Tren Ekbis

Punya Rp10 Juta, Lebih Baik Investasi Deposito, SBN, atau Saham?

  • Punya Rp10 juta dan bingung pilih investasi deposito, SBN, atau saham? Simak simulasi hasil investasi selama 1 tahun berdasarkan profil risiko.
download (1).jpg
Investasi (LINE Bank)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Memiliki dana Rp10 juta memberikan sejumlah pilihan investasi bagi masyarakat, mulai dari deposito, Surat Berharga Negara (SBN), hingga saham, ketiganya memiliki karakteristik risiko dan potensi keuntungan yang berbeda.

Deposito cenderung menawarkan risiko paling rendah dengan imbal hasil yang relatif stabil. Sementara itu, SBN memberikan kupon berkala dengan risiko gagal bayar yang sangat rendah karena pembayaran pokok dan imbalannya dijamin pemerintah. Di sisi lain, saham menawarkan potensi keuntungan yang lebih besar, tetapi nilainya juga dapat turun dalam waktu singkat.

Sebagai gambaran, berikut simulasi sederhana jika investor memiliki dana Rp10 juta dan menempatkannya selama satu tahun,

Simulasi Rp10 Juta di Deposito

Deposito menawarkan bunga tetap sesuai tingkat bunga yang diberikan bank. Untuk simulasi, digunakan asumsi bunga deposito 4% per tahun. Dengan modal Rp10 juta, bunga bruto yang diperoleh dalam satu tahun adalah:

  • Rp10 juta × 4% = Rp400.000

Bunga deposito dikenakan PPh final 20% untuk deposito yang memenuhi ketentuan pengenaan pajak. Dengan demikian, estimasi pajaknya:

  • Rp400.000 × 20% = Rp80.000

Sehingga bunga bersih yang diterima sekitar:

  • Rp400.000 - Rp80.000 = Rp320.000

Dengan asumsi tersebut, nilai dana setelah satu tahun menjadi sekitar Rp10,32 juta. Namun, bunga deposito setiap bank dapat berbeda. Karena itu, angka 4% dalam simulasi ini hanya merupakan asumsi, bukan tingkat bunga yang berlaku untuk seluruh bank.

Simulasi Rp10 Juta di SBN

SBN menjadi pilihan lain bagi investor yang menginginkan pendapatan relatif stabil. Pemerintah menjamin pembayaran pokok dan imbal hasil SBN sesuai ketentuan instrumennya. Pajak atas kupon SBN untuk investor domestik saat ini lebih rendah dibandingkan bunga deposito, yakni 10%.

Untuk simulasi, misalnya investor mendapatkan SBN dengan kupon 6% per tahun.

Dengan modal Rp10 juta:

  • Rp10 juta × 6% = Rp600.000

Pajak kupon:

  • Rp600.000 × 10% = Rp60.000

Maka estimasi kupon bersih selama satu tahun:

  • Rp600.000 - Rp60.000 = Rp540.000

Jika hanya memperhitungkan kupon dan mengabaikan perubahan harga pasar, nilai manfaat investasi selama setahun sekitar Rp540.000, sehingga pokok Rp10 juta tetap menjadi Rp10 juta dan investor menerima kupon bersih sekitar Rp540.000.

Perlu dicatat, karakter masing-masing SBN berbeda. SBN yang dapat diperdagangkan di pasar sekunder juga dapat mengalami perubahan harga jika dijual sebelum jatuh tempo.

Simulasi Rp10 Juta di Saham

Berbeda dengan deposito dan SBN, hasil investasi saham tidak bisa ditentukan sejak awal. Jika Rp10 juta ditempatkan pada saham, nilai investasi setelah satu tahun bisa lebih tinggi atau lebih rendah dari modal awal.

Sebagai ilustrasi:

  • Skenario turun 50%: Rp10 juta menjadi Rp5 juta.
  • Skenario turun 20%: Rp10 juta menjadi Rp8 juta.
  • Skenario tidak berubah: Rp10 juta tetap menjadi Rp10 juta.
  • Skenario naik 10%: Rp10 juta menjadi Rp11 juta.
  • Skenario naik 25%: Rp10 juta menjadi Rp12,5 juta.
  • Skenario naik 50%: Rp10 juta menjadi Rp15 juta.

Simulasi tersebut belum memperhitungkan biaya transaksi maupun dividen. Artinya, saham memiliki potensi keuntungan paling besar dalam simulasi tersebut, tetapi juga memiliki risiko kerugian yang jauh lebih tinggi dibandingkan deposito dan SBN.

Jadi, Mana yang Lebih Menguntungkan?

Tidak ada instrumen investasi yang secara otomatis paling menguntungkan untuk semua investor. Setiap pilihan memiliki karakteristik berbeda dari sisi potensi keuntungan, risiko, likuiditas, hingga jangka waktu investasi.

