Tren Inspirasi

Profil Jacky Manuputty, Pendeta Maluku yang Masuk 22 Sosok Reset Indonesia

  • Profil lengkap Pdt. Jacky Manuputty, Ketua Umum PGI yang masuk 22 tokoh Buku Reset Indonesia berkat kiprahnya membangun perdamaian lintas agama.
jacky.jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID – Pendeta Jacklevyn Frits (Jacky) Manuputty menjadi salah satu dari 22 tokoh yang dipilih dalam Buku Reset Indonesia, sebuah karya yang menghimpun sosok-sosok yang dinilai memiliki gagasan, rekam jejak, serta kontribusi nyata dalam mendorong perubahan mendasar bagi Indonesia.

Dalam pengantar buku tersebut dijelaskan bahwa para tokoh yang dipilih bukan semata karena kesempurnaan, melainkan karena dinilai memiliki imajinasi, keberanian, dan kiprah untuk menghadirkan perubahan di berbagai bidang, mulai dari sosial, ekonomi, budaya, hukum hingga politik. 

Mereka berasal dari latar belakang yang beragam, seperti aktivis, akademisi, penegak hukum, kepala daerah, hingga pemimpin organisasi keagamaan.

Salah satu nama yang masuk dalam daftar tersebut adalah Pdt. Jacky Manuputty, pendeta Gereja Protestan Maluku (GPM) yang selama lebih dari dua dekade dikenal sebagai aktivis perdamaian, advokat masyarakat adat, pegiat lingkungan, hingga kini menjabat sebagai Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI).

Lantas, siapa sebenarnya Jacky Manuputty? Berikut profil lengkapnya,

Profil Singkat Jacky Manuputty

Jacklevyn Frits Manuputty lahir di Haruku, Maluku Tengah, pada 20 Juli 1965. Ia merupakan putra dari Gotlief Johanis Manuputty dan Esterlina Ririmasse, serta menikah dengan Lousye (Loisye) Maspaitella.

Sebagai pendeta Gereja Protestan Maluku (GPM), Jacky dikenal luas bukan hanya karena pelayanannya di gereja, tetapi juga kiprahnya dalam membangun rekonsiliasi sosial, memperjuangkan hak masyarakat adat, serta mengembangkan dialog lintas agama di Indonesia.

Perjalanan akademik Jacky dimulai di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta. Untuk memperluas perspektifnya terhadap persoalan sosial dan kemanusiaan, ia kemudian melanjutkan studi filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta.

Baca juga : Iman Zanatul Haeri, Guru Sejarah yang Masuk 22 Tokoh Reset Indonesia

Ia juga menempuh pendidikan magister (Master of Arts) bidang Christian-Muslim Relations di Hartford Seminary, Connecticut, Amerika Serikat. Atas dedikasi dan kontribusinya dalam membangun perdamaian lintas agama, almamater tersebut kemudian menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa (Dr. HC).

Sebelum menjadi pendeta, perjalanan hidup Jacky tidak sepenuhnya berada di lingkungan gereja. Ia pernah bekerja serabutan dan terlibat dalam dunia teater hingga bermain dalam film garapan sutradara ternama Teguh Karya.

Setelah menikah, ia memutuskan kembali ke Ambon dan memilih menekuni panggilan pelayanan. Pada 1997, Jacky resmi ditahbiskan sebagai pendeta dan memulai pelayanannya sebagai Ketua Majelis Jemaat GPM Haria, Klasis Lease.

Ia juga dipercaya menjadi Direktur Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Sinode GPM pada periode 2011–2017.

Konsisten Mengadvokasi Lingkungan dan Masyarakat Adat

Selain dikenal sebagai pemimpin gereja, Jacky memiliki rekam jejak panjang dalam advokasi lingkungan dan hak masyarakat adat.

Bersama sejumlah tokoh gereja, ia pernah terlibat dalam gerakan penolakan terhadap rencana pertambangan di Pulau Haruku, kampung halamannya. Gerakan tersebut berhasil menghentikan proyek pertambangan yang dinilai berpotensi merusak lingkungan dan ruang hidup masyarakat.

Jacky juga menjadi salah satu tokoh penting dalam gerakan #SaveAru, yang menolak rencana pembukaan perkebunan tebu skala besar di Kepulauan Aru karena dinilai mengancam hutan serta kehidupan masyarakat adat.

