Rupiah All-Time Low: Bukan 1998, Tapi Pantang Diremehkan
- Rupiah cetak all-time low Rp17.645 hari ini. Menkeu klaim bukan seperti krisis 1998, benarkah? Ini analisis lengkap agar kamu tidak panik, tapi juga tidak meremehkan.

Chrisna Chanis Cara
Author


Lanskap pemukiman dan gedung pencakar langit diambil dari kawasan Grogol, Jakarta, Kamis, 5 November 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA, TRENASIA.ID – Rupiah hari ini resmi mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah. Pada perdagangan Senin 18 Mei 2026, kurs rupiah terhadap dolar AS menyentuh Rp17.645, melemah 1,17 persen dari hari sebelumnya. Sejak Prabowo mulai menjabat Oktober 2024, rupiah sudah turun 12 persen dari kisaran Rp15.400.
Dua narasi langsung bertemu. Yang pertama: "orang desa tidak pakai dolar, santai saja." Yang kedua: "ini seperti krisis 1998." Apa yang sebenarnya terjadi pada ekonomi Indonesia hari-hari ini?
Krisis 1998 bukan hanya soal rupiah yang anjlok. Itu adalah kegagalan sistemik. Perbankan kolaps, utang swasta berdenominasi dolar tak terlindungi, kepercayaan terhadap otoritas moneter runtuh total, dan IMF harus masuk dengan syarat-syarat yang menyakitkan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut kondisi saat ini jauh berbeda dengan kondisi krisis moneter 1998. “Beda, 1998 itu kebijakannya salah dan instability social-politic terjadi setelah setahun kita resesi,” kata Purbaya di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma Jakarta, Senin, dikutip dari Antara.
Jika ditilik, kondisi hari ini dengan 1998 memang berbeda di beberapa titik kunci. Informasi yang dihimpun TrenAsia, Senin, cadangan devisa Indonesia masih di kisaran US$150 miliar, jauh lebih besar dari 1997. Rasio utang terhadap PDB masih di bawah 40 persen.
Sistem perbankan punya permodalan yang jauh lebih tebal. Rupiah yang melemah sekarang bergerak di pasar yang jauh lebih dalam dan lebih likuid dari 1998. Tapi ada satu hal yang seharusnya tidak diabaikan. Pasar mulai meminta bayaran lebih mahal untuk memegang aset Indonesia.
Credit Default Swap atau CDS Indonesia tenor 5 tahun sudah naik ke sekitar 91,3 basis poin, naik tajam dari rata-rata 69,5 bps sepanjang 2025. Yield Surat Utang Negara 10 tahun sempat menyentuh 6,96 persen sebelum turun sedikit.
Ini artinya ketika pemerintah perlu menerbitkan utang baru, biayanya lebih mahal dari sebelumnya. Hal ini pada akhirnya menekan ruang fiskal yang sudah sempit.
Tiga Tekanan yang Datang Bersamaan
Sejumlah riset dan pengamat mengungkap kelemahan rupiah hari ini bukan dari satu sumber. Ada tiga hal yang bekerja sekaligus.
Pertama, faktor eksternal. Konflik AS-Iran di Selat Hormuz memanas, harga minyak naik, dan investor global bergerak ke aset aman terutama dolar AS. Hampir semua mata uang Asia melemah, bukan hanya rupiah.
Kedua, faktor struktural Indonesia. Indonesia importir minyak 1,5 juta barel per hari. Ketika harga minyak naik dan rupiah melemah bersamaan, kebutuhan dolar untuk impor energi melonjak. Ini tekanan dari dalam yang memperbesar efek eksternal.
Ketiga, sinyal dari otoritas. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pernah menyatakan "rupiah urusan bank sentral, bukan Kementerian Keuangan." Pernyataan yang secara teknis benar, tapi dibaca pasar sebagai pemisahan tanggung jawab di saat yang tidak tepat.

