Productivity Guilt: Perasaan Bersalah Karena Merasa Tak Produktif
- Dampaknya tentu saja akan mengorbankan kesehatan fisik dan mental Anda

Rumpi Rahayu
Author


JAKARTA - Di dunia yang serba cepat dan sibuk ini, tuntutan untuk terus produktif dirasakan oleh hampir semua orang.
Orang-orang berusaha keras menggunakan waktu mereka semaksimal mungkin. Seperti mengikuti kursus, memulai bisnis, hingga melakukan banyak kegiatan kreatif. Pada intinya, mereka ingin melakukan lebih banyak kegiatan produktif setiap harinya.
Memang tidak ada yang salah menjadi seseorang yang produktif, namun semuanya menjadi berbeda ketika Anda merasakan perasaan negatif seperti cemas dan perasaan bersalah ketika merasa tidak cukup produktif atau tidak melakukan cukup banyak kegiatan secara berlebiha sementara pada kenyataannya, Anda telah melakukan yang terbaik.
- Waduh! Mantan Karyawan OpenAI Ini Peringatkan Potensi Bencana dari Kecerdasan Buatan
- Wow, Belanja di Central Park Bisa Dapat 20 Tiket VIP Gratis Final Indonesia Open 2023
- Kualitas Udara di Jakarta Kembali Memburuk Usai Lebaran, Cilandak Terparah
Istilah untuk menyebut perasaan ini adalah productivity guilt. Melansir dari berbagai sumber productivity guilt adalah perasaan malu, cemas, bersalah atau kecewa yang terkait dengan keyakinan bahwa Anda belum cukup berprestasi atau bekerja cukup keras.
Mark Travers Ph.D, seorang psikolog Amerika menulis untuk Psychology Today, rasa bersalah ini mengarah pada pikiran yang mengganggu. Anda mungkin akan merasa bahwa Anda tidak cukup baik atau Anda tidak mampu. Dan pada akhirnya, perasaan ini dapat menyebabkan Anda kewalahan dengan tugas yang ada dan menyebabkan task paralysis, yaitu sejenis kelumpuhan kognitif dimana Anda pada akhirnya tidak melakukan apa-apa.
Travers bahkan menyebut bahwa tak sedikit klien yang datang kepadanya mengeluh mereka merasakan kekecewaan karena ketidakmampuan dalam mencapai tujuan suatu tugas. Mereka biasanya mengucapkan kalimat-kalimat seperti:
“Saya tidak bisa bangun pagi. Saya merasa seperti kehilangan jam-jam paling produktif dalam sehari.”
“Saya tahu saya menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menonton televisi. Tapi sepertinya saya tidak bisa menahannya.
“Setiap kali saya perlu menyelesaikan sesuatu, saya memiliki dorongan yang hampir tak tertahankan untuk melakukan sesuatu yang lain daripada apa yang seharusnya saya lakukan. Apa yang salah dengan saya?"
Productivity guilt tentu tak baik untuk Anda karena bisa berubah menjadi jenis produktivitas yang beracun di mana Anda mengisi setiap menit waktu Anda dengan aktivitas kerja. Dampaknya tentu saja akan mengorbankan kesehatan fisik dan mental Anda

Drean Muhyil Ihsan
Editor
