Tren Ekbis

Rupiah Diprediksi Tembus Rp17.500 pada 2026, Ini Sebabnya

  • Rupiah diprediksi melemah hingga Rp17.500 per dolar AS pada 2026. Simak analisis dampak geopolitik global dan isu redenominasi di sini.
Cash Pooling Mandiri .jpg
Karyawan memindahkan tumpukan uang rupiah di cash pooling Bank Mandiri, Jakarta, Jum'at, 21 Januari 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diprediksi akan mengalami tekanan berat hingga tahun 2026 mendatang. Direktur PT Tranze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memproyeksikan mata uang garuda bisa melemah ke level Rp17.500. Rentang pergerakan nilai tukar diperkirakan akan berada di kisaran Rp16.400 hingga Rp17.500 per dolar AS.

Ibrahim menjelaskan bahwa pelebaran rentang pelemahan tersebut disebabkan oleh kondisi ekonomi global yang sedang tidak stabil. Berbagai sentimen eksternal mulai dari konflik geopolitik hingga kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi pemicu utama. Ketidakpastian global ini memberikan dampak negatif signifikan terhadap stabilitas mata uang negara berkembang seperti Indonesia.

Selain faktor eksternal isu domestik terkait rencana redenominasi rupiah juga turut membayangi prospek mata uang nasional. Wacana penyederhanaan nominal mata uang ini dikhawatirkan dapat memicu ketegangan politik dan ketidakpastian bagi pelaku usaha. Kombinasi tekanan ganda dari luar dan dalam negeri ini berpotensi membuat rupiah terdepresiasi tajam.

1. Konflik Timur Tengah & Amerika Latin

Ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah kembali memanas pasca aksi uji coba rudal balistik oleh Iran. Tindakan militer yang masif tersebut memicu kekhawatiran keamanan yang serius bagi negara tetangga seperti Israel. Eskalasi konflik di kawasan ini selalu berdampak langsung pada volatilitas pasar keuangan dan harga komoditas energi.

Sentimen negatif juga muncul dari benua Amerika Selatan yang melibatkan perselisihan antara Amerika Serikat dan Venezuela. Hubungan diplomatik yang memburuk antara kedua negara tersebut menambah daftar panjang ketidakpastian geopolitik global saat ini. Investor cenderung mengamankan aset mereka ke instrumen safe haven dolar AS saat ketegangan politik meningkat.

Situasi ini membuat arus modal asing berpotensi keluar dari pasar negara berkembang termasuk pasar keuangan Indonesia. Tekanan terhadap mata uang rupiah menjadi tidak terelakkan ketika dolar Amerika Serikat semakin menguat di pasar global. Risiko geopolitik yang meluas ini menjadi beban berat bagi upaya stabilisasi nilai tukar rupiah.

2. Ketegangan Eropa & Asia Timur

Konflik berkepanjangan di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina masih menjadi sumber ketidakpastian utama bagi pasar. Proses gencatan senjata antara kedua belah pihak terhambat oleh perbedaan prinsip terkait penguasaan wilayah sengketa. Belum adanya titik terang perdamaian membuat rantai pasok global terganggu dan menekan pertumbuhan ekonomi dunia.

Kawasan Asia Timur juga turut menyumbang ketegangan melalui agresivitas China yang terus menekan kedaulatan wilayah Taiwan. Potensi konflik terbuka di wilayah ini menjadi ancaman serius bagi stabilitas perdagangan internasional di kawasan Asia. Hal ini secara langsung turut melemahkan prospek penguatan mata uang rupiah pada tahun depan.

Gabungan konflik di dua benua besar ini menciptakan sentimen risk-off yang sangat kuat di kalangan investor global. Pelaku pasar akan menghindari aset berisiko tinggi dan beralih memegang uang tunai dalam bentuk dolar. Dampaknya adalah pelemahan struktural pada nilai tukar mata uang regional Asia termasuk rupiah Indonesia.

3. Kebijakan The Fed & Perang Dagang

Kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat atau The Fed masih menjadi penentu utama pergerakan mata uang dunia. Rencana pergantian kepemimpinan di tubuh The Fed diyakini akan membawa arah kebijakan yang lebih lunak atau dovish. Namun pasar tetap mewaspadai dampak volatilitas jangka pendek selama masa transisi kepemimpinan tersebut berlangsung.

Isu perang dagang global juga kembali mencuat dan menjadi faktor penekan bagi volume perdagangan internasional Indonesia. Hambatan tarif dan proteksionisme ekonomi antar negara maju dapat menurunkan permintaan ekspor komoditas andalan tanah air. Penurunan kinerja ekspor ini akan berdampak negatif pada neraca dagang dan pasokan devisa negara.

Ketersediaan dolar Amerika Serikat di pasar domestik menjadi berkurang seiring dengan melambatnya aktivitas perdagangan internasional tersebut. Kelangkaan pasokan valuta asing akan mendorong nilai tukar rupiah semakin terperosok ke level yang lebih dalam. Ibrahim mengingatkan bahwa faktor makroekonomi ini harus diwaspadai secara cermat oleh para pemangku kebijakan.

4. Rencana Redenominasi Rupiah

Dari sisi internal prospek rupiah tahun depan dibayangi oleh rencana redenominasi yang masuk program legislasi nasional. Ibrahim Assuaibi mengantisipasi adanya potensi situasi politik yang memanas akibat pembahasan undang-undang penyederhanaan mata uang ini. Pro dan kontra di parlemen dapat menciptakan kegaduhan yang tidak disukai oleh pelaku pasar keuangan.

Jika redenominasi benar-benar diterapkan pada tahun 2027 maka akan terjadi perubahan besar dalam sistem transaksi. Pengusaha harus menukarkan uang lama mereka baik di Bank Indonesia maupun di bank pemerintah dan swasta. Proses transisi ini memerlukan kesiapan infrastruktur dan sosialisasi yang matang agar tidak menimbulkan kepanikan masyarakat.

Ketidaksiapan dalam implementasi kebijakan redenominasi berisiko memicu spekulasi liar di pasar uang domestik yang sensitif. Masyarakat mungkin akan bereaksi dengan memborong valuta asing atau aset riil sebagai bentuk lindung nilai aset. Aksi spekulatif semacam ini justru akan memperparah tekanan pelemahan terhadap nilai tukar rupiah itu sendiri.

5. Dampak Tarik Ulur Politik

Tarik ulur kepentingan politik terkait isu redenominasi kemungkinan besar akan memanaskan situasi perpolitikan di dalam negeri. Ketidakstabilan politik selalu menjadi sentimen negatif yang dihindari oleh investor asing maupun domestik dalam berinvestasi. Kondisi ini dapat memicu arus keluar modal atau capital outflow yang signifikan dari pasar Indonesia.

Ibrahim memprediksi bahwa dinamika politik ini akan menjadi salah satu pemicu utama pelemahan rupiah cukup tajam. Nilai tukar mata uang sangat sensitif terhadap isu stabilitas keamanan dan kepastian hukum di suatu negara. Pemerintah perlu mengelola isu ini dengan hati-hati agar tidak menjadi bumerang bagi perekonomian nasional.

Pelaku usaha membutuhkan kepastian regulasi untuk dapat menjalankan rencana bisnis dan ekspansi mereka secara terukur. Ketidakpastian akibat isu redenominasi dapat membuat sektor riil menahan ekspansi dan mengurangi permintaan kredit perbankan. Perlambatan aktivitas ekonomi domestik ini pada akhirnya akan semakin menekan fundamental nilai tukar rupiah.