Sementara komentar Prabowo soal desa dan dolar, yang boleh jadi dimaksudkan untuk menenangkan masyarakat bawah, justru dibaca investor sebagai sinyal bahwa pemerintah tidak cukup serius merespons tekanan nilai tukar.
Pengamat komoditas Ibrahim Assuaibi menyebutnya situasi simalakama. "Pernyataan Presiden Prabowo ini dijadikan alasan oleh para investor di pasar untuk melakukan pembelian terhadap dolar sehingga rupiah terus mengalami pelemahan yang cukup signifikan," katanya.
Hari ini, Senin, Prabowo memanggil Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, Purbaya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, dan jajaran menteri ekonomi lainnya ke Istana. Pasar menunggu hasilnya.
Yang Terasa di Kehidupan Sehari-Hari
"Orang desa tidak pakai dolar" secara harfiah benar. Tapi ekonomi tidak bekerja secara harfiah. Ketika rupiah melemah, biaya impor naik. Indonesia masih mengimpor bahan baku plastik, gandum, kedelai, komponen elektronik, dan sebagian besar obat-obatan.
Perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor tidak langsung naikkan harga. Mereka tahan dulu, cari efisiensi, dan kalau tekanan berlanjut beberapa bulan, harga jual disesuaikan.
Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM Rijadh Djatu Winardi menjelaskan mekanismenya: ketika perusahaan masih bergantung pada bahan baku impor, mereka harus menyesuaikan harga barang dalam beberapa bulan ke depan.
Ekonom CORE, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan dampak pelemahan rupiah adalah inflasi dari impor akan mulai naik, harga barang naik. "Imported inflation akan terjadi, terutama untuk barang yang terkait impor, baik bahan baku, penolong, ataupun konsumsi," kata Yusuf Rendy.
Yang paling cepat merasakannya bukan orang desa yang tidak pakai dolar. Justru UMKM kecil yang beli bahan baku dari distributor yang belinya dengan harga impor, penjual gorengan yang pakai minyak dari kedelai impor, pembuat kue yang pakai tepung gandum impor, sampai warung yang jual mie instan berisi kandungan impor.
Yang Harus Kamu Pantau dalam 30 Hari ke Depan
Ada tiga hal yang menentukan ke mana rupiah dan kondisi ekonomi ini bergerak dalam sebulan ke depan.
Pertama, hasil rapat Istana hari ini. Kalau ada kebijakan konkret yang keluar, baik itu intervensi BI yang lebih agresif, penguatan komitmen fiskal, atau sinyal kebijakan yang menenangkan pasar, rupiah bisa sedikit pulih. Kalau yang keluar hanya pernyataan umum, tekanan berlanjut.
Kedua, perkembangan Selat Hormuz. Kalau ketegangan AS-Iran mereda, harga minyak turun, dolar melemah, dan tekanan rupiah berkurang otomatis. Tapi kalau eskalasi berlanjut, ada proyeksi analis yang menempatkan rupiah di kisaran Rp18.000 dalam beberapa pekan.
Baca Juga: Kenapa Menyebut Orang Desa Tak Pakai Dolar Adalah Cacat Logika?
Ketiga, keputusan BI Rate. Dalam kondisi rupiah tertekan, BI menghadapi pilihan yang tidak enak: naikkan suku bunga untuk pertahankan rupiah, tapi itu memperlambat kredit dan ekonomi. Atau pertahankan suku bunga untuk jaga pertumbuhan, tapi rupiah terus melemah. Tidak ada pilihan yang tidak menyakitkan.
Rupiah Rp17.645 diyakini bukan sinyal krisis sistemik seperti 1998. Tapi fakta CDS naik, yield SUN naik, dan kepercayaan investor global terhadap aset Indonesia sedang di titik rendah dalam beberapa tahun terakhir tak bisa diabaikan.

Chrisna Chanis Cara
Editor
