Rebalancing MSCI 31 Agustus, IHSG Dibayangi Outflow Rp1 Triliun
- IHSG tertekan jelang closing auction rebalancing MSCI. Mirae Asset memperkirakan potensi dana keluar pasif mencapai Rp1 triliun.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada perdagangan Senin, 31 Agustus 2026, menjelang berlakunya perubahan indeks MSCI Agustus 2026 setelah perdagangan hari ini.
IHSG dibuka di level 6.511,11. Pada awal perdagangan, indeks sempat turun hingga 6.488,70 atau melemah sekitar 0,40%. IHSG kemudian mencoba berbalik arah dan menyentuh sekitar level 6.520 pada pukul 09.05 WIB.
Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Sekitar pukul 09.35 WIB, IHSG kembali melemah ke level 6.492,15 atau turun sekitar 0,40%.
Pergerakan pasar pada perdagangan hari ini menjadi perhatian karena investor menghadapi agenda rebalancing indeks MSCI yang akan efektif setelah penutupan perdagangan.
Apa yang Terjadi pada IHSG Hari Ini?
Tekanan terhadap IHSG pada awal perdagangan terutama terlihat menjelang pelaksanaan perubahan komposisi indeks MSCI.
Rebalancing MSCI berpotensi memengaruhi transaksi pada sejumlah saham yang mengalami perubahan status dalam indeks. Manajer investasi yang menggunakan indeks sebagai acuan perlu menyesuaikan portofolionya dengan komposisi indeks terbaru.
Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) menjadi perhatian karena mengalami perubahan dalam MSCI.
GOTO dikeluarkan dari MSCI Standard Index, sedangkan CPIN diturunkan dari MSCI Standard Index ke MSCI Small Cap Index.
Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: AADI dan ADRO Terbang, HRTA Tiarap
Tekanan transaksi diperkirakan dapat semakin terlihat pada sesi lelang penutupan atau closing auction karena penyesuaian portofolio berbasis indeks umumnya dilakukan mengikuti harga penutupan.
Perubahan MSCI Agustus 2026 diumumkan pada 12 Agustus 2026 dan berlaku efektif setelah penutupan perdagangan 31 Agustus 2026. Perubahan tersebut menyasar beberapa indeks MSCI untuk saham Indonesia sebagai berikut,
- GOTO dikeluarkan dari MSCI Standard Index.
- CPIN diturunkan dari MSCI Standard Index ke MSCI Small Cap Index.
- Tidak ada saham Indonesia yang ditambahkan ke MSCI Standard Index.
- ARTO, BUKA, ESSA, FILM, HEAL, KPIG, RATU, SMGR, dan TCPI dikeluarkan dari MSCI Small Cap Index.
Perubahan tersebut membuat perhatian pelaku pasar tertuju pada potensi transaksi yang muncul dari penyesuaian portofolio investor institusi.
Baca juga : IHSG Dibuka Stagnan Hari Ini, OILS dan LAPD Ngebut
Mengapa GOTO dan CPIN Didepak?
GOTO menjadi salah satu saham yang paling mendapatkan perhatian dalam rebalancing MSCI Agustus 2026.
Saham tersebut dikeluarkan dari MSCI Standard Index setelah menghadapi persoalan likuiditas dan perdagangan saham pada level harga yang rendah. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan kemampuan investor indeks untuk mereplikasi indeks secara efektif.
Dalam konteks indeks global, likuiditas menjadi salah satu faktor penting karena dana yang mengikuti indeks membutuhkan saham yang dapat diperdagangkan dalam jumlah memadai untuk melakukan penyesuaian portofolio.
CPIN mengalami perubahan klasifikasi dari MSCI Standard Index ke MSCI Small Cap Index. Perubahan tersebut berkaitan dengan penurunan kapitalisasi pasar yang telah disesuaikan dengan free float atau free-float adjusted market capitalization.
