Tren Pasar

Rupiah Tembus Rp18.001, Strong Dollar dan Prospek The Fed Menekan

  • Rupiah menembus Rp18.001 per dolar AS pada 29 September 2026. Strong dollar, prospek The Fed dan harga minyak menjadi tekanan rupiah.
Uang rupiah dan dolar AS
Uang rupiah dan dolar AS (Freepik.com/8photo)

JAKARTA, TRENASIA.ID — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada pembukaan perdagangan Selasa 29 September 2026. Mengacu data Bloomberg pada pukul 09.10 WIB, rupiah turun 23 poin atau 0,13% sehingga dolar AS menembus level Rp18.001.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia. Di kawasan ASEAN, ringgit Malaysia melemah 0,04%, baht Thailand turun 0,16%, dan dolar Singapura terkoreksi 0,04%. Sementara itu, peso Filipina justru menguat 0,21%.

Di kawasan Asia Pasifik, yen Jepang melemah 0,04% dan yuan China turun 0,06%. Sebaliknya, won Korea Selatan menguat 0,06%.

Pergerakan tersebut mencerminkan masih kuatnya dolar AS (strong dollar) di pasar global. Kondisi ini menjadi salah satu faktor eksternal yang membebani rupiah.

Prospek Kenaikan Suku Bunga The Fed

Tekanan strong dollar masih berkaitan dengan arah kebijakan moneter AS. Kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar dan mendorong permintaan terhadap mata uang AS.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memperkirakan tren tersebut masih dapat berlanjut pada kuartal IV 2026. Salah satu pertimbangannya adalah kemungkinan The Fed kembali menaikkan suku bunga.

“Belum lama ini The Fed juga menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin, dan kami masih memperkirakan akan ada kenaikan satu kali lagi di triwulan IV,” kata Destry dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Senin 28 September 2026.

Jika kenaikan tersebut terealisasi, perbedaan tingkat suku bunga antara AS dan negara lain kembali menjadi perhatian pasar. Ekspektasi tersebut dapat memengaruhi arus modal dan permintaan terhadap dolar AS.

Inflasi Global dan Harga Minyak Jadi Risiko

Selain kebijakan moneter AS, Destry menyoroti tekanan inflasi global yang menurutnya telah mencapai 4,6%. Kenaikan inflasi tersebut turut dipengaruhi konflik di kawasan Asia Barat.

Salah satu dampaknya terlihat dari fluktuasi harga minyak mentah dunia. Destry menyebut harga minyak pada akhir September telah mencapai US$125,53 per barel, meningkat signifikan dibandingkan rata-rata Agustus yang berada di sekitar US$90,88 per barel.

Kenaikan harga minyak menjadi perhatian bagi negara importir energi karena dapat meningkatkan kebutuhan devisa dan biaya impor. Bagi Indonesia, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi tekanan eksternal terhadap rupiah apabila kebutuhan dolar untuk pembayaran impor meningkat.

Di sisi lain, inflasi global yang lebih tinggi dapat memengaruhi ruang bank sentral dalam menentukan arah kebijakan moneter.

Ekonomi Global 2026 Masih Dibayangi Ketidakpastian

Destry juga menggambarkan prospek ekonomi global 2026 masih menghadapi tekanan.

“Kalau kita juga akan melihat bahwa data ini juga menggambarkan mungkin secara sekilas saja saya gambarkan bahwa prospek ekonomi 2026 ini secara global itu memang agak gloomy, namun demikian di 2027 diperkirakan akan ada perbaikan,” ujarnya.

Bagi rupiah, kombinasi strong dollar, prospek kenaikan suku bunga The Fed, serta tingginya harga minyak menjadi sejumlah faktor eksternal yang perlu dicermati memasuki kuartal IV.

Di dalam negeri, respons Bank Indonesia terhadap pergerakan nilai tukar, kondisi cadangan devisa, arus modal, serta kebutuhan valas korporasi akan turut menentukan daya tahan rupiah menghadapi tekanan global.

Apa Artinya bagi Masyarakat?

Rupiah yang melemah dapat meningkatkan biaya barang, bahan baku, dan komponen yang masih bergantung pada impor. Jika tekanan berlangsung lama, sebagian kenaikan biaya tersebut dapat diteruskan ke harga barang dan jasa.

Sementara itu, kenaikan harga minyak dunia dapat memberikan tekanan tambahan melalui biaya energi dan transportasi. Besarnya dampak ke masyarakat tetap bergantung pada kebijakan pemerintah, harga energi domestik, serta kemampuan pelaku usaha menyerap kenaikan biaya.

Yang Perlu Dipantau Investor

Investor perlu mencermati perkembangan kebijakan The Fed, terutama sinyal mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya. Pergerakan harga minyak dan perkembangan konflik di Asia Barat juga menjadi faktor penting bagi pasar valuta asing.

Di dalam negeri, kebijakan stabilisasi BI, arus modal asing, cadangan devisa, dan kebutuhan dolar untuk impor menjadi sejumlah indikator yang dapat memengaruhi arah rupiah pada kuartal IV 2026.