PNBP Nikel Capai Rp21 Triliun, Sejauh Mana Hilirisasi di RI?
- Hilirisasi nikel meningkatkan ekspor dan penerimaan negara. Namun, Indonesia masih perlu memperkuat industri lanjutan agar nilai tambah baterai kendaraan listrik tercipta

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Hilirisasi nikel mulai memberikan kontribusi terhadap peningkatan nilai ekspor dan penerimaan negara Indonesia.
Namun, pengembangan industri pengolahan nikel masih menghadapi tantangan untuk memperpanjang rantai produksi hingga bahan baku baterai kendaraan listrik, sel baterai, dan produk manufaktur akhir di dalam negeri.
Nilai ekspor nikel dan barang daripadanya mencapai US$6,54 miliar pada semester I 2026, meningkat 69,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari komoditas nikel mencapai Rp21 triliun hingga 31 Agustus 2026, naik dari Rp10 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan tersebut menunjukkan besarnya aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan komoditas nikel. Meski demikian, peningkatan ekspor dan penerimaan negara belum sepenuhnya menggambarkan sejauh mana Indonesia berhasil menguasai rantai nilai industri nikel dari hulu hingga hilir.
Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai hilirisasi telah menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Namun, sebagian besar pengolahan nikel masih berfokus pada produk antara, seperti nickel pig iron (NPI) dan feronikel yang banyak digunakan dalam industri baja nirkarat atau stainless steel.
Baca juga : Menilik Ekspor Gas Singapura di Tengah Kebutuhan Domestik
“Ini merupakan fondasi industrialisasi, tetapi belum menjadi tujuan akhir. Tahap berikutnya adalah memperpanjang rantai produksi hingga prekursor, katoda, sel baterai, dan manufaktur akhir yang melibatkan lebih banyak pemasok dalam negeri,” ujar Yusuf, dikutip Antara, Rabu, 28 Oktober 2026.
Menurut dia, pengembangan industri lanjutan menjadi langkah penting agar manfaat hilirisasi tidak berhenti pada peningkatan produksi dan ekspor bahan olahan. Semakin panjang rantai produksi yang dapat dikerjakan di dalam negeri, semakin besar pula peluang Indonesia memperoleh nilai tambah dari sumber daya mineralnya.
Ekspor dan PNBP Nikel Meningkat, Industri Lanjutan Jadi Tantangan
Peningkatan ekspor nikel sebesar 69,3% menjadi US$6,54 miliar pada semester I 2026 memperlihatkan perkembangan perdagangan komoditas tersebut. Pada saat yang sama, PNBP nikel yang mencapai Rp21 triliun hingga akhir Agustus 2026 menunjukkan kontribusi komoditas ini terhadap penerimaan negara.
Namun, penguatan industri nikel tidak hanya bergantung pada volume produksi dan nilai ekspor. Kemampuan menghasilkan produk dengan tingkat pengolahan lebih tinggi juga menjadi faktor penting untuk memperbesar manfaat ekonomi dari hilirisasi.
Dalam rantai industri baterai kendaraan listrik, pengolahan nikel dapat berlanjut dari bijih menjadi produk antara, kemudian menjadi prekursor dan katoda sebagai material utama baterai. Tahapan berikutnya mencakup produksi sel baterai hingga manufaktur produk akhir.
Pengembangan setiap tahapan tersebut membutuhkan investasi, teknologi, tenaga kerja terampil, serta jaringan pemasok yang memadai. Karena itu, tantangan hilirisasi Indonesia bukan hanya meningkatkan kapasitas pengolahan nikel, melainkan juga membangun ekosistem industri yang mampu menyerap hasil pengolahan tersebut menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi.
Salah satu upaya memperluas pemanfaatan nikel Indonesia terlihat melalui proyek hilirisasi PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Perusahaan yang merupakan bagian dari holding pertambangan Indonesia MIND ID tersebut mengembangkan proyek pengolahan nikel menggunakan teknologi high pressure acid leach (HPAL) di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako.
Ketiga proyek tersebut disebut memiliki kapasitas produksi gabungan sekitar 240.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun. Sementara itu, program investasi strategis Vale di Indonesia disebut mencapai sekitar US$7,2 miliar.
Teknologi HPAL memungkinkan bijih nikel limonit berkadar rendah diolah menjadi MHP, yakni produk antara yang mengandung nikel dan kobalt. Material tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku dalam tahapan produksi material baterai kendaraan listrik.
