RI Barter dengan Filipina: Inovasi Dagang atau Kehabisan Pilihan?
- Pemerintah membuka opsi barter atau countertrade dengan Filipina di tengah tekanan rupiah. Apa itu barter modern, mengapa digunakan, dan apa artinya bagi ekonomi Indonesia?

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID– Di tengah tekanan terhadap rupiah yang sempat mendekati level Rp18.000 per dolar AS, pemerintah mulai melirik mekanisme perdagangan yang jarang menjadi sorotan dalam beberapa dekade terakhir: barter atau countertrade.
Langkah tersebut terlihat dari penandatanganan nota kesepahaman perdagangan imbal dagang antara pelaku usaha Indonesia dan Filipina yang difasilitasi Kementerian Perdagangan. Pemerintah menilai skema tersebut dapat menjadi alternatif untuk menjaga kelancaran perdagangan bilateral tanpa bergantung sepenuhnya pada dolar AS.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan mekanisme yang digunakan memungkinkan kedua negara melakukan transaksi perdagangan melalui agen yang ditunjuk tanpa menggunakan dolar sebagai alat pembayaran utama.
"Ini sistem barter, jadi kita tidak menggunakan mata uang dolar. Nanti masing-masing negara mempunyai agen yang memfasilitasi," ujar Budi dalam keterangan resmi, dikutip Senin, 8 Juni 2026.
Kerja sama tersebut diperkirakan menghasilkan nilai transaksi hingga US$350 juta atau sekitar Rp6,29 triliun. Dalam tahap awal, Indonesia akan mengimpor serat abaka dari Filipina untuk diolah menjadi produk tekstil yang kemudian diekspor kembali ke negara tersebut.
Selain itu, terdapat pula kerja sama impor bijih besi (iron ore) yang akan diproses menjadi baja oleh industri nasional sebelum dipasarkan ke Filipina. Pemerintah menyebut skema imbal dagang ini sebagai salah satu strategi untuk meredam dampak fluktuasi nilai tukar sekaligus menjaga aktivitas perdagangan tetap berjalan ketika tekanan terhadap mata uang domestik meningkat.
Namun muncul pertanyaan yang lebih besar: apakah barter modern merupakan inovasi diplomasi dagang yang cerdas, atau justru mencerminkan semakin terbatasnya pilihan kebijakan ketika rupiah berada di bawah tekanan?
Apa Itu Barter Modern?
Ketika mendengar kata barter, banyak orang membayangkan pertukaran langsung antara dua barang. Misalnya beras ditukar dengan ikan atau minyak ditukar dengan gandum. Dalam praktik perdagangan internasional modern, mekanismenya jauh lebih kompleks.
Istilah yang lebih tepat adalah countertrade atau imbal dagang. Menurut United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), countertrade merupakan transaksi perdagangan yang mengaitkan ekspor dengan impor dalam satu kesepakatan sehingga kebutuhan penggunaan valuta asing dapat dikurangi.
Dengan kata lain, transaksi tetap dihitung menggunakan nilai ekonomi tertentu, tetapi pembayaran tidak sepenuhnya dilakukan menggunakan dolar AS. Dalam berbagai bentuknya, countertrade dapat berupa:
- pertukaran komoditas,
- pembelian timbal balik (counter purchase),
- offset agreement,
- hingga pengaturan perdagangan bilateral menggunakan mata uang lokal.
Jadi, yang dibahas pemerintah bukan kembali ke sistem ekonomi prasejarah, melainkan mencari alternatif transaksi yang mengurangi ketergantungan terhadap dolar.
Indonesia Bukan yang Pertama
Secara historis, Indonesia pernah menggunakan mekanisme serupa. Pada dekade 1970-an dan 1980-an, berbagai negara berkembang memanfaatkan countertrade untuk menjaga perdagangan ketika akses terhadap devisa terbatas.
Laporan OECD menunjukkan countertrade pernah mencakup hingga sekitar 20%-30% perdagangan internasional beberapa negara berkembang pada masa tersebut. Fenomena serupa juga masih terjadi hingga sekarang.
Iran menggunakan berbagai skema barter dan countertrade untuk mengatasi keterbatasan akses terhadap sistem keuangan global akibat sanksi internasional. Rusia memperluas penggunaan mata uang lokal dan perdagangan non-dolar setelah dikenai sanksi Barat.
India juga aktif mendorong perdagangan bilateral menggunakan mata uang lokal dengan sejumlah negara mitra. Artinya, penggunaan mekanisme di luar dolar bukan sesuatu yang aneh dalam ekonomi global.
Pertanyaannya adalah mengapa Indonesia mulai mempertimbangkannya sekarang?
Rupiah di Bawah Tekanan
Dalam beberapa bulan terakhir, tekanan terhadap rupiah meningkat tajam. Nilai tukar rupiah sempat mendekati Rp18.000 per dolar AS, sementara Bank Indonesia harus melakukan berbagai langkah stabilisasi.
Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan, melakukan intervensi di pasar valas, serta memperkuat instrumen pendalaman pasar keuangan. Namun tekanan eksternal tetap besar.
Menurut data Bank Indonesia, kebutuhan dolar Indonesia masih sangat tinggi karena:
- impor energi,
- pembayaran utang luar negeri,
- repatriasi dividen investor asing,
- dan transaksi perdagangan internasional yang mayoritas menggunakan dolar AS.
Ekonom Universitas Indonesia sekaligus mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, dalam berbagai kajian mengenai ketahanan eksternal Indonesia menjelaskan bahwa salah satu kerentanan negara berkembang adalah ketergantungan terhadap pembiayaan dan perdagangan berbasis dolar.
“Ketika dolar menguat secara global, tekanan terhadap mata uang domestik biasanya ikut meningkat,” ujar Chatib. Dalam konteks inilah gagasan barter atau countertrade kembali mendapat perhatian.
Membaca Dua Sisi
Ada dua cara melihat kebijakan ini.
Sisi Optimistis: Diplomasi Dagang yang Adaptif
Pendukung gagasan ini berpendapat bahwa dunia memang sedang bergerak menuju sistem perdagangan yang lebih beragam. Fenomena de-dollarization mulai muncul di berbagai negara.
Menurut data IMF, porsi dolar AS dalam cadangan devisa global memang masih dominan, tetapi secara bertahap menurun dibanding dua dekade lalu. Banyak negara mulai meningkatkan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral.
Indonesia sendiri telah mengembangkan skema Local Currency Transaction (LCT) dengan sejumlah negara seperti Malaysia, Thailand, Jepang, China, dan Korea Selatan.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo berulang kali menyebut penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap dolar dan menekan biaya transaksi.
Dari sudut pandang ini, barter dengan Filipina dapat dilihat sebagai kelanjutan dari strategi diversifikasi sistem pembayaran internasional.
Sisi Kritis: Ketika Dolar Tidak Bisa Lagi Dihindari
Ekonom pembangunan dari Universitas Indonesia, Prof. Telisa Aulia Falianty, dalam berbagai kajian mengenai ekonomi internasional menekankan bahwa penggunaan mata uang lokal atau skema alternatif tidak otomatis menghilangkan risiko nilai tukar.
Sebab sebagian besar perdagangan global, pembiayaan internasional, dan transaksi komoditas strategis masih menggunakan dolar AS. Data Bank for International Settlements (BIS) menunjukkan dolar masih terlibat dalam hampir 90% transaksi valuta asing global.
Artinya, meskipun perdagangan bilateral dapat mengurangi sebagian kebutuhan dolar, dominasi mata uang AS dalam sistem keuangan global masih sangat kuat. Dari perspektif ini, barter lebih merupakan strategi mitigasi daripada solusi utama.
Ia membantu mengurangi tekanan, tetapi tidak menghilangkan akar persoalan.
Apa Artinya bagi Investor dan Anak Muda?
Bagi investor muda, isu barter dengan Filipina sebenarnya bukan tentang barter itu sendiri. Yang lebih penting adalah memahami pesan di balik kebijakan tersebut. Ketika pemerintah mulai mencari alternatif transaksi di luar dolar, itu menunjukkan bahwa stabilitas nilai tukar sedang menjadi perhatian serius.
Langkah tersebut juga mencerminkan perubahan yang lebih besar dalam ekonomi global. Dunia mulai bergerak menuju sistem yang lebih multipolar, di mana negara-negara berusaha mengurangi ketergantungan pada satu mata uang dominan.
Namun pada saat yang sama, realitas menunjukkan bahwa dolar masih menjadi pusat sistem keuangan internasional. Karena itu, bagi investor, isu ini bukan alasan untuk panik ataupun euforia.
Yang perlu diperhatikan adalah apakah langkah-langkah tersebut mampu memperkuat posisi eksternal Indonesia dalam jangka panjang.
Insight
Barter modern atau countertrade bukanlah langkah mundur menuju ekonomi pramodern. Ia adalah instrumen yang memang digunakan dalam perdagangan internasional ketika negara ingin mengurangi ketergantungan terhadap mata uang tertentu.
Namun kemunculannya di tengah tekanan terhadap rupiah juga menunjukkan bahwa pemerintah sedang mencari berbagai cara untuk mengurangi kebutuhan dolar dalam ekonomi. Artinya, isu ini bukan semata soal barter.
Ini adalah cerminan bagaimana Indonesia berusaha menavigasi dunia yang masih sangat bergantung pada dolar ketika nilai tukar rupiah sedang menghadapi ujian terberatnya dalam beberapa tahun terakhir.

Chrisna Chanis Cara
Editor
