Rekomendasi Investasi Jangka Pendek: Likuid dan Minim Risiko
- Ingin dana tetap cair tapi tetap berkembang? Ini pilihan investasi jangka pendek 2026 yang aman, fleksibel, dan cocok untuk pemula.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Kesadaran masyarakat untuk melindungi nilai uang dari inflasi semakin meningkat. Di tengah dinamika ekonomi dan ketidakpastian global, tidak semua orang siap mengunci dana dalam instrumen jangka panjang seperti saham atau properti. Karena itu, investasi jangka pendek menjadi alternatif menarik karena fleksibel, likuid, dan relatif minim risiko.
Bagi investor pemula maupun mereka yang memiliki kebutuhan dana dalam waktu dekat seperti liburan, biaya pendidikan, atau dana darurat, instrumen jangka pendek bisa menjadi solusi cerdas untuk menjaga daya beli tanpa mengorbankan akses terhadap uang tunai.
Secara umum, investasi jangka pendek memiliki horizon waktu beberapa bulan hingga kurang dari satu tahun. Karakteristik utamanya adalah likuiditas tinggi (mudah dicairkan), risiko relatif rendah, dan imbal hasil moderat namun stabil. Instrumen ini cocok bagi masyarakat yang ingin mengoptimalkan dana menganggur tanpa terpapar fluktuasi tajam seperti di pasar saham.
Pertanyaannya, mengapa investasi semacam ini semakin relevan ditahun 2026?, Tekanan inflasi membuat menyimpan uang di tabungan biasa kurang optimal karena bunga tabungan sering kali di bawah laju inflasi. Sementara itu, suku bunga yang cenderung dinamis membuat instrumen berbasis pendapatan tetap menjadi pilihan rasional.
Investasi jangka pendek menawarkan keseimbangan antara keamanan dan pertumbuhan nilai dana. Modal awalnya pun relatif terjangkau—bahkan mulai dari Rp100.000 untuk produk tertentu.
Rekomendasi Instrumen Investasi Jangka Pendek 2026
Reksa Dana Pasar Uang
Reksa Dana Pasar Uang menjadi salah satu pilihan paling populer. Produk ini dikelola oleh manajer investasi dan ditempatkan pada deposito serta surat berharga berjangka kurang dari satu tahun.
Keunggulannya:
- Risiko paling rendah di kelas reksa dana,
- Likuid (pencairan umumnya 1–2 hari kerja),
- Cocok untuk pemula.
- Instrumen ini ideal bagi investor yang menginginkan stabilitas tanpa harus aktif memantau pasar.
Deposito Perbankan
Deposito menawarkan bunga lebih tinggi dibanding tabungan biasa, dengan tenor 1–6 bulan atau lebih. Keamanan dana relatif terjamin karena dilindungi oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sesuai batas maksimal yang berlaku.
Kelebihannya:
- Risiko sangat rendah,
- Imbal hasil pasti,
- Cocok untuk dana parkir jangka pendek.
- Namun, pencairan sebelum jatuh tempo biasanya dikenakan penalti.
Tabungan Berjangka
Produk ini mengharuskan setoran rutin setiap bulan dalam periode tertentu (misalnya 6–12 bulan). Cocok bagi yang memiliki target spesifik seperti biaya liburan atau pembelian gadget.
Manfaatnya:
- Melatih disiplin menabung,
- Risiko minim,
- Lebih terstruktur dibanding tabungan biasa.
Logam Mulia (Emas)
Emas dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) saat kondisi ekonomi bergejolak. Selain tahan terhadap inflasi, emas relatif mudah dijual atau digadaikan ketika dibutuhkan.
Meski harga emas bisa berfluktuasi dalam jangka pendek, instrumen ini tetap menarik bagi investor konservatif yang mengutamakan keamanan nilai.
Baca juga : Saham MEDC, MBMA, dan INCO Rajai Penguatan LQ45
SBN Ritel (ST/ORI)
Surat Berharga Negara Ritel seperti Sukuk Tabungan (ST) atau Obligasi Ritel Indonesia (ORI) diterbitkan pemerintah dan dijamin negara.
Keunggulannya:
- Imbal hasil kompetitif,
- Risiko sangat rendah,
- Beberapa seri memiliki fitur early redemption atau bisa diperdagangkan di pasar sekunder.
- Instrumen ini cocok untuk investor yang ingin keamanan sekaligus imbal hasil lebih baik dari deposito.
Untuk mengoptimalkan arus kas, investor dapat menerapkan strategi laddering atau tangga investasi.
Caranya bagi dana ke beberapa instrumen dengan jatuh tempo berbeda. Misalnya, sebagian di deposito 3 bulan, sebagian di reksa dana pasar uang, dan sebagian di SBN ritel. Strategi ini menjaga likuiditas tetap terjaga sekaligus meminimalkan risiko penempatan dana sekaligus dalam satu waktu.
Baca juga : IHSG Hijau di Pembukaan, Cek Daftar Saham Tercuan Pagi Ini
Tips Penting Sebelum Berinvestasi
- Perhatikan biaya administrasi dan management fee.
- Jangan menginvestasikan seluruh dana darurat.
- Pastikan lembaga atau platform terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
- Manfaatkan fitur autodebet agar konsisten.
- Waspadai instrumen berimbal hasil tinggi seperti peer-to-peer lending, karena risiko gagal bayar juga lebih besar.

Ananda Astri Dianka
Editor
