Tren Pasar

Rupiah Tembus Rp17.900, Kenapa Borong Dolar Bisa Perparah Keadaan?

  • Saat rupiah melemah, orang berbondong-bondong membeli dolar. Namun tindakan ini justru bisa mempercepat pelemahan rupiah. Simak dampaknya bagi kehidupan sehari-hari.
Rupiah Tembus Rp17.900, Kenapa Borong Dolar Bisa Perparah Keadaan?

JAKARTA, TRENASIA.ID – Ketika nilai tukar rupiah melemah tajam, respons yang paling sering muncul adalah kepanikan. Sebagian orang mulai mencari cara membeli dolar Amerika Serikat (AS). 

Sebagian lainnya buru-buru memindahkan tabungan ke instrumen berbasis valuta asing (valas). Tidak sedikit yang berpikir semakin cepat membeli dolar, semakin aman posisi keuangannya.

Sekilas langkah itu terdengar logis. Namun dalam skala yang lebih besar, perilaku tersebut justru bisa memperparah tekanan terhadap rupiah. Inilah yang dalam ekonomi sering disebut sebagai self-fulfilling prophecy atau ramalan yang menjadi kenyataan karena dipercaya oleh terlalu banyak orang.

Ketika masyarakat yakin rupiah akan terus melemah lalu berbondong-bondong membeli dolar, permintaan dolar meningkat. Akibatnya, nilai dolar benar-benar naik dan rupiah semakin tertekan.

Dengan kata lain, ketakutan terhadap pelemahan rupiah dapat menjadi salah satu faktor yang mempercepat pelemahan itu sendiri.

Mengapa Rupiah Terus Tertekan?

Hingga Rabu 3 Juni 2026 pukul 17.36 WIB, nilai tukar rupiah berada di Rp17.943 per dolar AS. Pelemahan rupiah kali ini tidak hanya disebabkan satu faktor. Bank Indonesia (BI) dalam berbagai laporan stabilitas ekonomi menjelaskan nilai tukar rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik.

Di sisi domestik, terdapat beberapa sumber permintaan dolar yang meningkat secara bersamaan.

Pertama, kebutuhan impor energi. 

Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak dan bahan bakar. Ketika harga energi global naik, kebutuhan dolar untuk membayar impor juga meningkat.

Kedua, musim pembayaran dividen.

Banyak perusahaan membagikan dividen kepada investor asing dalam bentuk dolar AS sehingga meningkatkan permintaan terhadap mata uang tersebut.

Ketiga, pembayaran utang luar negeri.

Perusahaan dan institusi yang memiliki kewajiban dalam dolar perlu menyediakan valuta asing saat jatuh tempo.

Keempat, perpindahan dana masyarakat ke aset berbasis dolar.

Ketika faktor terakhir mulai membesar, tekanan terhadap rupiah bisa semakin kuat.

Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, dalam publikasi BI mengenai stabilitas nilai tukar, berulang kali menekankan bahwa ekspektasi pasar memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan mata uang.

Artinya, psikologi pasar sering kali sama pentingnya dengan faktor ekonomi riil.

Ketika Orang Membeli Dolar Bersamaan

Ekonom Universitas Indonesia sekaligus mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, dalam kajiannya mengenai nilai tukar menjelaskan pasar keuangan sering bergerak berdasarkan ekspektasi. “Jika pelaku pasar percaya suatu mata uang akan melemah, tindakan mereka bisa mempercepat pelemahan tersebut,” ujarnya, dikutip Rabu, 3 Juni 2026.

Fenomena ini pernah terjadi di berbagai negara berkembang ketika masyarakat dan pelaku usaha secara bersamaan meningkatkan permintaan terhadap dolar. Dalam kondisi seperti itu, pelemahan mata uang domestik tidak lagi hanya didorong faktor fundamental, tetapi juga faktor psikologis.

Karena itulah bank sentral di banyak negara selalu berupaya menjaga kepercayaan terhadap mata uang domestik.

Enam Hal yang Langsung Terasa di Kehidupan Sehari-hari

Pelemahan rupiah sering dianggap hanya berdampak pada pelaku pasar keuangan. Padahal efeknya dapat menjalar ke banyak aspek kehidupan sehari-hari.