Penggunaan HPAL menjadi salah satu jalur pengolahan yang memungkinkan pemanfaatan bijih limonit untuk mendukung rantai pasok baterai. Meski demikian, produksi MHP belum sama dengan produksi katoda atau sel baterai, sehingga diperlukan tahapan pengolahan lanjutan untuk menghasilkan produk tersebut.
Yusuf menilai proyek Vale berpotensi memperluas pemanfaatan sumber daya nikel nasional sekaligus membuka akses Indonesia terhadap rantai pasok global yang lebih beragam.
“Selain memperluas pemanfaatan sumber daya, proyek ini juga membuka akses ke rantai pasok global yang lebih beragam. Namun, MHP tetap merupakan produk antara. Dampak proyek tersebut terhadap industrialisasi akan lebih besar apabila MHP diproses lebih lanjut di Indonesia menjadi prekursor, katoda, dan sel baterai,” sambungnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan proyek pengolahan nikel tidak hanya perlu dilihat dari besarnya investasi dan kapasitas produksi. Kemampuan menghubungkan fasilitas pengolahan dengan industri lanjutan di dalam negeri juga menentukan besarnya nilai tambah yang dapat dipertahankan Indonesia.
Baca juga : KUR BRI Capai Rp144,59 Triliun, Pertanian Jadi Penerima Terbesar
Investasi US$4,5 Miliar di Pomalaa
Salah satu proyek utama dalam pengembangan rantai pasok nikel untuk baterai adalah proyek HPAL Pomalaa. Proyek tersebut dikembangkan melalui PT Kolaka Nickel Indonesia bersama Ford Motor Co. dan Zhejiang Huayou Cobalt.
Nilai investasi proyek Pomalaa disebut mencapai US$4,5 miliar, dengan kapasitas produksi hingga 120.000 ton nikel terkandung dalam MHP per tahun.
Keterlibatan perusahaan otomotif dan perusahaan pengolahan material baterai menunjukkan hubungan antara industri pertambangan, pemrosesan mineral, dan kebutuhan bahan baku kendaraan listrik. Kerja sama tersebut berpotensi memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan pasok industri baterai global.
Meski demikian, peningkatan kapasitas produksi MHP perlu diikuti pengembangan fasilitas pengolahan lanjutan agar sebagian besar tahapan penciptaan nilai tidak berhenti pada produk antara.
Pengembangan industri prekursor, katoda, dan sel baterai di dalam negeri dapat membuka peluang bagi perusahaan lokal untuk masuk ke rantai pasok yang lebih kompleks. Hal ini juga berpotensi mendorong peningkatan kemampuan teknologi dan memperluas jenis kegiatan industri yang tumbuh di sekitar kawasan pengolahan nikel.
Selain pendalaman proses produksi, keterlibatan pemasok dalam negeri menjadi faktor penting dalam memperbesar dampak hilirisasi nikel terhadap perekonomian nasional dan daerah.
Rantai industri yang semakin panjang berpotensi menciptakan kebutuhan terhadap berbagai barang dan jasa pendukung, mulai dari komponen industri, jasa rekayasa, logistik, pemeliharaan fasilitas, hingga layanan teknis. Namun, manfaat tersebut bergantung pada kemampuan perusahaan domestik memenuhi kebutuhan industri dan masuk ke dalam rantai pasok.
Baca juga : Omzet Produk UMKM di SRC Tembus Rp12,9 T, Naik 128 Persen Sejak 2023
Karena itu, pengembangan industri lanjutan perlu disertai penguatan kapasitas pemasok lokal, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan pengembangan teknologi. Tanpa keterlibatan pelaku usaha domestik yang lebih luas, dampak ekonomi dari investasi berisiko terkonsentrasi pada kegiatan pengolahan tertentu.
Bagi daerah penghasil nikel, pendalaman rantai nilai juga berpotensi memperluas kesempatan usaha di luar aktivitas pertambangan dan pengolahan awal. Peluang tersebut dapat berkembang melalui tumbuhnya industri pendukung dan manufaktur yang memiliki keterkaitan langsung dengan ekosistem baterai.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan hilirisasi tidak hanya terletak pada kenaikan ekspor nikel dan penerimaan negara, tetapi juga pada kemampuan Indonesia membangun industri lanjutan yang kompetitif.

Muhammad Imam Hatami
Editor
