Tren Pasar

Rupiah Melemah Meski Ekonomi RI Tumbuh 5,47 Persen

  • Rupiah melemah 0,09% ke Rp18.097 per dolar AS pada Jumat, 6 November 2026. Tekanan mata uang Asia membayangi, meski ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% pada kuartal III.
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati melaporkan bahwa rupiah menguat 1,11% secara year-on-year (yoy) pada akhir tahun 2023, lebih baik dibanding mata uang Thailand dan Filipina.
Nilai tukar rupiah melemah signifikan, sentuh angka Rp16.000 perdolar AS. (Ist)

JAKARTA, TRENASIA.ID — Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat, 6 November 2026. Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi di tengah pelemahan mayoritas mata uang Asia, meskipun pertumbuhan ekonomi domestik menunjukkan penguatan.

Berdasarkan data perdagangan pasar spot, rupiah dibuka di level Rp18.097 per dolar AS pada pukul 09.03 WIB. Posisi tersebut melemah 15 poin atau 0,09% dibandingkan penutupan perdagangan Kamis, 5 November 2026, yang berada di level Rp18.082 per dolar AS.

Pergerakan rupiah masih dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Tekanan dari pasar keuangan global membayangi mata uang Asia, sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar.

Pemerintah menilai fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Namun, risiko dari pasar keuangan global, serta tekanan harga pangan dan energi, tetap perlu diwaspadai.

Rupiah Tertekan Bersama Mayoritas Mata Uang Asia

Pelemahan rupiah pada perdagangan Jumat pagi sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS.

Ringgit Malaysia mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,30%. Disusul dolar Taiwan yang turun 0,22% dan yen Jepang yang melemah 0,20%.

Dolar Singapura juga terkoreksi 0,14%, baht Thailand melemah 0,13%, rupiah turun 0,09%, peso Filipina melemah 0,06%, dan yuan China turun 0,05%.

Di tengah tekanan tersebut, hanya dua mata uang Asia yang berhasil menguat terhadap dolar AS. Won Korea naik 0,15%, sedangkan dolar Hong Kong menguat 0,04%.

Pelemahan yang terjadi secara luas di kawasan menunjukkan bahwa pergerakan rupiah tidak hanya berkaitan dengan kondisi domestik. Sentimen terhadap dolar AS dan dinamika pasar keuangan global juga berperan dalam menentukan arah mata uang regional.

Pertumbuhan Ekonomi 5,47% Jadi Penopang Rupiah

Di tengah tekanan nilai tukar, perekonomian Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang lebih kuat pada kuartal III-2026.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut konsumsi pemerintah menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Konsumsi pemerintah tumbuh 8,95%, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,66%. Kenaikan tersebut didorong oleh belanja pemerintah pada kuartal II dan III-2026, termasuk melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDKMP).

Sementara itu, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04% dan memberikan kontribusi sebesar 51,97% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.

Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% pada kuartal III-2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal II-2026 sebesar 5,29%.

Pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dapat menjadi penopang kepercayaan terhadap fundamental Indonesia. Namun, angka pertumbuhan tersebut tidak serta-merta membuat rupiah menguat karena nilai tukar juga dipengaruhi arus modal, kebutuhan dolar, dan kondisi pasar global.

Industri Manufaktur dan Konsumsi Masih Ekspansif

Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan menjadi salah satu sektor yang menopang pertumbuhan ekonomi.

Sektor yang berkontribusi 19,22% terhadap PDB tersebut tumbuh 5,87%. Pertumbuhan didukung sejumlah subsektor, antara lain makanan dan minuman sebesar 7,09%, kimia dan farmasi 8,10%, logam dasar 9,94%, serta alat angkutan dan otomotif 6,14%.

Sektor konstruksi juga mencatat pertumbuhan 6,42%.

Pemerintah optimistis momentum pertumbuhan ekonomi masih dapat dipertahankan pada kuartal IV-2026. Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah indeks manajer pembelian atau Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur.

PMI manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 berada di level 54,0, meningkat dibandingkan September 2026 yang tercatat 52,4.

Indeks di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi. Artinya, aktivitas industri masih menunjukkan peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya.

Selain itu, Indeks Kepercayaan Industri tercatat 53,77. Penjualan listrik meningkat 9,21%, sedangkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di level optimistis 118,1.

Berbagai indikator tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih bergerak positif. Meski demikian, kondisi tersebut belum cukup untuk menghilangkan tekanan terhadap rupiah dari faktor eksternal.

Pemerintah Waspadai Risiko Global dan Harga Energi

Airlangga menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan fundamental di tengah berbagai tantangan.

"Capaian pertumbuhan sebesar 5,47 persen ini menunjukkan bahwa kebijakan yang diambil pemerintah, dipimpin Bapak Presiden Prabowo, sudah berada di jalur yang tepat dengan fundamental yang kuat dan investasi yang terus meningkat. Dukungan kebijakan yang terarah akan terus dijalankan, meskipun masih terdapat berbagai tantangan yang perlu diselesaikan," tutur Airlangga dikutip Antara, Jumat, 6 November 2026.

Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai tekanan harga pangan dan energi serta dinamika nilai tukar rupiah.

Risiko tersebut perlu diperhatikan karena perubahan harga komoditas global dapat memengaruhi biaya impor dan kebutuhan valuta asing. Pada saat yang sama, perubahan sentimen pasar keuangan global dapat memengaruhi arus modal ke negara berkembang.

Apa Artinya bagi Masyarakat?

Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya sejumlah barang dan kebutuhan yang bergantung pada impor, terutama jika pelemahan berlangsung berkelanjutan.

Dampaknya dapat dirasakan melalui harga bahan baku industri, produk elektronik, hingga barang konsumsi tertentu. Namun, perubahan nilai tukar tidak selalu langsung diteruskan ke harga jual karena perusahaan juga mempertimbangkan stok, kontrak pembelian, dan biaya distribusi.

Bagi masyarakat yang memiliki kebutuhan transaksi dolar AS, seperti pembayaran pendidikan atau perjalanan ke luar negeri, pelemahan rupiah membuat kebutuhan dolar menjadi relatif lebih mahal.

Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi yang kuat berpotensi mendukung aktivitas usaha dan lapangan kerja. Namun, manfaatnya bagi masyarakat tetap bergantung pada pemerataan pertumbuhan dan perkembangan sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja.

Yang Perlu Dipantau Investor

Pelaku pasar perlu mencermati pergerakan dolar AS dan mata uang Asia untuk melihat apakah tekanan terhadap rupiah berlanjut.

Dari sisi domestik, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026, aktivitas manufaktur, konsumsi rumah tangga, serta perkembangan pasar modal menjadi indikator penting untuk menilai kekuatan ekonomi Indonesia.

Investor juga perlu memperhatikan risiko harga pangan dan energi serta perubahan sentimen pasar global. Pertumbuhan ekonomi yang kuat dapat menjadi penopang rupiah, tetapi arah nilai tukar tetap ditentukan oleh keseimbangan faktor domestik dan eksternal.