Tren Pasar

Resmi Jadi Persero, BRIS Fokus Garap Consumer Banking

  • Resmi jadi Persero, BSI fokus garap consumer banking dan ekosistem Islam. Laba tembus Rp7,57 triliun, namun dividen bukan prioritas utama. Cek infonya.
BSI Buka Weekend Banking di 342 Cabang se-Indonesia, Mana Saja?
BSI Buka Weekend Banking di 342 Cabang se-Indonesia, Mana Saja? (Doc/Bank Syariah Indonesia)

JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BRIS resmi menyandang status sebagai Badan Usaha Milik Negara baru tahun ini. Transformasi status ini membawa arah bisnis perseroan menjadi lebih spesifik yakni memfokuskan diri pada segmen consumer banking dan ekosistem Islam.

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menegaskan bahwa kehadiran BSI melengkapi jajaran Himpunan Bank Milik Negara atau Himbara. Langkah strategis ini diambil untuk mengisi ceruk pasar yang belum tergarap maksimal oleh bank pelat merah lainnya yang sudah ada di Indonesia.

Di sisi lain manajemen juga memberikan sinyal mengenai kebijakan dividen yang belum menjadi prioritas utama pada tahun ini. Perseroan memilih fokus memperkuat struktur permodalan guna mendukung ekspansi bisnis yang agresif dalam fase pertumbuhan atau growing stage saat ini.

1. Peta Baru Himbara

Anggoro menjelaskan pembagian fokus bisnis yang jelas antar bank BUMN agar tidak saling memakan pangsa pasar sendiri. Bank Mandiri fokus pada segmen wholesale, BRI menggarap segmen UMKM, dan BTN tetap menjadi pemimpin pasar di segmen perumahan rakyat bersubsidi.

Dalam konfigurasi tersebut BSI hadir untuk melengkapi layanan dengan spesialisasi pada produk perbankan syariah dan consumer banking. Status persero ini merupakan tindak lanjut keputusan RUPSLB akhir tahun lalu yang telah disetujui Kementerian Hukum pada tanggal 23 Januari 2026.

Transformasi ini diharapkan dapat memberikan solusi keuangan yang lebih komprehensif kepada masyarakat luas serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Sinergi antar bank pelat merah ini dinilai akan memperkuat ketahanan sektor jasa keuangan Indonesia di tengah persaingan global yang ketat.

2. Fokus Islamic Ecosystem

Selain segmen konsumer, BSI juga akan menggarap potensi besar dari Islamic Ecosystem yang menjadi keunggulan kompetitif utamanya. Anggoro merinci sektor prioritas yang disasar meliputi organisasi besar seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama atau NU serta sektor pendidikan Islam di daerah.

Tidak ketinggalan sektor kesehatan melalui jaringan rumah sakit dan Indonesia Healthcare Corporation atau IHC juga masuk dalam radar bisnis. Ini adalah ceruk pasar spesifik yang menjadi fokus utama perseroan untuk melengkapi ekosistem layanan perbankan milik negara saat ini.

Strategi ini diperkuat dengan lisensi bullion bank atau bank emas yang telah dikantongi perseroan sejak Februari tahun lalu. Layanan perbankan emas ini akan menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru yang membedakan BSI dengan kompetitor lainnya di industri perbankan.

3. Kinerja Laba Solid

Dari sisi fundamental, BSI berhasil membukukan laba bersih yang solid sebesar Rp7,57 triliun sepanjang tahun buku 2025 lalu. Capaian ini mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 8,02% secara tahunan dibandingkan perolehan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp7,00 triliun di laporan keuangan.

Pertumbuhan laba tersebut didorong oleh fungsi intermediasi yang berjalan sangat baik dengan penyaluran pembiayaan tumbuh double digit. Total pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp319 triliun atau naik 14,49%, sementara Dana Pihak Ketiga tumbuh 16,20% menjadi sebesar Rp380 triliun.

Kinerja operasional yang efisien dan digitalisasi layanan menjadi kunci utama dalam menjaga profitabilitas bank syariah terbesar nasional ini. Pertumbuhan aset dan pembiayaan yang konsisten membuktikan bahwa permintaan layanan keuangan syariah di Indonesia masih sangat besar dan terus berkembang pesat.

4. Dilema Dividen 2025

Terkait pembagian keuntungan, Direktur Keuangan BSI Ade Cahyo Nugroho memberikan pandangan realistis mengenai kebijakan dividen perseroan tahun ini. Ia menegaskan bahwa kebijakan dividend payout saat ini belum menjadi prioritas utama karena posisi BSI yang masih dalam fase pertumbuhan bisnis.

Cahyo menjelaskan perbedaan posisi BSI dengan bank Himbara lain yang sudah matang dan rutin membagikan dividen jumbo. BSI masih membutuhkan penguatan modal atau capital yang besar untuk mendukung rencana ekspansi bisnis yang agresif di masa depan jangka panjang.

Namun keputusan akhir tetap bergantung pada rapat pemegang saham dengan mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan modal dan apresiasi bagi investor. "Ketika institusi seperti kami dalam growing stage, memang dividend payout biasanya menjadi second priority," ujarnya dalam konferensi pers pada Jumat, 7 Februari 2026.

5. Digitalisasi BYOND

Transformasi digital melalui super app BYOND by BSI menjadi tulang punggung pertumbuhan jumlah nasabah secara eksponensial tahun ini. Anggoro melaporkan lonjakan pengguna aplikasi hingga 157% dengan total basis pengguna aktif kini telah mencapai angka 5,9 juta user terdaftar.

Transaksi keuangan nasabah juga didukung oleh infrastruktur fisik yang memadai dengan 6.000 unit ATM dan 21.000 mesin EDC. Kehadiran 126.000 agen BSI di berbagai pelosok daerah turut memperluas jangkauan layanan inklusi keuangan bagi masyarakat yang belum terlayani perbankan.

Kombinasi strategi hybrid antara kanal digital canggih dan jaringan fisik yang luas terbukti efektif mendongkrak kinerja operasional. Hal ini memastikan BSI tetap relevan dan mampu bersaing dalam memberikan layanan terbaik bagi nasabah milenial maupun segmen konvensional di pasar.