Tren Global

Proyek Kereta Api Trans-Kalimantan Jangan Ulangi Pola Whoosh!

  • Indonesia menjajaki investasi China dan Rusia untuk membangun kereta Trans-Kalimantan sepanjang 2.772 km. IKN berpotensi masuk jaringan.
KERETA CEPAT.jpg
China incar pembangunan jalur kereta cepat Trans Kalimantan. (Ilustrasi)

JAKARTA, TRENASIA.ID — Pemerintah tengah menjajaki peluang investasi asing untuk membangun jaringan kereta api Trans-Kalimantan sepanjang 2.772 kilometer. China dan Rusia disebut menjadi dua negara yang telah menunjukkan minat terhadap proyek strategis tersebut.

Rencana itu menjadi sorotan media asal Hong Kong berbahasa Inggris, South China Morning Post (SCMP), dalam laporan yang terbit pada Minggu, 27 September 2026.

Dalam laporan berjudul “Indonesia eyes China for massive 2,772km railway project – with caution”, SCMP menyebut pemerintah Indonesia sedang mengeksplorasi dukungan investasi asing untuk merealisasikan jaringan kereta Trans-Kalimantan. 

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi sebelumnya menyatakan pemerintah telah berkomunikasi dengan calon investor dari dalam maupun luar negeri, termasuk China dan Rusia. “Kami sudah jajaki dengan dalam negeri maupun dengan luar negeri, di antaranya Rusia dan China,” kata Dudy pada Agustus 2026, seperti dikutip ANTARA.

Menurut Dudy, PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah menyiapkan roadmap pengembangan jaringan kereta Trans-Sumatra dan Trans-Kalimantan. Untuk Kalimantan, jaringan tersebut harus dibangun dari awal karena belum memiliki jaringan kereta api publik yang terintegrasi. 

Kereta Trans-Kalimantan Bisa Jadi Proyek 2.772 Km

Jaringan Trans-Kalimantan dirancang untuk menghubungkan berbagai wilayah di Pulau Kalimantan, khususnya kawasan Indonesia yang memiliki sumber daya alam melimpah.

Proyek tersebut juga memiliki arti strategis karena Nusantara atau Ibu Kota Nusantara (IKN) berada di Kalimantan, sementara kawasan tersebut hingga kini belum memiliki jaringan kereta api publik yang beroperasi secara terintegrasi.

Sebelumnya, Dudy juga membuka kemungkinan jaringan kereta Trans-Kalimantan dikembangkan hingga terhubung dengan IKN. Namun, pemerintah masih membahas trase bersama Kementerian PPN/Bappenas dan calon investor. 

SCMP mengutip peneliti senior ISEAS-Yusof Ishak Institute, Siwage Dharma Negara, yang menilai China memiliki kemampuan menawarkan ekosistem perkeretaapian secara terintegrasi, mulai dari pembiayaan, rekayasa, teknologi hingga tenaga ahli.

Pengalaman China membangun Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh sepanjang 142,8 kilometer juga disebut menjadi salah satu modal pengalaman teknis China di Indonesia. 

Tantangan: Medan Kalimantan hingga Pembiayaan

Meski memiliki pengalaman membangun infrastruktur kereta api dalam berbagai kondisi geografis, proyek Trans-Kalimantan menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks.

Spesialis perkeretaapian independen David Feng yang dikutip SCMP menyebut pengalaman China menangani berbagai kondisi geografis dapat menjadi keunggulan. Namun, kondisi Kalimantan seperti kelembapan tinggi dan medan yang tidak stabil tetap menjadi tantangan teknis.

Dari sisi pembiayaan, pengalaman Whoosh juga menjadi perhatian.

SCMP mencatat proyek kereta cepat Jakarta-Bandung menghadapi pembengkakan biaya dan keterlambatan yang kemudian menimbulkan beban utang miliaran dolar AS. Siwage menyebut pengalaman tersebut sebagai pelajaran penting dalam pembiayaan proyek infrastruktur. 

Karena itu, keterlibatan China dalam Trans-Kalimantan tidak serta-merta berarti pemerintah akan menggunakan pola pembiayaan yang sama seperti Whoosh.

Negosiasi mengenai siapa yang menanggung risiko komersial, skema pembiayaan, kelayakan proyek, hingga target penyelesaian diperkirakan menjadi bagian penting sebelum proyek masuk tahap konstruksi.

China dan Rusia Sama-sama Berminat

Pemerintah hingga kini belum menetapkan China sebagai investor final proyek Trans-Kalimantan.

Menhub Dudy menyatakan China dan Rusia masih melakukan perhitungan kelayakan bisnis sebelum menyampaikan proposal. Pemerintah juga belum menentukan proyek mana yang akan lebih dahulu direalisasikan karena keputusan tersebut akan bergantung pada penilaian investor terhadap kelayakan proyek. 

Dengan demikian, perkembangan terbaru proyek Kereta Trans-Kalimantan 2.772 km masih berada pada tahap penjajakan investasi, bukan tahap penetapan kontraktor atau konstruksi.

Pengalaman Bali Jadi Catatan

SCMP juga mengaitkan rencana Trans-Kalimantan dengan perkembangan proyek transportasi lain yang melibatkan perusahaan China di Indonesia.

Salah satunya adalah rencana Bali Urban Subway senilai sekitar US$20 miliar yang mengalami persoalan investasi dan kelayakan. China Railway Construction Corporation (CRCC), perusahaan yang juga terlibat dalam pembangunan Whoosh, sebelumnya menjadi bagian dari proyek tersebut. 

Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan kemudian menyatakan Bali bergerak menuju alternatif sistem autonomous rail rapid transit (ART), dengan KAI melakukan studi awal bersama pemangku kepentingan terkait. ***

Posisi Proyek Saat Ini

Jika diringkas, status Kereta Trans-Kalimantan 2.772 km adalah sebagai berikut:

-Panjang rencana: sekitar 2.772 km.

-Investor yang dijajaki: China dan Rusia, selain investor domestik.

-Status: penjajakan investasi dan kajian kelayakan.

-Trase: masih dalam pembahasan pemerintah.

-IKN: terdapat peluang jaringan dikembangkan terhubung dengan IKN, tetapi belum menjadi trase final.

-Konstruksi: belum dimulai.

-Investor/kontraktor final: belum ditetapkan.

 

Tulisan ini telah tayang di ibukotakini.com oleh Hadi Zairin pada 28 Sep 2026 

Tags: