Ratusan Kuburan Mengungkap Rahasia Sejarah Muslim Spanyol
JAKARTA-Sebuah situs arkeologi di timur laut Spanyol memiliki salah satu pemakaman Muslim tertua yang diketahui di negara itu. Sebanyak 433 kuburan ditemukan dan beberapa berasal dari 100 tahun pertama penaklukan Islam di Semenanjung Iberia. Penemuan tersebut mengkonfirmasi bahwa wilayah di sepanjang perbatasan antara dunia Islam dan Kristen yang berperang di awal Abad Pertengahan yang bergolak […]

Amirudin Zuhri
Author


Foto: El Patiaz Cultural Association
(Istimewa)JAKARTA-Sebuah situs arkeologi di timur laut Spanyol memiliki salah satu pemakaman Muslim tertua yang diketahui di negara itu. Sebanyak 433 kuburan ditemukan dan beberapa berasal dari 100 tahun pertama penaklukan Islam di Semenanjung Iberia.
Penemuan tersebut mengkonfirmasi bahwa wilayah di sepanjang perbatasan antara dunia Islam dan Kristen yang berperang di awal Abad Pertengahan yang bergolak tersebut pernah didominasi oleh penguasa Muslim. Kekuatan ini kemudian digantikan oleh penguasa Kristen dan sejarah mereka dilupakan.
Para arkeolog menemukan kuburan kuno dari maqbara atau pekuburan Muslim, yang berasal dari antara abad kedelapan dan 12 musim panas ini di kota Tauste, di Lembah Ebro sekitar 40 kilometer barat laut Zaragoza.
- 11 Bank Biayai Proyek Tol Serang-Panimbang Rp6 Triliun
- PTPP Hingga Mei 2021 Raih Kontrak Baru Rp6,7 Triliun
- Rilis Rapid Fire, MNC Studios Milik Hary Tanoe Gandeng Pengembang Game Korea
Sisa-sisa menunjukkan bahwa orang mati dikuburkan sesuai dengan ritual Muslim dan menunjukkan kota itu sebagian besar Islam selama ratusan tahun, meskipun tidak ada penyebutan fase ini dalam sejarah lokal.
“Jumlah orang yang terkubur di pekuburan dan waktu yang dihabiskan menunjukkan bahwa Tauste adalah kota penting di Lembah Ebro pada masa Islam,” kata arkeolog utama Eva Giménez dari heritage company Paleoymás kepada Live Science Rabu 16 Desember 2020.
Giménez dan Paleoymás dikontrak untuk penggalian terbaru oleh Asosiasi Kebudayaan El Patiaz, yang didirikan oleh penduduk setempat pada tahun 1999 untuk menyelidiki sejarah kota tersebut.
Penggalian awal mereka pada tahun 2010 menunjukkan bahwa pekuburan Islam seluas dua hektare di Tauste dapat menampung sisa-sisa hingga 4.500 orang. Tetapi dana asosiasi yang terbatas menjadikan hanya 46 kuburan yang dapat digali dalam empat tahun pertama pengerjaan.
Giménez mengatakan penemuan terbaru mengisyaratkan bahwa lebih banyak kuburan Muslim masih dapat ditemukan. “Kami sekarang memiliki informasi yang menunjukkan bahwa ukuran nekropolis lebih besar dari yang diketahui,” ujarnya.
Para arkeolog mengatakan penguburan kuno di Tauste dilakukan sesuai dengan upacara pemakaman Muslim yang ketat, tanpa barang kuburan atau tanda-tanda perbedaan sosial.
Fase Islam dalam sejarah Tauste telah dilupakan yang mungkin dengan sengaja dan kuburan kuno yang kadang-kadang ditemukan di kota itu dianggap sebagai korban pandemi kolera abad ke-19.
Penaklukan Muslim
Kuburan tersebut berasal dari masa ketika tentara Muslim dari Afrika Utara yang bersekutu dengan kekhalifahan Umayyah Islam di Damaskus menginvasi tempat yang sekarang Spanyol pada tahun 711 M. Pada 718, mereka telah menaklukkan sebagian besar Semenanjung Iberia – sekarang Spanyol dan Portugal – kecuali untuk beberapa daerah pegunungan di barat laut yang tetap menjadi kerajaan Kristen independen.
Tentara Muslim yang disebut “Moor” oleh orang-orang Kristen, kemudian berusaha menaklukkan Gaul – sekarang Prancis – tetapi dipukul mundur pada Pertempuran Toulouse pada 721 dan kemudian pada Pertempuran Tours pada 732, di mana mereka dikalahkan oleh sebuah tentara Frank yang lebih kecil dipimpin oleh bangsawan Charles Martel. Dikatakan bahwa penggunaan kavaleri berat kaum Frank memainkan peran yang menentukan dalam pertempuran tersebut.
Setelah itu, para pemimpin Muslim menetapkan pemerintahan mereka di selatan Barcelona dan Pyrenees, pegunungan yang membelah Spanyol dan Prancis. Lembah Ebro di sekitar Zaragoza tetap berada di tangan Muslim.
Wilayah yang diperintah Muslim kemudian dikenal sebagai al-Andalus – dengan “Andal” mungkin berasal dari nama Vandal yang telah ditaklukkan Muslim – dan mencapai puncak budayanya sekitar abad ke-10 dengan kemajuan dalam matematika, astronomi, dan kedokteran.
Rezim Muslim disebut lunak. Orang Yahudi dan Kristen diizinkan untuk menjalankan agama mereka jika mereka memilih untuk tidak masuk Islam, tetapi mereka membayar pajak tambahan, yang disebut jizya.
Pemerintahan Muslim di Spanyol mulai terpecah setelah abad ke-11, dan kerajaan Kristen di utara tumbuh lebih kuat. Kekuatan Muslim terakhir, di Granada, dikalahkan pada tahun 1492 oleh tentara Castile dalam pertempuran terakhir Christian Reconquista yang dipimpin oleh Isabela dan Ferdinand, ratu dan raja pertama Spanyol. Setelah itu Islam dilarang dan penganiayaan pada Muslim berlanjut hingga awal abad ke-17.
Pengaruh aturan Islam telah diakui di bagian-bagian terdekat dari wilayah tersebut, tetapi sejarah tidak menyebutkan tentang fase Islam di Tauste. Beberapa anggota El Patiaz mencurigai menara gereja abad ke-11 di kota itu berasal dari Islam. Dugaan itu terkonfirmasi ketika pemeriksaan menunjukkan bahwa itu dulunya adalah menara dengan arsitektur khas Zagri.
Maka pada 2010, kelompok tersebut memulai penggalian yang dipimpin oleh arkeolog Francisco Javier Gutierrez. Mereka mengetahui bahwa kuburan kuno di Tauste berisi orang-orang yang dikuburkan dengan cara Islam dan bukan dalam gaya penguburan massal untuk para korban pandemi kolera.
Setiap kuburan berisi sisa-sisa satu orangdan biasanya diletakkan di sisi kanan sehingga pandangan mereka mengarah ke Mekah dan masing-masing ditutupi dengan gundukan tanah. Kuburan juga menunjukkan ciri khas Muslim lainnya yakni hanya sebesar ukuran jenazah, dan orang mati dimakamkan dengan kafan putih, terlepas dari status sosial mereka.