Deposito lebih cocok bagi investor yang mengutamakan kestabilan nilai dana. Bunga deposito sudah ditentukan sejak awal sesuai ketentuan produk dan bank, sehingga investor dapat memperkirakan imbal hasil yang akan diterima. Namun, potensi keuntungannya cenderung lebih terbatas dibandingkan instrumen yang memiliki risiko lebih tinggi.

Sementara itu, SBN dapat menjadi pilihan bagi investor yang menginginkan pendapatan berkala dengan risiko relatif rendah. Investor memperoleh kupon sesuai ketentuan instrumen yang dibeli. Untuk jenis SBN yang dapat diperdagangkan, investor juga memiliki peluang mendapatkan keuntungan atau mengalami kerugian dari perubahan harga apabila menjual sebelum jatuh tempo.

Berbeda dengan keduanya, saham memiliki potensi keuntungan yang lebih besar, tetapi risikonya juga lebih tinggi. Harga saham dapat naik dan turun mengikuti kondisi perusahaan, sentimen pasar, kondisi ekonomi, hingga faktor global.

Karena itu, investor tidak seharusnya hanya melihat instrumen mana yang memberikan potensi keuntungan paling tinggi. Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa besar risiko yang mampu ditanggung dan kapan dana tersebut akan digunakan.

Bagaimana Membagi Rp10 Juta?

Investor juga tidak harus menempatkan seluruh dana Rp10 juta pada satu instrumen. Diversifikasi dapat dilakukan dengan membagi dana ke beberapa aset sesuai profil risiko. Pembagian berikut merupakan contoh ilustrasi, bukan rekomendasi investasi yang berlaku untuk semua orang,

Profil Konservatif

Investor dengan profil konservatif biasanya lebih mengutamakan keamanan dan kestabilan nilai dana dibandingkan mengejar keuntungan tinggi. Contoh pembagian Rp10 juta:

  • Rp6 juta di deposito
  • Rp3 juta di SBN
  • Rp1 juta di saham

Dengan komposisi tersebut, sebagian besar dana ditempatkan pada instrumen yang relatif lebih stabil. Porsi saham dibuat kecil sehingga jika terjadi penurunan pasar, dampaknya terhadap keseluruhan portofolio relatif terbatas.

Strategi ini dapat dipertimbangkan oleh investor yang baru mulai berinvestasi atau memiliki toleransi risiko rendah. Namun, tetap perlu diperhatikan bahwa setiap produk memiliki risiko dan ketentuan yang berbeda.

Profil Moderat

Investor moderat biasanya bersedia mengambil risiko lebih besar untuk mendapatkan potensi imbal hasil yang lebih tinggi. Contoh pembagian,

  • Rp3 juta di deposito
  • Rp4 juta di SBN
  • Rp3 juta di saham

Dalam komposisi ini, saham mendapatkan porsi yang lebih besar dibandingkan profil konservatif. Pada saat yang sama, deposito dan SBN masih menjadi bagian penting untuk menjaga kestabilan portofolio. Jika pasar saham mengalami penurunan, kerugian tidak langsung memengaruhi seluruh Rp10 juta karena sebagian dana masih berada pada instrumen lainnya.

Profil Agresif

Investor agresif biasanya memiliki toleransi risiko lebih tinggi dan siap menghadapi fluktuasi nilai investasi demi mengejar potensi keuntungan yang lebih besar. Contoh pembagian,

  • Rp1 juta di deposito
  • Rp2 juta di SBN
  • Rp7 juta di saham

Dengan porsi saham mencapai 70%, nilai portofolio akan lebih sensitif terhadap pergerakan pasar saham.

Sebagai ilustrasi, jika bagian saham Rp7 juta turun 20%, nilai bagian tersebut berkurang sekitar Rp1,4 juta. Sebaliknya, jika naik 20%, nilainya bertambah sekitar Rp1,4 juta, sebelum memperhitungkan biaya transaksi dan faktor lainnya.

Artinya, semakin besar porsi saham, semakin besar pula potensi keuntungan sekaligus risiko kerugiannya.

Hal lain yang perlu diperhatikan sebelum menempatkan Rp10 juta adalah asal dana tersebut.

Jika Rp10 juta merupakan satu-satunya uang yang dimiliki dan masih diperlukan untuk kebutuhan sehari-hari, biaya kesehatan, tempat tinggal, atau kebutuhan mendesak lainnya, dana tersebut sebaiknya tidak seluruhnya ditempatkan pada instrumen berisiko. Pasalnya, kebutuhan mendadak dapat memaksa investor menjual aset pada saat harga sedang turun.

Kondisi tersebut berbeda jika Rp10 juta merupakan dana yang memang disiapkan khusus untuk investasi dan tidak akan digunakan dalam waktu dekat. Investor memiliki ruang yang lebih besar untuk menghadapi fluktuasi pasar.