Di bidang akademik, ia pernah mengajar filsafat di Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) dan aktif mendorong mahasiswa terlibat dalam gerakan reformasi menjelang berakhirnya pemerintahan Orde Baru.

Berperan Besar dalam Perdamaian Ambon

Nama Jacky Manuputty semakin dikenal ketika konflik komunal melanda Ambon dan Maluku pada periode 1999–2003.

Di tengah konflik tersebut, ia aktif membangun dialog lintas agama serta melakukan advokasi perdamaian di tingkat nasional maupun internasional. Ia juga terlibat dalam proses menuju Perjanjian Damai Malino II, yang menjadi salah satu tonggak berakhirnya konflik di Maluku.

Bersama tokoh lintas agama lainnya, Jacky kemudian mendirikan Lembaga Antar Iman Maluku untuk Aksi Kemanusiaan (LAIM).

Melalui organisasi tersebut, berbagai program dijalankan, antara lain,

  • penguatan dialog lintas agama,
  • pendidikan perdamaian,
  • pengembangan jaringan pencegahan konflik,
  • penguatan kapasitas masyarakat sipil.

Baca juga : Pohon Bisnis Haji Isam: Batu Bara, Sawit, hingga Industri Kreatif

Menggagas Gerakan "Provokator Damai"

Pada 11 September 2011, Jacky bersama sejumlah rekannya meluncurkan gerakan Provokator Damai (Peace Provocateurs). Gerakan ini lahir sebagai respons terhadap maraknya penyebaran provokasi konflik melalui media sosial.

Alih-alih membiarkan teknologi menjadi alat penyebar kebencian, gerakan tersebut justru memanfaatkannya untuk menyebarkan pesan perdamaian melalui kampanye "texting for peace".

Selain kampanye digital, mereka juga mengembangkan sejumlah program, seperti:

  • program live-in lintas agama,
  • kurikulum pendidikan perdamaian,
  • khotbah lintas iman,
  • pemulihan trauma (trauma healing) bagi korban konflik.

Karier Jacky di tingkat nasional terus berkembang. Ia menjabat sebagai Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) pada periode 2019–2024.

Selanjutnya, dalam Sidang Raya XVIII PGI di Rantepao, Toraja Utara, pada November 2024, Jacky terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PGI periode 2024–2029.

Ia menjadi pendeta Gereja Protestan Maluku kedua yang menduduki posisi tersebut setelah Pdt. Prof. Dr. Peter Dominggus Latuihamallo.

Sebagai Ketua Umum PGI, Jacky terus menyuarakan berbagai isu sosial dan kemanusiaan. Beberapa sikap yang kerap disampaikan antara lain,

  • mendorong perlindungan masyarakat adat,
  • mengkritisi proyek pembangunan yang dinilai mengancam lingkungan,
  • menolak pendekatan keamanan yang berlebihan dalam penyelesaian konflik,
  • memperkuat dialog lintas agama yang berorientasi pada penyelesaian persoalan nyata di masyarakat.

Baginya, dialog antarumat beragama tidak cukup berhenti pada seremoni, tetapi harus mampu menjawab persoalan kemanusiaan dan keadilan sosial.

Penghargaan dan Pengakuan

Dedikasinya dalam membangun perdamaian membuat Jacky menerima Penghargaan Ma'arif pada 2007 atas kontribusinya dalam memperkuat hubungan lintas agama di Indonesia.

Selama menjalankan misi perdamaian, ia juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ancaman pembunuhan hingga pembakaran rumah. Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan komitmennya untuk terus memperjuangkan rekonsiliasi dan kerukunan.

Masuknya nama Jacky Manuputty dalam 22 sosok Buku Reset Indonesia dinilai sejalan dengan semangat buku tersebut, yakni menghadirkan figur-figur yang tidak hanya memiliki gagasan, tetapi juga rekam jejak dalam mendorong perubahan mendasar bagi Indonesia.

Selama lebih dari dua dekade, Jacky konsisten membangun perdamaian lintas agama, memperjuangkan hak masyarakat adat, mengadvokasi lingkungan hidup, hingga memperkuat ruang dialog di tengah masyarakat yang majemuk.

Rekam jejak tersebut menjadikannya bukan hanya seorang pemimpin gereja, tetapi juga salah satu tokoh masyarakat sipil yang berperan dalam mendorong perubahan sosial, kemanusiaan, dan kerukunan di Indonesia.