Respons Hype Data Center, PGEO Siap Geber Panas Bumi
- PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menyiapkan panas bumi sebagai sumber listrik baseload untuk menopang pertumbuhan data center dan AI di Indonesia.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Ledakan kebutuhan listrik akibat pertumbuhan data center dan kecerdasan buatan (AI) membuka peluang bisnis baru bagi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO). Perseroan menyiapkan energi panas bumi sebagai sumber listrik baseload yang stabil sekaligus rendah emisi untuk menopang ekspansi ekosistem digital Indonesia.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan, karakteristik operasional data center dan AI factory membutuhkan pasokan listrik yang tersedia selama 24 jam. Kebutuhan tersebut membuat panas bumi memiliki posisi strategis karena mampu menghasilkan listrik secara stabil tanpa bergantung pada kondisi cuaca.
“Panas bumi adalah energi domestik yang bersih dan mampu beroperasi sebagai baseload sepanjang waktu, sehingga sangat cocok menjadi tulang punggung green data centre di Indonesia,” ujar Ahmad Yani dalam diskusi pada The 12th Indonesia EBTKE ConEx 2026 di Jakarta, Senin 7 September 2026.
Potensi pasar tersebut semakin besar seiring pertumbuhan ekosistem digital Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet Indonesia telah mencapai 235,26 juta orang. Indonesia juga memiliki 185 fasilitas data center yang diperkirakan terus bertambah hingga 2029–2030.
PGE telah mengambil langkah awal dengan mengkaji pengembangan elektrifikasi green data center berbasis energi panas bumi di Area Kamojang, Jawa Barat.
Kajian tersebut disiapkan sebagai pilot project sekaligus proof of concept untuk menguji model bisnis, memetakan kebutuhan calon pengguna, dan membangun pasar energi panas bumi untuk pusat data.
PGE Bidik Kapasitas Panas Bumi 1,8 GW
Di tengah peluang tersebut, PGE menargetkan peningkatan kapasitas terpasang secara bertahap menjadi sekitar 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan sekitar 1,8 GW pada 2034.
Pengembangan kapasitas tersebut akan ditopang portofolio sumber daya panas bumi sekitar 3 GW serta pipeline proyek yang telah disiapkan perseroan.
Strategi tersebut sekaligus menjadi bagian dari agenda Beyond Electricity PGE, yang tidak hanya berfokus pada pembangkitan listrik. Perseroan juga mengembangkan pemanfaatan panas bumi untuk green hydrogen, pemanfaatan langsung uap panas bumi, serta layanan teknologi dan laboratorium.
Menurut Ahmad Yani, pengembangan pasar baru diperlukan untuk menciptakan permintaan terhadap energi panas bumi sekaligus mempercepat pemanfaatan potensi yang belum terserap.
Namun, pengembangan panas bumi untuk data center membutuhkan dukungan kebijakan. PGE mendorong penyempurnaan regulasi tarif agar lebih kompetitif, transparan, dan dapat diprediksi.
Selain itu, diperlukan optimalisasi insentif fiskal dan green financing, sinkronisasi wilayah kerja panas bumi (WKP), RUPTL, jaringan listrik, power purchase agreement (PPA), serta target commercial operation date (COD).
Strategi pengembangan juga perlu diselaraskan dengan kebijakan pemerintah mengenai blueprint data center dan pengembangan panas bumi nasional.
PGE Raih Empat Penghargaan EBTKE
Pada ajang The 12th Indonesia EBTKE ConEx 2026, PGE juga meraih empat penghargaan Apresiasi EBTKE 2026 di bidang panas bumi.
PGE Area Ulubelu meraih Juara 2 kategori Penerapan Teknologi Panas Bumi untuk Pemanfaatan Langsung melalui Geothermal Greenhouse. PGE Area Kamojang meraih Juara 3 melalui Geothermal Drytube.
Sementara itu, pada kategori Pembukaan Green Jobs dan Pengembangan SDM Lokal dari Pemanfaatan Langsung Panas Bumi, PGE Area Kamojang meraih Juara 1 melalui Geothermal Dryhouse. PGE Area Lahendong meraih Juara 2 melalui Pupuk Booster Katrili.=
Ahmad Yani mengatakan penghargaan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan panas bumi tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga menciptakan manfaat ekonomi dan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar wilayah operasi.
Pengembangan panas bumi PGE juga sejalan dengan agenda swasembada energi pemerintah. Dalam RUPTL, terdapat alokasi pengembangan panas bumi sebesar 5,2 GW.
PGE melihat momentum 100 tahun perjalanan panas bumi nasional sebagai kesempatan untuk mempercepat pengembangan kapasitas sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen panas bumi terbesar di dunia.
Tulisan ini telah tayang di ibukotakini.com oleh Bunga Citra pada 08 Sep 2026

Chrisna Chanis Cara
Editor
