Tren Global

Porsi Petani Muda Cuma 12 Persen, Karanganyar Darurat Regenerasi Petani

  • Persentase petani milenial di Karanganyar, Jawa Tengah, saat ini baru menyentuh angka 12 persen, masih jauh dari standar nasional yang berada di angka 40 persen.
Petani milenial Shofyan Adi Cahyono.
Petani milenial Shofyan Adi Cahyono. (instagram.com/shofyanadic)

KARANGANYAR, TRENASIA.ID– Suasana semarak menyelimuti Umbul Setumpeng, Desa Gantungan, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, Kamis, 24 September 2026. Ratusan warga dan petani berkumpul memperingati Hari Tani Nasional ke-66 yang digelar bersama Tani Merdeka Jawa Tengah.

Dalam momentum tersebut, Tani Merdeka Jawa Tengah mendorong percepatan regenerasi petani di Kabupaten Karanganyar. Pasalnya, persentase petani milenial di Bumi Intanpari saat ini baru menyentuh angka 12 persen, masih jauh dari standar nasional yang berada di angka 40 persen.

Ketua Tani Merdeka Jawa Tengah, Wawan Pramono, menegaskan pihaknya siap mendukung petani sekaligus mendorong kemajuan potensi wisata di Umbul Setumpeng. Menurutnya, sektor pertanian harus didorong menjadi lebih modern, berkelanjutan, dan mandiri melalui penguatan pasar hulu-hilir serta regenerasi penanam modal manusia.

"Ini yang mendesak adalah regenerasi petani. Saat ini petani kita rata-rata berusia 55 tahun. Di Karanganyar petani milenial baru 12 persen, padahal standar nasional 40 persen," tegas Wawan yang juga Anggota DPRD Karanganyar Fraksi Partai Gerindra tersebut.

Sementara itu, Kepala Desa Gantungan, Suwito, mengungkapkan bahwa Gantungan merupakan satu-satunya desa di Kabupaten Karanganyar yang konsisten menggelar peringatan Hari Tani Nasional setiap tahun. Meski kemarau panjang membuat debit air berkurang, ia tetap optimistis para petani setempat mampu melewati musim dengan hasil panen yang baik.

Apresiasi senada disampaikan Sekretaris Kecamatan Mojogedang, Joko Purwanto, yang memuji peran penting petani sebagai pahlawan pangan. Ia berharap pengembangan komoditas tidak hanya terfokus pada padi, tetapi juga merambah ke sektor hortikultura seperti melon dengan pendampingan berkelanjutan.

Dalam sesi dialog, warga dan petani memanfaatkan kesempatan untuk menyampaikan aspirasi. Perwakilan P3A, Suwarto, mengeluhkan saluran air dari Karangpandan menuju Umbul Setumpeng yang mengalami banyak kebocoran sehingga membutuhkan jaringan irigasi baru. 

Warga lain, Pak Sri, menyoroti tebing lokasi wisata yang longsor serta tingkat kunjungan wisatawan Umbul Setumpeng yang belum pulih pascapandemi.

Menanggapi keluhan tersebut, Wawan Pramono menyarankan warga menyusun proposal resmi ke Kementerian Pertanian terkait perbaikan irigasi dan berjanji akan mengawalnya. Ia menyebut berkas pengajuan tersebut juga telah disiapkan oleh Hasyim Asyari dan diperkirakan terealisasi pada 2027. 

Adapun untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata lokal, Wawan mendorong pemuda desa untuk gencar mempromosikan Umbul Setumpeng melalui media sosial.

Tulisan ini telah tayang di soloaja.co oleh Kusumawati pada 25 Sep 2026 

Tags: