Tren Pasar

Produsen INACO (JELI) IPO Juli 2026, Cek Kelayakan Belinya

  • PT Niramas Utama Tbk (JELI), pemilik merek INACO, segera IPO. Simak jadwal, kinerja keuangan, valuasi, penggunaan dana, serta prospek saham JELI.
173910.jpg
Inaco Jelly. (Inaco)

JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Niramas Utama Tbk, produsen makanan dan minuman yang dikenal melalui merek INACO, bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).

IPO JELI menjadi salah satu penawaran saham yang menarik perhatian investor pada pertengahan 2026. Selain membawa nama besar INACO yang telah dikenal masyarakat selama lebih dari tiga dekade, perusahaan juga menawarkan cerita transformasi bisnis yang unik, pendapatan cenderung menurun, tetapi laba justru melonjak tajam berkat efisiensi operasional.

Pertanyaannya, apakah saham JELI layak dilirik investor? Berikut ulasan lengkap mengenai jadwal IPO, kinerja keuangan, valuasi, hingga prospek bisnis perusahaan.

IPO JELI Targetkan Dana Hingga Rp392 Miliar

PT Niramas Utama Tbk menggunakan kode saham JELI dan akan melepas sebanyak 350 juta saham baru atau setara 25,93% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.

Dalam masa penawaran awal (bookbuilding) yang berlangsung pada 15–22 Juni 2026, perusahaan menawarkan saham pada kisaran harga Rp900 hingga Rp1.120 per saham.

Dengan rentang harga tersebut, perseroan berpotensi menghimpun dana segar hingga sekitar Rp392 miliar. Adapun jadwal IPO JELI adalah sebagai berikut,

• Masa bookbuilding: 15–22 Juni 2026
• Perkiraan efektif OJK: 29 Juni 2026
• Masa penawaran umum: 1–3 Juli 2026
• Penjatahan saham: 3 Juli 2026
• Distribusi saham elektronik: 6 Juli 2026
• Pencatatan saham perdana di BEI: 7 Juli 2026

PT Sucor Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek dengan skema full commitment.

Baca juga : IPO SpaceX Pecahkan Rekor Dunia, Valuasi Tembus Rp37.380 T

Siapa Pemilik Merek INACO?

Nama Niramas Utama mungkin tidak terlalu populer di kalangan investor ritel. Namun produk-produknya sangat akrab di masyarakat Indonesia.

Perusahaan berdiri pada tahun 1990 dan dikenal sebagai produsen nata de coco, jeli, puding, minuman berbasis kelapa, hingga berbagai produk makanan olahan lainnya dengan merek utama INACO.

Selama lebih dari 35 tahun, INACO berhasil mempertahankan posisi sebagai salah satu merek nata de coco paling dikenal di Indonesia. Produk-produknya tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga telah diekspor ke berbagai negara di Asia, Amerika, Australia, hingga Eropa.

Keunggulan lain yang dimiliki perusahaan adalah jaringan distribusi yang luas dengan lebih dari 250 titik distribusi yang menjangkau berbagai wilayah Indonesia.

Laba Melonjak 235%, Meski Penjualan Menurun

Salah satu hal yang paling menarik dari prospektus JELI adalah lonjakan laba bersih yang sangat signifikan dalam dua tahun terakhir.mPada tahun buku 2025, perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp39,03 miliar.

Angka tersebut melonjak lebih dari 235% dibandingkan tahun sebelumnya dan jauh lebih tinggi dibanding laba tahun 2023 yang hanya sekitar Rp1,68 miliar.

Menariknya, kenaikan laba tersebut tidak berasal dari pertumbuhan penjualan. Pendapatan perusahaan justru mengalami penurunan dari Rp838,94 miliar pada 2023 menjadi Rp753,05 miliar pada 2025.

Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan keuntungan lebih banyak berasal dari strategi efisiensi operasional dan perbaikan struktur biaya.

Bada juga : Penutupan LQ45 Hari Ini 15 Juni 2026 Ditutup Naik 27,23 ke 624,68 Poin

Margin laba kotor perusahaan meningkat dari sekitar 29,4% menjadi 38,6%, menandakan manajemen berhasil mengendalikan biaya produksi dan distribusi secara lebih efektif.

Bagi investor, kondisi ini dapat dibaca dalam dua perspektif. Di satu sisi, kemampuan meningkatkan profitabilitas merupakan sinyal positif yang menunjukkan kualitas manajemen.

Namun di sisi lain, perlambatan pertumbuhan pendapatan tetap menjadi perhatian karena menunjukkan tantangan dalam memperluas pasar atau meningkatkan volume penjualan.

