Tren Ekbis

Riset: Medsos Bentuk Pola Belanja dan Investasi Anak Muda

  • Riset ungkap media sosial kuat memengaruhi belanja dan investasi anak muda, dari niat beli hingga fenomena ikut-ikutan dan doom spending.
Ilustrasi wanita berbelanja sebagai bentuk self reward.
Ilustrasi wanita berbelanja sebagai bentuk self reward. (Freepik/tirachardz)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Media sosial kian berperan besar dalam membentuk keputusan finansial anak muda, mulai dari belanja harian hingga investasi digital. Sejumlah riset menunjukkan pengaruh platform digital dan figur influencer tidak hanya mendorong niat beli, tetapi juga membentuk gaya hidup, pola konsumsi, hingga perilaku investasi generasi muda.

Berbagai temuan mengungkap, dampak tersebut bersifat multidimensional dapat menjadi sarana edukasi keuangan, namun juga berpotensi memicu perilaku konsumtif dan keputusan finansial yang kurang rasional.

Dikutip jurnal terbitan universitas Pasundan, Kamis, 26 Februari 2026, dimasa modern, media sosial menjadi saluran pemasaran dominan, terutama melalui peran social media influencer (SMI). Riset menunjukkan atribut seperti kesamaan sikap (attitude homophily) dan daya tarik sosial seorang influencer berpengaruh positif terhadap perluasan diri (self-expansion) pengikutnya.

Proses ini diperkuat oleh persepsi keaslian (authenticity) influencer, yang pada akhirnya meningkatkan niat beli (purchase intention) konsumen muda. Dengan kata lain, semakin merasa “mirip” dan percaya pada seorang influencer, semakin besar kemungkinan seseorang membeli produk yang direkomendasikan.

Dalam konteks platform investasi digital (wealth-tech), kredibilitas influencer, kualitas electronic word-of-mouth, serta intensitas keterlibatan di media sosial terbukti membangun customer trust. Kepercayaan inilah yang menjadi fondasi utama dalam pengambilan keputusan pembelian maupun penggunaan layanan keuangan oleh Generasi Z.

Studi di Indonesia bahkan menemukan bahwa dibandingkan keluarga dan teman sebaya, media sosial memberikan pengaruh paling kuat terhadap pembentukan gaya hidup remaja. Gaya hidup tersebut kemudian menjadi faktor signifikan yang memengaruhi perilaku konsumsi sehari-hari.

Baca juga : 9 Tips Belanja Bijak untuk Menghindari Fast Fashion

Fenomena Ikut-ikutan dan Konsumtif

Pengaruh media sosial tidak berhenti pada konsumsi barang dan jasa. Dalam ranah investasi, paparan terhadap finfluencer (influencer keuangan) terbukti memicu herding behavior atau perilaku ikut-ikutan.

Dalam jurnal terbitan International Islamic University Malaysia berjudul "Doom Spending Behaviour Among the Digital Generation," mengungkap adanya paparan konten finfluencer secara positif dan signifikan mendorong kecenderungan Gen Z mengikuti keputusan mayoritas tanpa analisis mendalam. 

Perilaku ini kemudian berdampak langsung pada keputusan investasi digital mereka. Artinya, instrumen investasi dapat dipilih semata karena sedang tren atau ramai direkomendasikan di media sosial.

Namun demikian, literasi keuangan digital berperan sebagai faktor penyeimbang. Studi yang sama menegaskan bahwa semakin tinggi literasi keuangan seseorang, semakin rendah kecenderungannya terjebak dalam herding behavior. Individu dengan pemahaman finansial yang baik cenderung lebih rasional dan mandiri dalam mengambil keputusan investasi.

Interaksi intens dengan media sosial juga memicu fenomena doom spending, yakni belanja impulsif yang didorong tekanan emosional atau kecemasan terhadap kondisi ekonomi dan sosial.

Penelitian menemukan bahwa interaksi media sosial memiliki dampak signifikan terhadap perilaku ini. Paparan konten yang dikurasi secara visual menarik, promosi influencer, serta iklan berbasis algoritma menjadi pemicu utama konsumsi tidak terencana.

Generasi Z dinilai lebih rentan terhadap pola ini karena cenderung memprioritaskan tren dan gaya hidup digital dibandingkan kebiasaan menabung. Kebutuhan sekunder seperti skincare, gadget, dan kebiasaan nongkrong di kafe kerap menjadi prioritas pengeluaran.

Kemudahan akses platform e-commerce, layanan pesan antar makanan, serta layanan fintech paylater turut mempercepat realisasi belanja impulsif tersebut. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahkan mencatat pembiayaan paylater meningkat signifikan secara tahunan, mencerminkan tingginya minat sekaligus potensi risiko konsumsi berbasis utang.

Baca juga : Belanja Libur Imlek-Ramadan Meningkat di Kalangan Anak Muda

Media Sosial sebagai Ruang Edukasi Keuangan

Meski berisiko memicu perilaku konsumtif, media sosial juga berfungsi sebagai sumber edukasi finansial. Survei di Amerika Serikat menunjukkan 8 dari 10 orang dewasa muda berusia 18–44 tahun yang memiliki atau mencari produk keuangan menginginkan konten edukasi dari merek keuangan di media sosial.

Pengguna platform tertentu bahkan tercatat dua kali lebih mungkin mencoba produk keuangan baru setelah melihatnya di media sosial. Di Kanada, studi menemukan 70% investor mengonsumsi konten dari finfluencer, dan 79% di antaranya pernah berinvestasi setidaknya sekali berdasarkan informasi dari konten tersebut.

Temuan ini menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap figur digital, sekaligus besarnya tanggung jawab yang melekat pada para kreator konten keuangan.

Secara keseluruhan, data menunjukkan media sosial telah menjadi kekuatan utama yang membentuk perilaku finansial anak muda. Pengaruhnya dapat bersifat positif sebagai sarana edukasi dan akses informasi, namun juga berpotensi negatif jika mendorong konsumsi impulsif dan keputusan investasi tanpa analisis matang.

Para peneliti menekankan pentingnya literasi keuangan dan literasi media sebagai fondasi utama. Dengan pemahaman yang memadai, anak muda dapat memanfaatkan media sosial sebagai alat pemberdayaan finansial, bukan justru terjebak dalam pola konsumtif dan keputusan keuangan yang merugikan dalam jangka panjang.