Prinsip ESG Harus Menjadi Tren Industri Dalam Negeri
- Menurut Marwan, saat ini prinsip ESG tengah menjadi tren yang bersifat global, dan Indonesia pun harus bisa beradaptasi dengan kecenderungan tersebut untuk mempertahankan arus modal yang masuk ke industri.

Idham Nur Indrajaya
Author


JAKARTA - Prinsip keberlanjutan yang berkaitan dengan lingkungan (environmental), sosial (social), dan tata kelola (governance) atau ESG pada gilirannya mau tidak mau harus diikuti trennya oleh industri dalam negeri.
Menurut Direktur Eksekutif Indonesian Resource Studies (Iress) Marwan Batubara, saat ini prinsip ESG tengah menjadi tren yang bersifat global, dan Indonesia pun harus bisa beradaptasi dengan kecenderungan tersebut untuk mempertahankan atau menumbuhkan arus modal yang masuk ke industri.
"Saya kira, mau nggak mau, kalau itu menjadi tren global, lalu yang punya uang mau investasi itu mempersyaratkan (implementasi ESG) itu, mau nggak mau harus ikut," ujar Marwan kepada TrenAsia, Selasa, 23 Agustus 2022.
Marwan pun memberi contoh dari sisi industri energi. Apabila produsen masih menggunakan pembangkit listrik yang mengandalkan energi fosil sementara dunia sudah mengedepankan ESG sebagai prinsip dalam menjalankan aktivitas industri, konsekuensinya produsen itu akan lebih kesulitan untuk memperoleh modal dari investasi.
Ditambah lagi, tidak bisa dipungkiri bahwa industri dalam negeri pun masih mengandalkan arus modal asing untuk keperluan bisnisnya sehingga prinsip ESG yang tengah menjadi tren global tidak bisa lagi diabaikan atau dipandang sebelah mata.
"Tidak mungkin juga kita menjadi anomali dari arus besar, mau tidak mau kita harus ikut menyesuaikan diri," tegas Marwan.
Marwan pun mengemukakan bahwa penerapan standar ESG di pasar modal memang perlu digenjot implementasinya.
Pasalnya, sebelum ESG menjadi tren pun sebenarnya sudah ada peraturan-peraturan yang mewajibkan industri untuk mempertanggungjawabkan aktivitas bisnis dalam bingkai sosial, lingkungan, dan tata kelola.
Meski demikian, peraturan itu rupanya tidak cukup karena pada faktanya masih banyak pelaku industri yang melanggar.
"Aturan main itu sengaja dilanggar. Di mana-mana begitu. Di sektor energi, di sektor tambang, ada aturan. Tapi, tidak dipedulikan," ungkap Marwan.
Oleh karena itu, dengan adanya penerapan standar ESG di pasar keuangan dalam negeri, maka para pelaku industri pun mau tidak mau harus mengedepankan prinsip tersebut untuk menjaga arus modal yang masuk.
- Hari Indonesia Menabung, Bos OJK Galakkan Program KEJAR dan SiMuda bagi Pelajar dan Mahasiswa
- Ditopang Harga Komoditas, Laba Bersih Medco Energi (MEDC) Melejit 480 Persen Jadi Rp4,01 Triliun
- Harga CPO Naik, Laba Perusahaan Sawit Milik Konglomerat Suwandi Widjaja Melonjak 76 Persen
Penerapan ESG akan memberikan citra positif bagi pelaku industri sehingga investor pun akan lebih tertarik untuk menyuntikkan modal.
Marwan pun mengungkapkan bahwa implementasi ESG di Indonesia masih kurang diperhatikan di sektor batu bara.
Menurut Marwan, harus ada regulasi yang tegas dari pemerintah agar para pengusaha batu bara bisa memitigasi kerusakan lingkungann yang disebabkan oleh aktivitas penambangan.
Pasalnya, kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas industri batu bara masih terjadi di Indonesia dan hal itu perlu menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah.
ESG di Indonesia
Sebagai informasi, Indonesia saat ini berada di peringkat ke-36 dari 47 pasar modal dunia dalam hal penerapan prinsip ESG.
Sementara itu, negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Filipina dan Malaysia menempati peringkat di atas Indonesia. Filipina menduduki peringkat ke-30 sementara Malaysia berada di peringkat ke-20.
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati pun sempat mengungkapkan bahwa pemerintah akan terus berkomitmen untuk mendukung pencapaian prinsip ESG untuk pembangunan yang berkelanjutan.
Tidak hanya dari pemerintah, sektor swasta pun memiliki peranan yang penting untuk meniscayakan prinsip ESG di Indonesia.
"Kami meningkatkan kesadaran para investor serta mengadaptasi standar-standar kualitas yang saat ini juga sudah menjadi golden standard secara global, yaitu ESG, untuk kualitasi pembangunan infrastruktur dan pengambilan keputusan investasi," ujar Sri Mulyani melalui keterangan tertulis beberapa waktu lalu.
- BI Resmi Luncurkan 7 Uang Rupiah Baru Emisi 2022
- Diklaim Lebih Sulit Dipalsukan, Ini Penampakan 7 Uang Rupiah Baru Emisi 2022
- Simak Update Peraturan dan Persyaratan Perjalanan Dalam Negeri Terbaru
Generasi Muda Lebih Tertarik untuk Berinvestasi di Perusahaan yang Terapkan ESG
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengungkapkan bahwa generasi muda, khususnya dari kalangan milenial, lebih tertarik untuk berinvestasi dengan prinsip berkelanjutan.
Menurut studi, investor yang berada di rentang usia 18-36 tahun mengemukakan bahwa pada rata-ratanya mereka mengalokasikan 41% dari portofolionya untuk berinvestasi di instrumen yang menerapkan prinsip ESG.
"Investasi tersebut dilakukan pada produk-produk perusahaan dan lembaga yang memiliki kegiatan bisnis yang mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan," ujar Mahendra dalam diskusi Literasi Keuangan Indonesia Terdepan berjudul "Sustain Habit in Investing, Invest in Sustainable Instruments" beberapa waktu lalu.
Mahendra mengemukakan, jumlah investor pasar modal per Juni 2022 telah tumbuh 370% dari 2,5 juta pada tahun 2019 menjadi 9,3 juta.
81% dari investor pasar modal itu berasal dari kalangan milenial dan generasi Z. Oleh karena itu, penerapan prinsip ESG pun menjadi semakin penting untuk industri.
Ke depannya, OJK pun akan terus mendorong penerbitan indeks yang berorientasi kepada penerapan prinsip ESG.

Fakhri Rezy
Editor
