga saham bank BUMN. Kekhawatiran terhadap Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara juga belum mereda. Hal ini mendorong investor asing mengurangi eksposur terhadap saham perbankan pelat merah dan memilih strategi wait and see.
Investor menilai pembentukan Danantara sebagai inisiatif kontroversial yang berisiko bagi pasar. Oleh karena itu, menurut Gunadi, tata kelola yang kuat, akuntabilitas, dan transparansi menjadi faktor krusial dalam menjaga kepercayaan pemegang saham dan menarik kembali investor.
Samuel Sekuritas pun menurunkan peringkat sektor perbankan dari neutral menjadi underweight. “Sentimen negatif berasal dari kurangnya katalis positif dan arus keluar modal asing yang signifikan akibat pembentukan Danantara. Investor masih menunggu kepastian terhadap langkah kebijakan ke depan,” jelasnya dalam riset pada Senin, 10 Maret 2025.
Dari segi fundamental, likuiditas perbankan diperkirakan tetap ketat. Net interest margin (NIM) terus tertekan, sementara cost of credit (CoC) berpotensi naik secara terbatas. Hal ini terjadi karena sebagian besar bank telah mencapai tingkat efisiensi biaya kredit yang tinggi.
"Kami memperkirakan pertumbuhan laba bersih bank Big Four hanya mencapai 4,4% YoY, turun dari proyeksi 7%. Angka ini lebih rendah dari ekspektasi konsensus sebesar 5,3% akibat meningkatnya pencadangan," tambah Gunadi.
Dalam kondisi ini, Samuel Sekuritas lebih memilih bank swasta dengan CASA yang kuat dan kualitas aset lebih baik. Bank-bank ini lebih mampu mempertahankan CoC rendah. Pilihan utama jatuh pada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
BBCA dinilai masih memiliki potensi kenaikan lebih dari 25%. Samuel Sekuritas merekomendasikan BBCA dengan target harga Rp11.500 per saham. Prospek bank swasta dinilai lebih menarik dibanding bank pelat merah di tengah kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian.

Amirudin Zuhri
Editor
