Bursa Saham

Rebound Pasca-Lebaran, Saham BBRI Cs Jadi Motor Penguatan IHSG April 2025

  • IHSG menguat 2,36% sepanjang April 2025 didorong sektor perbankan. Saham BRIS melonjak 37,56% dan BBTN 29,11%, ditopang optimisme kredit dan kebijakan likuiditas BI.
Ilustrasi Bursa - Panji 4.jpg
Layar menampilkan pergerakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis 12 Januari 2023. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – Pasar saham Indonesia menunjukkan pemulihan signifikan setelah libur panjang Lebaran. Sepanjang April 2025 hingga sesi pertama perdagangan Kamis, 24 April, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat telah menguat 2,36%. 

Katalis utama penguatan ini datang dari sektor perbankan, yang menjadi lokomotif kenaikan berkat sentimen positif terhadap pertumbuhan kredit dan dukungan kebijakan likuiditas. Data Bursa Efek Indonesia mencatat saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mengalami lonjakan 37,56% sepanjang bulan ini, menjadikannya penggerak utama IHSG. 

Selain BRIS, penguatan besar juga terjadi di saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN)  dengan kenaikan 29,11%. Praktis, keduanya mendapat dorongan kuat dari optimisme pasar terhadap sektor perumahan, seiring dengan fokus pemerintah dan Bank Indonesia untuk mempercepat pembangunan perumahan rakyat melalui dukungan kebijakan likuiditas.

Selain BRIS dan BBTN, saham-saham bank jumbo kategori KBMI IV juga ikut bergairah. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 13%, disusul oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) 6,89%, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) 4,86%, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) 4,11%. Performa positif ini menegaskan kembali peran krusial sektor keuangan sebagai jangkar IHSG dalam mengawali kuartal II tahun ini.

Analis Verdhana Sekuritas, Erwin Wijaya, sektor perbankan tetap menunjukkan daya tahan meskipun tekanan ekonomi masih ada, termasuk dari sisi tingginya biaya dana dan perlambatan daya beli. “Namun biaya dana sudah relatif stabil, membuka ruang margin keuntungan yang terjaga, dan itu mendukung prospek laba bank,” tulisnya dalam riset terbaru dikutip pada Kamis, 24 April 2025. 

Dari sisi kebijakan, Bank Indonesia memberikan dorongan signifikan melalui kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM) yang telah disalurkan sebesar Rp370,6 triliun hingga pertengahan April 2025. Jumlah ini naik Rp78,3 triliun dibandingkan Maret lalu, dengan sektor perumahan menerima peningkatan alokasi terbesar, yakni tambahan Rp84 triliun. 

Kebijakan ini memberi ruang likuiditas bagi bank untuk meningkatkan penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas seperti properti, pertanian, manufaktur, transportasi, serta UMKM dan ultramikro.

Kebijakan KLM, yang kini ditingkatkan menjadi 5% dari Dana Pihak Ketiga (DPK) sejak 1 April 2025, memperkuat likuiditas sistem keuangan. Deputi Gubernur BI Juda Agung menyebut, peningkatan ini berpotensi menambah likuiditas lebih dari Rp80 triliun. Kombinasi dari stabilitas suku bunga acuan BI-Rate di 5,75%, insentif KLM, serta sinergi lintas lembaga membuat iklim kredit tetap kondusif di tengah ketidakpastian global.

Dari sisi valuasi, sejumlah sekuritas memberikan pandangan positif. Verdhana Sekuritas menargetkan harga BBCA di Rp12.600, BMRI Rp7.600, BBRI Rp5.000, BBNI Rp6.250, dan BRIS Rp3.800. Sementara itu, Mandiri Sekuritas merekomendasikan beli untuk BBCA di Rp11.900, BBRI Rp3.800, BBNI Rp5.500, BRIS Rp3.300, dan BBTN Rp1.500. 

Setali tiga uang, Sucor Sekuritas memberikan target harga BBCA di Rp11.800, sedangkan Sinarmas Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk BRIS di Rp4.200 dan BBCA di Rp12.400, serta rekomendasi add untuk BMRI di Rp5.600 dan BBNI di Rp5.250.

Dengan ekspektasi stabilitas makroekonomi, sektor perbankan diperkirakan tetap menjadi primadona bagi investor dalam jangka pendek hingga menengah. Apalagi, dukungan dari sisi kebijakan moneter dan makroprudensial semakin memperkuat prospek pertumbuhan kredit dan daya saing lembaga keuangan nasional.