Untuk Apa Dana IPO Digunakan?

Sebagian besar dana IPO akan digunakan untuk ekspansi bisnis. Sekitar 51,04% dana hasil penawaran umum akan disalurkan ke anak usaha PT Niramas Pandaan Sejahtera (NPS).

Dana tersebut akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi gummy candy dan produk jelly yang dipandang sebagai segmen pertumbuhan baru perusahaan.

Sebanyak 18,36% dana akan digunakan sebagai belanja modal untuk pembelian mesin dan peralatan guna meningkatkan kapasitas gudang serta logistik.

Sekitar 10,63% dana akan dipakai untuk membayar sebagian pinjaman jangka pendek kepada Bank Mandiri. Setelah pembayaran tersebut, saldo pokok pinjaman perusahaan diperkirakan turun dari sekitar Rp94 miliar menjadi Rp54 miliar.

Sisa dana sekitar 19,97% akan digunakan sebagai modal kerja untuk mendukung operasional sehari-hari, termasuk pembelian bahan baku dan kebutuhan produksi.

Baca Juga : IHSG Melesat, Akankah Reli Berlanjut atau Hanya Euforia Sesaat?

Valuasi JELI: Mahal atau Masih Menarik?

Bagian yang paling banyak menjadi perhatian investor adalah valuasi IPO. Pada harga penawaran Rp900 hingga Rp1.120 per saham, JELI diperdagangkan pada Price to Earnings Ratio (PER) sekitar 30 hingga 39 kali.

Sementara Price to Book Value (PBV) perusahaan mencapai sekitar 8,32 kali. Valuasi tersebut tergolong premium dibandingkan sejumlah emiten makanan dan minuman yang sudah lama tercatat di BEI.

Sebagai perbandingan,

• Mayora Indah (MYOR) memiliki PER sekitar 18–22 kali.
• Garudafood (GOOD) diperdagangkan pada PER sekitar 22–25 kali.
• Ultra Jaya (ULTJ) memiliki PER sekitar 11–14 kali.

Artinya, investor yang membeli saham JELI pada harga IPO membayar valuasi yang lebih tinggi dibanding sejumlah pemain besar di sektor yang sama.

Valuasi premium tersebut hanya dapat dibenarkan apabila perusahaan mampu mempertahankan pertumbuhan laba yang tinggi dan menjalankan ekspansi bisnis secara sukses dalam beberapa tahun mendatang.

Baca juga : IHSG Hari Ini 15 Juni 2026 Ditutup Naik ke 6.254,97 Poin

Dari sisi peluang, JELI memiliki beberapa katalis positif yang cukup menarik. Pertama, merek INACO sudah memiliki reputasi kuat dan loyalitas konsumen yang tinggi.

Kedua, ekspansi kapasitas produksi gummy candy dan produk jelly berpotensi membuka sumber pertumbuhan baru yang lebih tinggi dibanding bisnis tradisional nata de coco.

Ketiga, perusahaan berencana memperluas penetrasi pasar internasional, termasuk kawasan Afrika dan Eropa yang memiliki potensi konsumsi besar. Selain itu, tren makanan sehat dan produk berbasis kelapa juga berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan jangka panjang.

Namun sejumlah tantangan juga perlu diperhatikan investor. Persaingan di industri makanan olahan semakin ketat, baik dari pemain lokal maupun global.

Harga bahan baku seperti kelapa, gula, dan bahan pendukung lainnya juga dapat memengaruhi margin keuntungan perusahaan. Selain itu, daya beli masyarakat yang masih berfluktuasi menjadi faktor eksternal yang dapat memengaruhi penjualan produk konsumsi.

Layakkah Saham JELI Dikoleksi?

IPO JELI menawarkan kombinasi menarik antara merek yang kuat, profitabilitas yang membaik, dan rencana ekspansi yang agresif.

Perseroan berhasil menunjukkan kemampuan meningkatkan laba secara signifikan melalui efisiensi operasional, sekaligus menyiapkan fondasi pertumbuhan baru melalui pengembangan kapasitas produksi dan ekspansi pasar.

Namun investor juga perlu mencermati dua faktor utama, yakni tren pendapatan yang masih menurun serta valuasi IPO yang relatif premium dibanding emiten sejenis.

Bagi investor jangka panjang yang percaya pada kekuatan merek INACO dan potensi ekspansi bisnis perusahaan, JELI bisa menjadi saham yang menarik untuk dipantau.

Sebaliknya, bagi investor yang sangat memperhatikan faktor valuasi, harga penawaran akhir akan menjadi penentu utama apakah IPO ini masih menawarkan margin of safety yang memadai atau tidak.