Harga saham CPIN tercatat mengalami penurunan sekitar 22,5% sejak review MSCI pada Mei 2026. Penurunan harga tersebut turut memengaruhi kapitalisasi pasar yang menjadi salah satu parameter dalam penentuan klasifikasi saham pada indeks MSCI.
Baca juga : Kenapa Daging Ayam Amat Populer di Indonesia?
Berapa Potensi Dana Keluar Akibat Rebalancing MSCI?
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Wilbert Arifin, memperkirakan rebalancing MSCI kali ini berpotensi menyebabkan aliran dana keluar pasif berada dikisaran Rp500 miliar - Rp1 triliun.
Nilai tersebut terutama berpotensi memberikan tekanan pada saham-saham yang mengalami perubahan komposisi indeks. Dampaknya terhadap IHSG secara keseluruhan diperkirakan lebih terbatas dibandingkan dampaknya terhadap saham tertentu.
Tekanan transaksi juga berpotensi terkonsentrasi pada perdagangan menjelang penutupan, ketika investor yang mengikuti indeks melakukan penyesuaian portofolio.
Dengan demikian, pergerakan IHSG pada sesi reguler tidak sepenuhnya mencerminkan besarnya transaksi yang dapat terjadi pada akhir perdagangan.
Apakah Rebalancing MSCI Akan Menekan IHSG?
Dampak rebalancing MSCI terhadap IHSG diperkirakan relatif terbatas karena transaksi terbesar berpotensi terkonsentrasi pada saham tertentu.
Sentimen perubahan MSCI juga telah diketahui pasar sejak pengumuman pada 12 Agustus 2026. Dengan demikian, sebagian pelaku pasar telah memiliki waktu untuk menyesuaikan posisi sebelum tanggal efektif perubahan indeks.
Data perdagangan juga menunjukkan bahwa sejak 13 Agustus hingga 28 Agustus 2026, investor asing secara kumulatif masih mencatatkan net buy sekitar Rp1,079 triliun.
Namun, pada perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026, investor asing mencatatkan net sell di pasar reguler sekitar Rp1,31 triliun.
Pada awal perdagangan Senin, 31 Agustus 2026, investor asing kembali tercatat melakukan net sell sekitar Rp442 miliar.
Bagaimana Prospek IHSG Setelah Rebalancing MSCI?
Sejumlah analis memperkirakan IHSG masih memiliki ruang untuk bergerak di area konsolidasi setelah agenda rebalancing MSCI selesai.
Ekonom Universitas Indonesia Budi Frensidy memperkirakan IHSG dalam jangka pendek berada di rentang 6.400–6.600. Untuk akhir 2026, IHSG diproyeksikan berada pada kisaran 6.700–7.000.
Sementara itu, Elandry Pratama dari Panin Sekuritas melihat area support IHSG berada di 6.420–6.450, sedangkan resistance berada di 6.550–6.600. Jika level 6.600 dapat ditembus dan aliran dana asing kembali menguat, IHSG berpotensi bergerak menuju 6.700 dalam jangka menengah.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG masih memiliki ruang kenaikan menuju kisaran 6.599–6.666. Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG pada pekan ini akan bergerak dalam rentang 6.400–6.600.
Adapun Reza Diofanda dari BRI Danareksa Sekuritas melihat level support teknikal IHSG berada di sekitar 6.500 dan resistance di 6.568.
Selain rebalancing MSCI, investor akan mencermati sejumlah data ekonomi Indonesia yang dijadwalkan dirilis pada 1 September 2026. Data yang menjadi perhatian antara lain,
- PMI Manufaktur Indonesia
- Neraca perdagangan Indonesia
- Inflasi Indonesia
Data tersebut dapat menjadi indikator bagi pelaku pasar dalam menilai kondisi perekonomian domestik serta arah kebijakan moneter dan pasar keuangan.
Pergerakan rupiah dan arus modal asing juga menjadi faktor yang akan diperhatikan setelah efek rebalancing MSCI berakhir.

Chrisna Chanis Cara
Editor
