Tren Global

Punya Tabungan Rp100 Juta di Usia 25, Realistis atau Toxic Goal?

  • Narasi finansial di media sosial punya kecenderungan berbahaya, media sosial memperlihatkan puncak pencapaian orang lain, bukan rata-rata perjuangan.
Ilustrasi dua orang wanita sedang memegang uang hasil tabungan.
Ilustrasi dua orang wanita sedang memegang uang hasil tabungan. (Freepik/drobotdean)

JAKARTA, TRENASIA - Di FYP TikTok dan thread X, narasi soal standar finansial anak muda terus berseliweran. Salah satu yang paling sering muncul "Di usia 25, kamu harus punya tabungan minimal Rp100 juta.

Kalimat itu terdengar masuk akal, sampai kamu mulai menghitungnya sendiri. Dan saat kamu mulai hitung, angka itu terasa jauh seperti puncak gunung yang difoto pakai lensa tele.

Tapi pertanyaannya bukan sekadar bisa atau tidak bisa. Pertanyaannya adalah standar itu lahir dari mana, dan apakah ia relevan dengan kondisi nyata anak muda Indonesia di 2026?

Narasi finansial di media sosial punya kecenderungan berbahaya, media sosial memperlihatkan puncak pencapaian orang lain, bukan rata-rata perjuangan. Konten seperti "Gue 24 tahun, net worth Rp200 juta" jauh lebih viral dibanding "Gue 25 tahun, baru bisa nabung Rp500 ribu sebulan."

Riset yang dipublikasikan oleh Universitas Muhammadiyah Sidoarjo menemukan bahwa Gen Z lebih cenderung terlibat dalam pengeluaran impulsif dan gaya hidup konsumtif karena tekanan media sosial.

Mereka sering merasa tertekan untuk tampil dengan gaya hidup tertentu yang ditunjukkan di media sosial, yang mengarah pada keputusan keuangan tidak bijak demi mendapatkan pengakuan sosial.

Lebih jauh, survei OJK menyoroti bahwa perilaku YOLO (You Only Live Once) dan FOMO (Fear of Missing Out) mendorong keputusan finansial impulsif di kalangan Gen Z, seperti membeli barang viral tanpa perhitungan. Data dari Research Institute menunjukkan alokasi tabungan Gen Z hanya sekitar 10,17% dari pendapatan, angka yang jauh dari cukup untuk mengejar target Rp50 juta.

Baca juga : Jejak Berdarah Bull Trap: Sejarah Kelam Penipu Ritel di Bursa

Simulasi Jujur : Berapa yang Bisa Ditabung?

Mari kita periksa dengan angka nyata. Berdasarkan laporan Jobstreet dan LinkedIn Indonesia 2025, rata-rata gaji fresh graduate di Indonesia berkisar antara Rp2 juta hingga Rp8 juta per bulan, tergantung wilayah dan industri.

Anggap seorang fresh graduate usia 22 tahun kerja di Jakarta dengan gaji Rp6 juta. Seperti apa realita anggarannya?

Biaya kos standar di Jakarta dimulai dari Rp700 ribu untuk lokasi pinggiran, sedangkan kos layak dengan fasilitas memadai mudah menyentuh Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per bulan. 

Biaya makan tiga kali sehari di tempat sederhana bisa mencapai Rp2 juta hingga Rp2,4 juta per bulan. Transportasi via TransJakarta pergi-pulang 22 hari kerja saja menghabiskan sekitar Rp154 ribu, sementara penggunaan MRT bisa mencapai Rp616 ribu per bulan.

Belum termasuk internet (Rp200-400 ribu), kebutuhan harian, dan pengeluaran sosial yang sulit dihindari. Total pengeluaran minimum seorang pekerja muda di Jakarta bisa menyentuh Rp4,5 juta hingga Rp5,5 juta per bulan, hanya untuk bertahan hidup secara layak.

Artinya, dengan gaji Rp6 juta, sisa yang bisa ditabung berkisar Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta per bulan, itupun kalau benar-benar disiplin dan tidak ada pengeluaran tak terduga. 