1. Harga Makanan Berbasis Impor Berpotensi Naik

Indonesia masih mengimpor sejumlah bahan pangan dan bahan baku makanan seperti gandum dan kedelai. Ketika dolar menguat, biaya impor meningkat. Akibatnya harga produk seperti roti, mi, tahu, tempe, dan makanan olahan berpotensi mengalami tekanan harga.

Ekonom CORE Indonesia, Eliza Mardian, dalam berbagai kajian inflasi pangan menjelaskan pelemahan nilai tukar dapat meningkatkan biaya impor bahan baku yang kemudian diteruskan ke harga konsumen.

2. Harga Gadget dan Elektronik Lebih Mahal

Sebagian besar komponen elektronik masih menggunakan rantai pasok global dan transaksi dalam dolar.

Mulai dari telepon pintar, laptop, konsol gim, hingga kamera berpotensi mengalami penyesuaian harga jika pelemahan rupiah berlangsung lama.

3. Langganan Digital Bisa Ikut Naik

Banyak layanan digital global menetapkan harga berdasarkan dolar AS. Mulai dari layanan streaming, komputasi awan (cloud), aplikasi produktivitas, hingga layanan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Ketika rupiah melemah, biaya yang dibayar konsumen dalam rupiah otomatis meningkat.

4. Biaya Kuliah di Luar Negeri Membengkak

Mahasiswa Indonesia yang kuliah di Amerika Serikat, Australia, Inggris, atau negara lain dengan mata uang kuat akan merasakan dampak langsung.

Biaya pendidikan, akomodasi, dan kebutuhan hidup menjadi lebih mahal ketika dikonversi ke rupiah.

5. Cicilan dan Utang Dolar Menjadi Lebih Berat

Perusahaan maupun individu yang memiliki kewajiban dalam dolar harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk membayar jumlah yang sama.

Karena itu, pelemahan kurs sering menjadi perhatian besar bagi perusahaan dengan utang luar negeri.

6. Harga BBM Nonsubsidi Berpotensi Tertekan

Karena impor minyak masih dibayar menggunakan dolar, pelemahan rupiah meningkatkan biaya energi.

Jika berlangsung lama dan harga minyak global tetap tinggi, tekanan terhadap harga BBM nonsubsidi dapat meningkat.

Haruskah Masyarakat Membeli Dolar?

Pertanyaan ini muncul hampir setiap kali rupiah melemah. Jawabannya bergantung pada kebutuhan.

Jika seseorang memang memiliki kebutuhan riil dalam dolar—misalnya biaya pendidikan luar negeri, perjalanan internasional, atau kewajiban bisnis—maka memiliki cadangan valas bisa menjadi langkah yang masuk akal.

Namun jika motivasinya semata-mata karena panik atau takut tertinggal, risikonya justru lebih besar.

Perencana keuangan dan ekonom sering mengingatkan bahwa keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada tujuan keuangan, bukan ketakutan sesaat.

Dalam berbagai edukasi yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), masyarakat juga diingatkan untuk tidak mengambil keputusan keuangan berdasarkan kepanikan pasar.

Bersikap Saat Rupiah Melemah

Ada satu pelajaran yang berulang kali muncul dalam setiap episode pelemahan rupiah. Ketika terlalu banyak orang bereaksi berdasarkan ketakutan, tekanan terhadap pasar justru bisa semakin besar.

Rupiah memang dipengaruhi faktor-faktor fundamental seperti perdagangan internasional, suku bunga, dan arus modal global. Namun pada saat yang sama, nilai tukar juga dipengaruhi oleh kepercayaan.

Baca Juga: Rupiah All-Time Low: Bukan 1998, Tapi Pantang Diremehkan

Karena itu, ketika masyarakat berbondong-bondong membeli dolar hanya karena takut rupiah melemah, mereka tanpa sadar ikut menambah permintaan terhadap dolar dan memperbesar tekanan pada rupiah.

Ironisnya, upaya menyelamatkan diri secara kolektif justru bisa mempercepat kondisi yang ingin dihindari. Itulah mengapa dalam dunia keuangan, kepanikan sering kali menjadi musuh yang sama berbahayanya dengan krisis itu sendiri.