Potensi Rebound BBRI di Tengah Kinerja dan Kredit yang Solid
- Di tengah tekanan pasar, BBRI tetap menunjukkan fundamental solid dengan pertumbuhan kredit, kualitas aset, dan dividen yang kuat.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Ketika harga sahamnya sempat menyentuh level terendah lima tahun, banyak investor mulai bertanya-tanya, apakah ini tanda bahaya, atau justru peluang emas?
Di tengah kegamangan tersebut, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) baru saja membuktikan jika fundamental perusahaan tetaplah pijakan utama.
Sepanjang kuartal pertama 2026, laba bersih konsolidasian BBRI melesat hingga Rp15,5 triliun, atau tumbuh 13,7% secara tahunan. Lonjakan ini terutama ditopang oleh peningkatan pendapatan bunga bersih yang mencapai 11,9% year-on-year (yoy), mencapai sekitar Rp40,16 triliun.
Kinerja BBRI
Kinerja BBRI pada kuartal I-2026 menunjukkan fundamental yang tetap kuat, baik dari sisi penyaluran kredit, kualitas aset, maupun pendanaan. Di tengah tantangan ekonomi global, bank pelat merah ini masih mampu menjaga pertumbuhan bisnis secara konsisten dengan fokus utama pada segmen UMKM.
Dari sisi intermediasi, total kredit yang disalurkan BBRI hingga Maret 2026 mencapai Rp1.562 triliun atau tumbuh 13,68% secara tahunan (yoy). Segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tetap menjadi tulang punggung bisnis perseroan dengan porsi kredit mencapai Rp1.211 triliun.
Baca juga : MAPI dan BBTN Jadi Rekomendasi di Indeks LQ45 Hari Ini
Strategi ini dinilai sejalan dengan kebijakan pemerintah terkait penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) berbunga maksimal 5% melalui bank-bank Himbara.
Beberapa aspek krusial kinerja BBRI antara lain:
- Penyaluran kredit mencapai Rp1.562 triliun, tumbuh 13,68% yoy
- Kredit UMKM mendominasi dengan nilai Rp1.211 triliun
- Rasio kredit bermasalah (NPL) turun dari 3,07% menjadi 3,01%
- Loan at Risk (LaR) membaik dari 11,1% menjadi 9,7% yoy
- Rasio pencadangan (NPL coverage) mencapai hampir 180%
- Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 9,4% yoy menjadi Rp1.555 triliun
- Dana murah (CASA) naik 13,2% yoy menjadi Rp1.058,6 triliun
- Cost of Fund (CoF) turun dari 3% menjadi 2,3% pada kuartal I-2026
Perbaikan kualitas aset menjadi salah satu sorotan utama. Penurunan NPL dan LaR menunjukkan risiko kredit mulai lebih terkendali, sementara tingginya rasio pencadangan memperlihatkan kehati-hatian manajemen dalam menjaga stabilitas keuangan perseroan.
Dari sisi pendanaan, pertumbuhan CASA yang kuat turut membantu menurunkan biaya dana perusahaan. Penurunan CoF menjadi sinyal positif karena dapat mendukung margin bunga bersih (NIM) dan profitabilitas BBRI ke depan.
Pergerakan Harga (2026)
Meski mencatat kinerja fundamental yang solid, pergerakan saham BBRI belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan bisnis perseroan. Tekanan pasar dan sentimen eksternal membuat saham perbankan, termasuk BBRI, sempat mengalami koreksi cukup dalam sepanjang beberapa bulan terakhir.
Pada akhir April 2026, saham BBRI bahkan sempat menyentuh level terendah dalam lima tahun di posisi Rp2.990 per saham. Dalam sebulan terakhir, harga sahamnya tercatat turun hingga 11,98%. Memasuki awal Mei 2026, pergerakan BBRI masih berada di kisaran Rp3.130–Rp3.190 atau belum mampu kembali ke atas level psikologis Rp3.300.
Namun, tanda-tanda pemulihan mulai terlihat pada perdagangan Kamis, 7 Mei 2026, ketika saham BBRI melonjak 4,75% dan ditutup di level Rp3.310 per saham.
Data pergerakan saham BBRI:
- Sempat menyentuh level terendah lima tahun di Rp2.990
- Harga saham turun 11,98% dalam satu bulan terakhir
- Awal Mei 2026 bergerak di kisaran Rp3.130–Rp3.190
- Pada 7 Mei 2026 naik 4,75% ke level Rp3.310
- Harga saat ini masih di bawah level psikologis Rp3.300
- Rata-rata target harga analis masih berada di atas Rp4.100–Rp4.400
Dividen Jumbo, Pendorong Gairah Investor
Bagi investor yang mengincar pendapatan pasif, BBRI punya daya tarik tersendiri, dividen jumbo dan loyalitas tinggi terhadap pemegang saham.