Jika menabung Rp1 juta per bulan konsisten selama 3 tahun (dari usia 22 ke 25), total tabungan hanya Rp36 juta, belum termasuk bunga, dan itu skenario paling optimis.

Kesimpulannya, target Rp100 juta di usia 25 bukan tidak mungkin, tapi ia bukan standar rata-rata ia adalah pencapaian di atas rata-rata.

Siapa yang Bisa Capai Angka Itu?

Jujur saja ada yang bisa capai angka Rp50 juta. Tapi mereka biasanya punya kondisi yang tidak semua orang miliki, tidak membayar kos karena masih tinggal bersama orang tua, bekerja di sektor bergaji tinggi seperti teknologi atau keuangan sejak awal karier, atau memiliki penghasilan tambahan dari side hustle atau freelance.

Lulusan teknik atau IT bisa membawa pulang gaji awal Rp6-7 juta, sementara UMR di wilayah tersebut masih di angka Rp5 jutaan. Di sisi lain, banyak perusahaan sudah mulai memberikan gaji fresh graduate sedikit di atas UMR, terutama untuk posisi yang membutuhkan skill spesifik. 

Tapi ini tidak berlaku untuk semua bidang. Lulusan administrasi, komunikasi, atau hospitality sering kali memulai karier di kisaran Rp4–5 juta angka yang membuat target Rp50 juta di usia 25 terasa seperti teka-teki yang jawaban satu-satunya adalah, tidak tinggal di kota besar.

Masalah terbesar dari standar finansial media sosial bukan angkanya, tapi dampak psikologisnya ketika tidak tercapai. Gen Z umumnya berada di awal karier dengan pendapatan yang relatif rendah, sementara biaya hidup yang terus meningkat menambah tekanan finansial, terutama bagi mereka yang tinggal di kota besar. Kurangnya literasi keuangan membuat mereka lebih rentan terhadap masalah keuangan di masa depan.

Ketika standar yang tidak realistis terus dipertontonkan di media sosial, yang terjadi bukan motivasi, tapi dua respons ekstrem yang sama-sama berbahaya. Pertama, memaksakan diri meraih angka tersebut dengan cara apapun (termasuk utang konsumtif dan BNPL). Kedua, menyerah total karena merasa terlambat dan tidak ada gunanya memulai.

Kebiasaan belanja impulsif dan melebihi kemampuan sering kali mengakibatkan seseorang terjebak dalam lingkaran utang. Dengan pengeluaran yang tidak terkendali, akan sangat sulit menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung. Beban utang yang menumpuk dapat menyebabkan stres keuangan yang signifikan.

Baca juga : Rupiah Melemah, Ancam Daya Beli Masyarakat Jelang Idulfitri

Jadi, Apa Standar yang Lebih Sehat?

Para perencana keuangan umumnya menyarankan pendekatan berbasis persentase, bukan nominal mutlak. Salah satu formula yang populer adalah alokasi 20% dari pendapatan untuk tabungan dan investasi, bukan angka yang kaku, melainkan target fleksibel yang disesuaikan dengan kondisi bulan berjalan. 

Prinsipnya disiplin tapi fleksibel, karena strategi keuangan yang efektif bukan yang bikin stres, tapi yang bikin kamu sadar prioritas. Dengan gaji Rp6 juta dan tabungan 20%, artinya target bulanan adalah Rp1,2 juta. Dalam 3 tahun karier, itu menghasilkan Rp43 juta, angka yang lebih masuk akal dan tidak mengorbankan kualitas hidup secara brutal.

Tren terbaru juga mencerminkan pergeseran pola pikir, data KSEI Februari 2025 mencatat lebih dari separuh investor pasar modal Indonesia atau 54,62% berusia di bawah 30 tahun. 

Banyak Gen Z kini mulai memikirkan financial freedom sebelum usia 40 dengan memanfaatkan instrumen investasi yang makin mudah diakses. Namun, target finansial yang baik bukan yang paling besar di TikTok, tapi yang paling sesuai dengan kondisi nyata hidupmu.