- Untuk tahun buku 2025, BBRI membagikan total dividen tunai sebesar Rp52,1 triliun atau setara Rp346 per saham.
- Dividen tersebut terdiri dari:
- Dividen interim Rp137 per saham, yang telah dicairkan pada 15 Januari 2026
- Dividen final Rp209 per saham, yang dijadwalkan cair pada 8 Mei 2026
- Rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) BBRI mencapai sekitar 92%, menunjukkan komitmen tinggi perusahaan dalam membagikan laba kepada pemegang saham.
Direktur Utama BBRI, Hery Gunardi, menyatakan bahwa sejak 2021 rasio pembayaran dividen BBRI selalu berada di atas 80%. Imbal hasil dividen (dividend yield) BBRI berada di kisaran 10%–11% per tahun, lebih tinggi dibandingkan rata-rata bunga deposito.
Konsistensi pembagian dividen menjadi salah satu daya tarik utama BBRI, terutama di tengah kondisi pasar global yang masih fluktuatif. Investor juga perlu memastikan saham tercatat pada recording date agar berhak menerima dividen yang dibagikan perusahaan.
Baca juga : IHSG Dibuka Turun Tipis Jelang Akhir Pekan, Ini Data Lengkapnya
Rekomendasi Analis: Kompak Optimistis
Optimisme terhadap BBRI masih tercermin dari pandangan mayoritas analis pasar modal. Sejumlah sekuritas besar tetap memberikan rekomendasi positif terhadap saham BBRI, didukung fundamental yang dinilai kuat, kualitas aset yang membaik, serta prospek pertumbuhan kredit yang masih solid.
Mayoritas analis bahkan menilai harga saham BBRI saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya, sehingga ruang kenaikan (upside) dinilai masih cukup terbuka.
Berikut sejumlah rekomendasi dan target harga analis untuk saham BBRI:
- Konsensus Bloomberg (35 analis)
- 82,9% analis merekomendasikan Buy
- Target harga rata-rata: Rp4.136
- Per 8 Mei 2026
- KB Valbury Sekuritas
- Rekomendasi: Buy
- Target harga: Rp4.470
- Berdasarkan valuasi P/B 2026 sekitar 2x
- Rilis 9 Maret 2026
- Maybank Sekuritas Indonesia
- Rata-rata target harga dari 21 analis: Rp4.422
- Target tertinggi mencapai Rp4.900
- Potensi kenaikan diperkirakan 36,1%
- Per April 2026
- CGS International Sekuritas Indonesia
- Rekomendasi: Add
- Target harga: Rp3.800
- Menilai BBRI masih memiliki momentum ekspansif
- Per 8 Mei 2026
- Mandiri Sekuritas
- Rekomendasi: Buy
- Target harga: Rp4.100
- Menyoroti kualitas aset dan profitabilitas yang kuat
- Per 8 Mei 2026
- Mirae Asset Sekuritas Indonesia
- Target harga terbaru: Rp3.220
Selain itu, rata-rata target harga 12 bulan dari 21 analis yang dihimpun berada di level Rp4.264 per saham. Sementara itu, konsensus Bloomberg menempatkan target harga rata-rata di Rp4.136.
Jika dibandingkan dengan harga penutupan BBRI pada 8 Mei 2026 yang berada di kisaran Rp3.350, para analis melihat masih terdapat ruang upside yang cukup menarik bagi investor.
Valuasi: Masih Terjangkau?
Setelah koreksi yang cukup dalam, valuasi BBRI mulai terlihat lebih menarik. Saat harga saham tertahan di Rp3.140, rasio PER TTM berada di 8,06 kali, sementara PBV (Price to Book Value) hanya 1,39 kali.
Sementara itu, nilai PBV historis BBRI biasanya rata-rata berkisar antara 1,7x hingga 2x. Saat ini, saham diperdagangkan sedikit di bawah standar deviasi -1 kali dari rata-rata historis, yang menunjukkan valuasi yang cukup murah secara historis.
Dengan target harga analis yang rata-rata berada jauh di atas harga saat ini, pasar menilai BBRI masih undervalued.
Kombinasi antara dividen jumbo yang konsisten, rentang target harga analis yang masih jauh di atas harga pasar (potensi upside antara 23%–36% dalam 12 bulan), serta peran strategis BBRI sebagai tulang punggung pembiayaan UMKM menjadikannya salah satu emiten paling prospektif di sektor perbankan Indonesia saat ini.
Bagi investor yang mencari stabilitas jangka panjang dan pendapatan pasif, BBRI layak masuk radar utama.
Namun, bagi yang mengincar keuntungan jangka pendek, volatilitas harga yang terbukti mampu mencatatkan lonjakan 4,75% dalam sehari juga menyisakan ruang gerak yang menarik.

Muhammad Imam Hatami
Editor
